
Tak terasa waktu libur kami tersisa tiga hari lagi, setelah aku beristirahat karena cekikan waktu itu aku dan yang lainnya pun mulai mengikuti agenda petualangan di sekitar villa merah ini.
Sungguh petualangan itu sangat seru dan menyenangkan, kami berkemah di kaki gunung mahoni yang ada di balik bukit Alas Sirno.
Untuk menuju kaki gunung itu kami harus menempuh perjalanan berhari hari dan setelah sesampainya di sana kami pun berkemah dan juga menikmati indahnya danau hijau di sana. Kemudian kami pun pulang setelah sampai pada waktu yang di tentukan. Pulangnya kami di jemput oleh kendaraan khusus gunung dan ketika itu aku sempat bertanya kepada supir kendaraannya karena merasa kesal.
" Kalau bisa menggunakan kendaraan ini kenapa kami harus turun naik bukit? "
Supir itu tertawa kecil kemudian sang supir itu pun menjawab.
" Banyak yang berpikir seperti itu, karena mereka tidak tahu lelahnya naik turun bukit itu akan memberikan kesan yang tak ingin mereka lupakan. "
Penjelasannya membuat aku berpikir sebaliknya, karena aku tidak mau lagi mengingat betapa lelahnya petualangan itu.
Kemudian setelah sampai di Villa merah dan mendapatkan kabar kalau kami akan segera kembali ke Yayasan rumah batin barulah disitu aku sadari bahwa petualangan itu memang sangat berkesan dan membuatku ingin berpetualang menuju ke kaki gunung mahoni itu lagi.
" Tok tok tok. "
Suara ketukan pintu terdengar dan membuat pikiranku beralih dari lamunan tentang petualangan yang seru itu. Aku beranjak dari kasurku untuk pergi membukakan pintu.
" Airin ayo kita kebawah! Barangnya biarkan saja, nanti karyawan yang bawa ke bawah. "
Dengan pakaian rapi dan wajah yang ceria Riana mengajakku untuk turun ke bawah.
" Apakah yang lainnya sudah menunggu di bawah? "
Tanyaku kepadanya.
" Tidak, mereka belum turun! kita akan turun bersama sama dengan mereka. "
Jawab Riana dan kemudian dia pun menarik tanganku untuk mengetuk pintu dan mengajak yang lainnya untuk turun bersama lalu setelah itu kami pun turun bersama sama.
Sesampainya kami dibawah, kami pun langsung di persilahkan untuk makan siang bersama dengan ibu Martina. Kemudian setelah selesai menyantap makan siang kami pun berpamitan kepada ibu Martina sebelum kami masuk ke dalam bus dia pun memberikan kami bingkisan untuk kami bawa pulang.
" Terimakasih banyak ya Bu! "
Ucap ka Amara dengan senyuman yang tulus ketika ibu Martina memberikan kami bingkisan.
" Iya sama sama. "
Jawab Bu Martina dengan anggun.
Kemudian ka Amara pun menyuruh kami untuk bersalaman dengan ibu Martina sebelum kami masuk ke dalam bus lalu pergi meninggalkan villa merah.
Huh! Kegembiraan mengapa selalu cepat berakhir sedangkan duka akan sebaliknya. Setelah kami sampai di yayasan nanti, kami akan rapat membicarakan tentang pembukaan kos-kosan sejenak dan kemudian kami pun akan beristirahat sampai esok hari. Kemudian keesokan harinya kami akan menyebarkan brosur untuk menarik perhatian orang agar mau mengisi ruangan kosong kami sebagai kos-kosannya.
" Huuh.. "
Satu persatu dari kami menguap karena udara AC bus yang sangat sejuk ini mengundang rasa kantuk.
" Ayo semuanya bangun! "
Setelah cukup lama ka Aditya pun membangunkan kami dan kami merasa perjalanan pulang seakan begitu cepat karena sepanjang perjalanan kami terlelap.
Setelah bangun dari tidur, kami pun langsung turun dan membantu ka Aditya untuk menurunkan barang barang kemudian diletakkan di tempatnya masing-masing. Kemudian kami pun berkumpul di ruang tamu untuk berdiskusi tentang rencana pembukaan kos-kosan lalu kami pun setuju akan mulai beraksi besok.
Untuk besok yang harus kami lakukan adalah mengambil barang-barang berharga milik para mantan pemilik kamar dan menyimpannya di gudang. Kemudian pada hari selanjutnya kami akan mengatur dan menghias yayasan ini sesuai seperti tempat kos-kosan pada umumnya, kami juga akan membuatkan aturan dan juga yang lainnya.
Di hari ketiga baru kami akan menyebarkan brosur untuk menarik perhatian orang orang agar mau menyewa kos-kosan yang kami sediakan.
Kemudian setelah itu pada hari keempat adalah waktu dimana aku dan Riana harus berpamitan kepada ka Aditya, ka Amara, Dara, dan juga Gita. Di hari keempat nanti adalah saatnya aku dan Riana untuk berangkat keluar kota untuk menuju kota lain tempat universitas kami berada.
Ucap ka Aditya setelah kami selesai berdiskusi.
Kami semua mengangguk dan kemudian kami pun langsung pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan mengumpulkan energi agar bisa beraksi dengan baik di esok hari.
" Sampai jumpa nanti di makan malam! "
Ucap Riana sebelum dia masuk kedalam kamarnya.
" Sampai jumpa. "
Jawab aku, Gita, dan dara sebelum akhirnya kami pun bersama masuk kedalam kamar masing-masing.
" Tut... Tut... Tut... "
Pada saat aku baru saja masuk kedalam kamar, aku pun mendengar suara Hp yang berbunyi dan suaranya terdengar dari dalam lemariku.
" Huh. "
Dengan lesuh aku pun menghampiri lemari untuk melihat hp ku.
" Ka Adit! Eh tapi kok hp ku masih hidup ya? Padahal kan gak pernah aku charge."
Ucapku setelah aku melihat hp ku dan kemudian aku pun mengangkat panggilan dari Kaka pertamaku itu.
" Halo Rin! "
Ka Adit menyapaku lebih dulu.
" Iya kak? Kaka apa kabar? "
Tanyaku dengan sejuta rasa rinduku kepadanya.
" Kaka baik baik aja gimana dengan kamu? Apakah kamu baik baik saja? Maaf ya Kaka baru hubungi kami sekarang. "
Ucap ka Aditya menanyakan kabarku dengan suaranya yang aku rindukan itu sehingga membuat lelah perjalananku tadi lenyap seketika.
" Syukurlah kalau begitu, oh iya ngomong ngomong bagaimana dengan sekolahmu? Tahun ini kamu lulus sekolah kan. "
Ucap ka Adit.
" Alhamdulillah sekolah aku baik! Dan aku ada kejutan buat kaka! "
Ucapku dengan sangat gembira karena aku tidak sabar ingin bilang kepadanya kalau aku mendapat peringkat sebagai siswi kelulusan terbaik dan juga mendapatkan beasiswa.
" Oh ya? Apa itu? "
Tanya ka Adit dengan penasaran dan kemudian aku pun membuat dia semakin penasaran sebelum aku memberitahu dia soal prestasi yang kudapatkan.
" Apa Rin? Jangan buat kaka penasaran! "
Ucap ka Adit yang mulai kesal dan kemudian aku pun langsung menjawabnya lalu dia pun terdengar sangat gembira.
Dia bilang dia sangat bangga kepadaku dan kemudian dia pun bertanya kepadaku tentang universitas yang aku pilih beasiswanya kemudian aku pun menjawab kalau aku sudah memilih beasiswa dari universitas swasta di kota yang tidak terlalu jauh dari kediaman orang tua kami.
" Apa? "
Ka Adit kaget setelah tau aku memilih universitas itu dan kemudian telpon pun terputus. Aku merasa kalau ka Adit tau hal janggal dari universitas itu.
– Bersambung –