
Setelah hari yang melegakan kemarin berlalu, kini kami harus bangun pagi-pagi sekali karena kami akan berangkat ke taman makam tempat keluarga besar yayasan rumah batin yang meninggal sebagai korban tragedi villa merah silam dimakamkan.
Kami harus berangkat pagi karena jam sepuluh nanti kami akan ada jadwal untuk mendaki bukit yang bertempat tepat di belakang villa merah ini.
" Tok! Tok! Tok! "
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali hingga membuatku terbangun dari tidur dan kemudian aku pun pergi untuk melihatnya.
" Oh kamu Riana, ayo masuk! "
Ucapku kepadanya setelah aku membuka pintu dan melihatnya yang berdiri dengan sudah berpakaian rapi dan serba hitam.
" Kok kamu belum apa apa sih Rin? Kita sebentar lagi sudah harus ada di bus loh! "
Riana menyoroti aku dengan matanya yang terlihat kesal itu dan bertanya kepadaku.
" Aku baru bangun tidur Riana, Untung saja kamu ketuk pintu kalau tidak mungkin aku bakalan lebih terlambat lagi. "
Jawabku sembari mengucek mataku yang masih terasa berat untuk dibuka.
" Ih! Ya udah sana mandi! "
Ujar Riana mendorongku hingga seketika aku terkejut dan kantukku pun menghilang.
" Iya... iya... "
Ucapku dengan lemas dan kemudian aku pun langsung mengambil handuk lalu dengan rasa malas aku pun melangkah dengan berat menuju ke kamar mandi karena rasa kantukku datang kembali.
" Airin! Cepat! "
Teriak Riana sehingga membuatku kembali terkejut dan kemudian langkah ku yang tadinya berat akhirnya menjadi ringan. Aku melangkah dengan cepat dan juga mandi dengan cepat karena teriakan Riana yang membuatku bagaikan orang yang latah.
Bagaimana tidak? Dalam keadaan yang masih mengantuk berat aku diperintahkan dengan teriakan yang tak terduga sehingga membuat aku yang masih dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar sehingga bisa dengan mudah membuat aku mengikuti perintahnya.
" Huh! "
Aku menghembuskan nafas lega. Setelah selesai mandi, aku pun tak menyangka kalau aku bisa bergerak secepat tadi.
" Rin! Kamu kilat banget deh. "
Ucap Riana tercengang melihat gerakan cepat ku barusan.
" Ini semua berkat kamu. "
Sahutku dan kemudian aku pun berjalan menuju lemari dan memilih baju gaun hitam yang akan ku kenakan untuk mengunjungi taman makam nanti.
" Sudah selesai nih! Ayo kita temui yang lainnya! "
Ajakku setelah aku selesai mengenakan gaun hitam yang ku pilih tadi.
" Ya udah ayo! "
Ucap Riana dan kemudian kami pun langsung meninggalkan kamarku lalu kami pun pergi memeriksa kamar ka Amara, Dara dan yang lainya untuk mengajak mereka bersama turun kebawah namun mereka pun tidak ada. Sepertinya mereka sudah lebih dulu pergi ke bawah.
" Ya udah kita langsung ke bus aja! "
Ajakku kepada Riana dan kemudian Riana pun mengangguk. Kemudian kami pun langsung saja berlari-lari kecil karena kami khawatir mereka sudah menanti kami dengan kesal dan tidak sabaran.
" Maaf. "
Henti staf wanita.
" Ada apa kak? Kami buru-buru. "
Ucap Riana yang memasang wajah panik.
" Bapak Aditya menyuruh saya untuk memanggil kalian berdua! Bapak Aditya dan yang lainnya menunggu kalian berdua di restoran. "
Jelas staf itu dengan sangat lembut dan sopan.
" Huh! "
Aku dan Riana lega setelah tau kalau mereka ternyata masih sarapan dan belum menunggu kami di bus.
" Terimakasih ya kak. "
Ucapku dan kemudian staf itu pun tersenyum dan mengangguk sambil menjawab.
" Sama sama kak! Mari saya antar. "
Kami berdua pun mengikuti staf itu yang sedang senang hati mau mengantarkan kami ke restoran untuk sarapan pagi.
Ucap staf itu dengan ramah dan mempersilahkan aku beserta Riana untuk duduk di kursi yang khusus untuk kami para anggota yayasan rumah batin.
" Apakah kami terlambat? "
Tanyaku kepada siapapun yang akan menjadi lebih dulu dari antara mereka yang sudah lebih dulu duduk menungguku dan juga Riana.
" Enggak kok Rin! Kami juga belum begitu lama duduk disini. "
Jawab ka Amara sambil tersenyum manis.
" Oh, syukurlah! Soalnya tadi kami khawatir kalian sudah menunggu di bus dengan ekspresi kesal. "
Ujar Riana dengan lega.
Sambil menunggu sarapan tiba, kami pun berbincang-bincang untuk menghindari datangnya rasa bosan hingga akhirnya sarapan pagi pun dihidangkan untuk kami.
" Silahkan di nikmati hidangannya! "
Ucap ramah seorang pelayan restoran setelah dia dan kedua temannya selesai menghidangkan sarapan untuk kami. Kemudian mereka pun pergi untuk melayani pengunjung yang lainnya.
Hidangannya sangat menggugah selera dan kemudian kami pun mulai untuk menyantap hidangan yang sudah disediakan.
" Ayo Gita sedikit lagi! kasihan nasinya nanti nangis, ayo habiskan kami tungguin kok. "
Ucap ka Amara merayu Gita agar menghabiskan makanannya. Belakangan ini nafsu makannya menurun.
" Iya ka. "
Jawab Gita dengan murung dan berberat hati untuk menghabisi makannya.
Beberapa saat kemudian kami pun selesai sarapan dan kemudian kami pun langsung saja pergi ke halaman depan untuk menunggu bus keluar dari parkiran.
" Permisi mbak Amara! "
Staf pria berbadan tegap menghampiri kami ketika kami sedang menanti ka Aditya yang baru saja pergi untuk membawa bus keluar dari parkiran.
" Iya mas ada apa ya? "
Tanya ka Amara kepada staf itu.
" Saya Rahman, supir mobil yang di utus ibu Martina untuk mengantarkan kalian ke taman makam Kamboja. "
Jelasnya kepada ka Amara.
" Oh gitu ya pak, kalau begitu kita sama-sama tunggu bus-nya keluar dari parkiran di sini ya pak. "
Jawab ka Amara dengan sangat ramah dan lembut.
" Tidak perlu mbak! Untuk berjalan menuju ke taman makam Kamboja tidak bisa dilalui oleh bus. Ibu Martina sudah menyiapkan mobil untuk mengantarkan kalian ke sana. "
Staf itu menolak untuk menunggu bus karena ternyata perjalanan menuju pemakaman harus ditempuh dengan mobil atau mini bus yang sudah disediakan khusus untuk mengantarkan kami ke pemakaman Kamboja itu.
" Oh begitu ya pak? "
Ucap ka Amara dan kemudian staf pria itu menjawabnya hanya dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah.
" Adik adik ikut dengan bapak itu nanti Kaka akan menyusul. "
Ucap ka Amara yang terlihat hendak pergi entah kemana.
" Kaka mau kemana? "
Tanya dara dengan dengan polos lalu ka Amara pun bilang kalau dia ingin memanggil ka Aditya dan memberitahunya bahwa kita tidak akan pernah bersama bus yayasan itu, namun setelah mendengar jawaban ka Amara, staf pria itu pun memberi tau kalau ka Aditya sudah ada di mobil yang akan kami kendarai.
" Mari ikut saya! "
Ajak staf pria itu dan kemudian kami pun mengikutinya pergi menuju ke mobil yang akan kami kendarai.
" Silahkan masuk! "
Staf pria itu membukakan pintu tengah untuk aku, ka Amara, dan Riana duduk. sedangkan Gita duduk di samping supir bersama ka Aditya. Setelah dipastikan bahwa semuanya siap mobil pun mulai dijalankan untuk pergi menuju ke taman makam Kamboja, tempat dimakamkannya sebagian keluarga besar yayasan rumah batin.
–Bersambung–
Catatan:
Ibu Martina adalah nama asli dari ibu pemilik villa merah. nama lengkapnya adalah Martina Sukati