
Begitu pagi tiba kami pun bersiap untuk memasak sarapan sendiri dan setelah seperti memasak kami pun langsung sarapan bersama.
" Pagi ini kamu akan mengantarkan kami ke perpustakaan kan Ra? "
Tanyaku kepadanya dan kemudian dia pun menjawab.
" Tapi bukannya kamu bilang aku tidak boleh ikut serta ya? "
Sambil mengambil sesendok nasi dia kembali bertanya kepadaku.
Sepertinya dia salah menangkap perkataan yang semalam aku bilang kepadanya. Memang benar sebaiknya dia tidak ikut serta akan tetapi kami membutuhkan bantuan darinya untuk mencari data mahasiswa yang pernah berkuliah di universitas ini.
" Iya sih Ra... Tapi kan kami butuh petunjuk untuk memecahkan kasus ini dari orang yang sudah mengenal banyak tentang universitas ini. "
Jawabku dengan bingung dan kemudian dia pun terdiam lalu menatapku dengan tatapan jutek.
" Kalau begini artinya aku juga ikut serta dong. "
Ucapnya dengan datar dan kemudian dia pun lanjut memilih lauk pauk yang dia sukai.
" Ya iya sih.. tapi kalau cuma bantu hal yang beginian gak papa kok asalkan kamu gak ikut bantu menghadapi tantangan gaibnya. "
Ucapku dengan santai dan kemudian aku juga mulai mengisi piringku dengan nasi dan lauk sesuai porsi makanku.
" Iya deh ayo makan dulu. "
Klara setuju dan setelah sarapan kami akan pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari buku data mahasiswa universitas ini.
Waktu yang kami habiskan untuk sarapan dan juga membereskan segala sesuatu di kamar kami kira kira memakan waktu sekitar satu jam setelah.
Begitu semuanya beres kami pun langsung pergi menuju ke perpustakaan yang berada dekat dengan gedung praktek pisikolog yang mana perpustakaan adalah bekas paviliun keluarga Valen sedangkan gedung praktek adalah bekas rumah keluarga Valen.
Tadinya Keyla memilih untuk tinggal tetapi dia berubah pikiran setelah aku, Klara dan Airin keluar dari dalam kamar. Katanya lebih baik dia ikut dengan kami dan ketakutan bersama kami daripada dia tinggal dan ketakutan sendiri.
" Selamat pagi! "
Penjaga perpustakaan menyambut kami dengan ramah.
" Pagi. "
Kami berempat menjawabnya dengan tersenyum ramah.
Penjaga perpustakaan itu menyuruh kami untuk mengisi data kami terlebih dahulu untuk dimasukkan ke komputernya agar dia dapat mendata dengan mudah ketika kami hendak meminjam buku.
Setelah selesai mendata kami penjaga itu pun memperkenalkan dirinya kepada kami. Namanya adalah Maria Margaretha dan kami cukup memanggilnya ibu Margaret saja.
Dia pun mempersilahkan kami untuk mencari buku sesuai keinginan kami setelah dia memperkenalkan dirinya. Sambil tersenyum kami pun mengangguk lalu masuk untuk segera mencari buku data mahasiswa universitas ini.
Kami mencarinya cukup lama dan buku itu tidak kunjung kami dapatkan hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk memeriksanya kembali dengan teliti. Kami berpencar untuk mencari buku itu dan tetap saja tidak ketemu.
Kami bingung dan sempat komplain kepada Klara hingga kemudian Klara pun memutuskan untuk bertanya kepada penjaga perpustakaan tentang buku data mahasiswa universitas swasta ini.
" Halo nak! ada yang bisa ibu bantu? "
Ucap ibu Margaret ketika melihat kami menghampirinya dengan wajah yang resah.
" Begini buk.. kami sedang mencari buku data mahasiswa universitas tapi setelah kami cari buku itu tidak ada kami dapatkan bahkan kami juga sudah mencarinya berulang-ulang. "
Jelas Klara dengan lembut dan disertai oleh rasa resah yang juga kami rasakan karena tidak mendapatkan buku yang kami cari.
" Oh buku data mahasiswa universitas ya? Buku Itu ada pada saya, kalau boleh tau buat apa kalian mencari buku itu? "
Ibu Margaret menjawab Klara dengan santai dan kemudian dia pun balik bertanya sambil memasang ekspresi wajah yang penasaran.
Pertanyaan itu membuat Klara kelihatan bingung dan akhirnya aku pun angkat bicara.
Seketika ibu Margaret terlihat syok ketika mendengar jawaban dariku.
" Kenapa bu? Apakah ada yang salah? "
Tanyaku dengan khawatir dan kemudian ibu itu duduk di kursinya dengan masih memasang tampang yang syok di wajahnya.
" Ibu kenapa bu? Ibu baik-baik saja kan bu? "
Tanyaku yang mulai khawatir melihatnya.
" Untuk apa kalian mencari datanya? Kamar itu sudah lama tidak ada yang menempati dan seluruh data mahasiswa di buku itu sangatlah bersifat privasi! Tidak boleh melihat buku itu jika tidak ada hal yang mendesak. "
Ujar ibu Margaret dengan panik.
Jika dilihat-lihat sepertinya ibu Margaret mengetahui sesuatu dan dia berusaha menutupinya dengan memberikan alasan untuk mencegah kami melihat buku data mahasiswa universitas. Mungkin ibu Margaret mengetahui sesuatu hal mengenai kamar nomor tiga belas yang menjadi misteri di universitas ini.
" Ibu baik-baik saja kan buk? Kenapa ibu panik seperti itu? Apakah ibu mengetahui sesuatu hal mengenai kamar nomor tiga belas? "
Tanya Riana kepadanya dengan raut wajah yang penasaran akan gelagat aneh yang ditujukan oleh ibu Margaret.
" Oh tidak, saya tidak apa-apa. Mengenai kamar nomor tiga belas saya tidak tahu apa-apa tentang hal itu! Saya melarang kalian untuk meminjam buku data mahasiswa karena itu sangat privasi tidak ada alasan lainnya kok! Lebih baik kalian cari buku novel saja, banyak yang menarik loh! "
Ibu Margaret menenangkan dirinya dan berusaha menjawab pertanyaan Riana dengan baik namun tetap saja dia menjawabnya dengan gugup dan panik.
Melihat gelagatnya itu kami semakin yakin bahwa ada yang dia sembunyikan dari kami. Terlihat dia berusaha menutupi suatu rahasia yang sepertinya dia sangat takut kalau rahasianya terbongkar.
" Maaf sebelumnya, melihat tingkah laku ibu membuat saya merasakan ada sesuatu yang ibu rahasiakan. Jujur saja kepada kami Bu! Pasti ibu tau suatu hal mengenai kamar nomor tiga belas kan buk! Beritahu kami Bu! "
Ucap Klara dengan nada yang mengancam sehingga membuat ibu Margaret terlihat semakin gugup dan panik.
" Kamu kenapa si Ra? Kamu membuat ibu Margaret semakin gugup tau! "
Aku menegur Klara dengan berbisik ke telinganya karena nada bertanyanya tadi kurang pantas untuk didengar oleh ibu Margaret.
" Aku gak sengaja, soalnya aku penasaran dengan jawabannya. "
Jawab Klara yang kembali berbisik ke telingaku dan kemudian dia pun terlihat merasa bersalah setelah aku tegur barusan.
" Maaf ya Bu! Si Klara memang kebiasaan ngegas kayak tadi jadi harap maklum. "
Ucapku kepada ibu Margaret untuk memohon maaf atas perilaku Klara barusan dan kemudian dia pun merespon permintaan maaf itu dengan senyuman.
" Iya tidak apa-apa kok. "
Ucap ibu itu yang masih terlihat gugup tapi terus berusaha untuk terlihat tenang.
" Kami mencari buku itu karena ada hal yang mendesak Bu, jadi sekarang kami boleh pinjam kan? "
Tanya Riana dengan lembut dan kemudian ibu Margaret pun kembali bertanya hal mendesak apa yang membuat kami harus meminjam buku itu.
Kemudian dengan tenang Riana pun menjawab kalau kami mencari buku itu karena ingin memecahkan kasus-kasus tempat sakral di universitas ini.
Mendengar itu ibu Margaret pun menjadi semakin syok dan langsung saja dia menyuruh kami untuk pergi dengan tidak hormat sehingga kami menjadi perhatian orang-orang yang ada disekitar.
" Pergi kalian! Jangan pernah mencoba untuk menganggu penghuni kelima tempat sakral yang ada di universitas ini! Jangan pernah! "
Bentak ibu Margaret dengan penuh amarah sehingga membuat kami merasa bersalah dan malu karena menjadi tontonan banyak orang.
Karena tidak mau keadaan menjadi semakin kacau, kami pun memilih untuk pergi dan nanti kami akan memikirkan cara lain untuk mendapatkan buku itu karena bagaimanapun aku dan Riana harus memecahkan khusus di universitas ini sesuai dengan amanat ka Amara sebelum kami datang ke sini.
–Bersambung–