The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.8 – Universitas kegelapan



Setelah aku dan ka Amara menceritakan hal-hal ganjil yang tadi ku alami kepada ka Aditya dan juga Riana, Ka Aditya pun mengambil tindakan dan kemudian dia memasukkan Dara dan Gita ke satu kamar yang sama dengan Darius dan Reihan. Lalu ka Aditya pun memberikan tembok gaib untuk melindungi semua orang yang ada di kamar itu dari ganggu makhluk gaib yang kembali menggangu yayasan ini.


Setelah itu kami pun langsung pergi ke Aula untuk ritual pemanggilan makhluk gaib. Ketika mereka datang nanti maka kami akan menanyakan ada maksud apa makhluk gaib itu datang dan bahkan menggangu yayasan ini.


Selama ini kami sudah jarang berhubungan dengan makhluk gaib, namun kini mereka kembali ingin berhubungan dengan kami. Kata ka Aditya kehadiran mereka saat ini bisa saja sebagai pertanda akan suatu malapetaka bagi kami.


" Amara dan Airin! Kalian ambil tiga belas lilin merah di lemari yang ada di ruang tamu! "


Perintah ka Aditya kepada aku dan ka Amara.


" Baiklah. "


Jawab ka Amara dan kemudian aku pun pergi ikut bersamanya untuk mengambil lilin merah itu.


Sedangkan ka Aditya dan Riana langsung saja pergi ke Aula dan menunggu di sana.


" Satu.. Dua... Tiga... Empat... Lima... Enam... Tujuan... Delapan... Sembilan... Sepuluh... Sebelas... Dua belas... Tiga belas! "


Ka Amara mengambil lilin satu persatu sambil menghitungnya hingga sebelas batang lili dan memberikannya kepadaku.


" Ayo kita ke Aula! "


Ujar ka Amara dengan tergesa-gesa dan kemudian dia pun jalan dengan cepat dan aku mengikutinya dari belakang.


" Creeet... Creeet... "


Lampu kembali berkedap-kedip. sepertinya para makhluk gaib itu tau kalau kami akan melakukan ritual pemanggilan terhadap mereka maka dari itu mereka mulai menggangu karena itu menggangu adalah ciri khas dari mereka yang ingin melihat kekhawatiran pada manusia yang di ganggungnya.


" Buatlah lingkaran dengan lilin merah itu dan kemudian kita masuk ke tengah tengah dan saling bergandengan tangan sesudah lilin dihidupkan! Lilin ini sebagai pembatas kita dengan makhluk gaib itu untuk berjaga-jaga jika nanti mereka memiliki maksud yang jahat. "


Jelas ka Aditya dan kemudian kami pun langsung melakukannya.


Setelah lingkaran selesai dibuat dari tiga belas lilin, kami pun masuk kedalamnya dan kemudian kami pun menghidupkannya.


" Mari saling bergandengan tangan! "


Ajak ka Aditya kepada kami setelah semua lilin merah dihidupkan.


Di dalam lingkaran lilin merah itu kami saling bergandengan tangan membetuk lingkaran kecil di tengah tengah tiga belas lilin merah yang masing-masing berjarak tiga Senti, kami melingkar saling membelakangi dan menghadap ke arah lilin.


" Mari kita mulai, pejamkan mata kalian semua dan panggil mereka dengan energi kalian! "


Ucap ka Aditya memberikan perintah lalu kami pun langsung melakukan perintahnya itu.


" Kalian teruslah seperti itu hingga ritual selesai! "


Ka Aditya kembali memberikan perintah.


" Baik! "


Jawab kami bertiga dengan kompak.


Aku, ka Amara dan Riana mulai memasang konsentrasi dan mulai mengeluarkan energi untuk memanggil makhluk gaib yang kami incar. Sedangkan ka Aditya tetap berkonsentrasi juga namun dia membuka matanya karena nanti dia yang akan berkomunikasi dengan makhluk gaib itu.


Kami bertiga terus mengeluarkan energi untuk memanggil makhluk gaib itu hingga akhirnya beberapa saat kemudian Aura negatif mereka sudah terasa dekat sekali dengan kami. Para makhluk gaib itu sudah datang.


" Ada apa memanggil kami? "


Terdengar suara ramai menyeramkan bertanya kepada ka Aditya.


" Siapa kalian? Kenapa datang ke yayasan ini dan menggangu makan kami? "


Tanya ka Aditya kepada mereka.


" Ha... Ha... Ha... Ha... "


Tawa ramai menyeramkan bergema di dalam Aula ini.


" Kenapa malah tertawa? Jangan pernah kalian bermain-main dengan kami! "


Gertak ka Aditya dengan geram.


" Kami tidak mau bermain-main dengan kalian! "


Jawab mereka dengan kompak dan menggertak.


" Lantas apa maksud dari kedatangan kalian? "


Ka Aditya kembali bertanya kepada mereka.


" Kami adalah pengganggu dari universitas kegelapan! Kami mengganggu karena kami tidak sabar menunggu kehadiran dua gadis indigo itu di universitas kegelapan! "


Jelas mereka dengan nada gila yang menyeramkan.


Dengan bingung Ka Aditya kembali bertanya kepada mereka.


" Kami menderita! Tolong ungkap kematian kami di universitas kegelapan itu! "


Jawab mereka dengan nada bicara mereka yang terdengar sangat sedih dan juga marah dan kemudian mereka pun langsung pergi dan menghilang begitu saja. Lampu yang sejak tadi berkedap-kedip dan juga hujan beserta petir pun langsung berhenti setelah kepergian para makhluk gaib itu.


Pesan terakhir mereka itu lumayan membingungkan dan membuat kami bertanya-tanya setelah ritual itu berakhir.


Kami mengerti jika mereka meminta tolong! Tetapi kami bingung dengan universitas kegelapan yang mereka bilang tadi.


" Siapa yang mau masuk universitas kegelapan? Emangnya ada universitas seperti itu? "


Ujar Riana dengan bingung dan bertanya-tanya.


" Mungkin ini ada hubungannya dengan universitas swasta yang akan kalian pilih itu. "


Saut ka Amara menjawab Riana .


" Maksud Kaka? "


Tanyaku penasaran kepada ka Aditya dengan apa yang maksud dari perkataannya barusan.


" Kaka juga tidak tau pasti, mungkin ada sisi gelap yang disembunyikan di universitas swasta itu! "


Jawab ka Amara sambil berpikir dengan ragu.


" Huh! Aku jadi penasaran dan udah gak sabar lagi pingin pergi ke universitas swasta itu! "


Ujar Riana dengan penasaran akan maksud dari universitas kegelapan yang dibilang oleh para makhluk gaib tadi.


" Sudahlah! Aku rasa mereka tidak menganggu kita lagi. "


Ucap ka Aditya dan kemudian dia pun meniup beberapa lilin merah yang ada di hadapannya lalu dia pun bangun dan mengajak kami untuk kembali ke kamar dan melihat keadaan Reihan.


" Apa aku dan Riana harus menghadapi ini lagi ka? "


Tanyaku kepada ka Amara pada saat perjalanan menuju kamar Darius dan Reihan.


" Mungkin iya. "


Dengan santainya ka Amara pun menjawab pertanyaanku.


" Aku masih belum siap ka! "


Ujar ku dengan gelisah, aku masih belum siap karena aku masih trauma dengan kejadian dua tahun lalu.


" Kamu harus siap! Ingat pesan terakhir dari Eyang Darmo! Eyang dulu bilang kepada Kaka kalau kita harus meneruskannya. "


Ucap ka Amara menyemangati aku dengan mengingatkan akan pesan terakhir dari Eyang Darmo dulu yang Eyang Darmo katakan kepadanya.


" Tapi ka? "


Ucapku yang masih merasa trauma akan berhubungan dengan alam gaib.


" Kamu pasti bisa. "


Jawab ka Amara yang kembali menyemangatiku.


" Ehem. "


Aku pun akhirnya tersenyum dan mengangguk karena mulai yakin setelah menerima dukungan yang diberikan oleh ka Amara kepadaku.


" krek. "


ka Aditya membuka pintu kamar dan kemudian kami pun masuk kedalam bersama sama.


" Bagaimana keadaannya? "


Tanya ka Aditya kepada Darius yang terlihat cemas duduk di samping Reihan yang masih belum sadarkan diri.


" Saya kurang tau kak, dari tadi dia masih belum sadar. "


Jawab Darius dengan panik.


" Jangan khawatir, dia akan baik baik saja. "


Ucap ka Aditya yang berusaha menenangkan pikiran Aditya.


– Bersambung –