The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.36 – 5 tempat sakral.2



" Ngomong ngomong kenapa dengan Belia Sarah Valen? Tadi sepertinya kamu terkejut ketika mendengar nama itu. "


Klara bertanya kepadaku setelah dia selesai bercerita.


" Em.. soal nama Belia Sarah Valen aku merasa nama itu ada hubungannya dengan sahabat gaibku. "


Jawabku menjelaskannya dengan singkat.


" Sahabat gaibmu? Maksudmu Belia Sarah yang pernah kamu ceritakan itu? "


Klara kembali bertanya dengan rasa penasarannya.


" Tunggu aku juga merasa begitu Rin! Aku baru merasakan bahwa sepertinya Belia Sarah Valen si korban pembunuhan itu ada hubungannya dengan Belia Sarah sahabatmu itu. "


Ujar Riana yang baru menyadari hal yang sama seperti apa yang telah aku pikirkan.


" Iya aku merasa kalau Belia yang kamu ceritakan tadi adalah Belia sahabatku. Aku yakin bahwa Belia Sarah Valen adalah Belia Sarah yang aku kenal. "


Jawabku dengan yakin karena sebelum aku berangkat ke universitas ini Belia datang menghampiriku lalu dia berpesan bahwa urusannya akan selesai di universitas ini.


" Selain tentang Belia, apakah kamu tau tentang hal yang lainnya? Sepertinya hal mengenai kejadian mistis yang ada di universitas ini contohnya? "


Tanya Klara dengan penasaran dan kemudian aku pun berpikir sejenak lalu aku pun langsung menceritakan semua kejadian mistis yang telah aku alami selama datang ke universitas ini.


Kejadian aneh yang pertama adalah gadis aneh yang aku temui di tangga menuju lantai tiga dan yang kedua adalah sebuah penjelajah waktu tentang kamar nomor tiga belas yang aku jalani ketika aku pingsan karena syok dengan kejadian gadis aneh sebelumnya. Tentang penjelajahan waktu di kamar nomor tiga belas belum terlalu jelas dan aku juga kurang mengerti dengan penjelajahan itu.


Semua kejadian mistis aku ceritakan kepada mereka bertiga dengan sangat detail dan setelah aku bercerita, mereka pun mengeluarkan berbagai konspirasi atas kejadian yang telah aku alami.


Konspirasi yang paling banyak dari mereka adalah konspirasi tentang kamar nomor tiga belas. Mereka bilang alasan sakralnya kamar nomor tiga belas mulai terungkap setelah mereka mendengar ceritaku.


Kata mereka alasan sakralnya kamar itu sudah cukup jelas dan untuk mengupas tuntas masalah itu kami hanya perlu mencari nama si korban dan pelaku yang aku lihat pada saat penjelajahan waktu.


Kata mereka mungkin dengan cara itu kami bisa menghapus satu tempat sakral di universitas ini untuk mengurangi keresahan mahasiswa dan juga mahasiswi yang menetap di asrama.


Klara tidak merasa pusing dengan keluhan yang aku katakan kepadanya, dengan santai dia bilang kalau ada buku yang menyimpan data-data orang yang pernah berkuliah di universitas ini.


Kata Klara buku itu ada di perpustakaan kampus, kemudian dengan semangatnya dia pun mengajak kami semua untuk mulai beraksi besok.


Dia yakin kasus kamar nomor tiga belas bisa terjawab dari buku itu karena kata Klara ceritaku tadi menjelaskan bahwa si korban adalah mahasiswi penghuni kamar sakral tersebut.


Klara sangat antusias membahas masalah ini karena katanya dia ingin merasakan bagaimanakah rasanya menjadi detektif. Dia sangat ingin menyelesaikan kasus ini walaupun berbahaya.


Aku sempat bertanya kepadanya apakah dia yakin dengan keinginannya ini karena sebelumnya dia sangat takut ketika aku menceritakan hal mistis di kamarku waktu itu.


Aku juga menyuruhnya untuk pikir-pikir lagi karena kasus ini berhubungan dengan alam gaib dan apapun yang berhubungan dengan alam gaib itu tidak semudah yang dibayangkannya. Tak hanya nyawa, jika dia berhasil selamat pun ada kemungkinan dia akan mengalami trauma jika mentalnya tidak kuat.


Agar dia tidak gegabah aku pun meminta dia untuk bertanya kepada Keyla tentang keisengan Keyla membuka portal gaib yang membuat Keyla trauma hingga saat ini.


Klara pun bertanya dan kemudian akhirnya dia pun berubah pikiran setelah mendengar kisah kelam si Keyla.


Bukannya melarang dia untuk ikut serta memecahkan kasus ini. Aku hanya ingin Klara membantu sewajarnya saja, tidak perlu sampai menganggap misi ini seperti permainan detektif karena resiko dari misi ini sangatlah berbahaya.


Aku tidak mau Klara celaka seperti teman-teman indigoku dulu. Kasus ini cukup akan menjadi misi bagiku dan Riana saja karena misi ini memang sudah menjadi kewajiban bagi kami berdua sebagai seorang yang mata batinnya terbuka.


Setelah memberikan pengertian terhadap Klara, aku dan Riana pun teringat untuk segera memagari kamar kami dan memberi si Keyla dan juga Klara sebuah pegangan untuk berjaga-jaga dari gangguan makhluk gaib.


Ka Amara pernah bilang kepada kami kalau


" Ketika ada seseorang yang tidak memiliki kemampuan khusus berniat mengusik makhluk gaib maka makhluk gaib itu sudah bersiap untuk mengusik orang itu lebih dulu. "


Maka dari itu aku dan Riana melindungi Keyla dan Klara dengan menggunakan pagar gaib dan pegangan agar mereka aman dari niat jahat para makhluk gaib yang merasa terancam dengan perbincangan kami tadi.


Aku harap semua kasus bisa kami pecahkan tanpa melibatkan korban jiwa dan juga orang yang tidak bisa melihat dua alam yang berbeda. Ini semua demi keamanan dan ketentraman bersama. Sekali lagi aku berharap supaya kasus ini bisa dituntaskan dengan lancar.


–Bersambung–