
Untung saja kekhawatiran itu tidak benar-benar terjadi. Ternyata si kembar Yana dan Yura masuk ke dalam dimensi alam bawah sadar karena mereka berdua sama sepertiku. Ternyata mereka juga memiliki indera keenam seperti diriku itu semua aku ketahui setelah jam dua belas siang tiba dan saat Titan keluar aku menjaga mereka berdua dari Titan. Tak disangka ternyata kami bertiga tertarik keluar dimensi alam bawah sadar setelah jam dua belas berlalu.
Aku sangat lega dan kemudian aku pun meminta mereka berdua untuk menceritakan tentang awal mula mereka memiliki indera keenam.
Dengan semangat mereka pun menceritakan awal mulanya kepadaku. Mereka bilang awal mereka bisa melihat alam yang berbeda adalah ketika mereka duduk di kelas delapan tiga tahun lalu. Waktu itu mereka menunggu jemputan pak Supri supir pribadi mereka yang biasa selalu menjemput mereka tepat waktu. Akan tetapi kala itu pak Supri tidak kunjung datang hingga akhirnya semua orang pun sudah pulang dan sekolahnya mulai sepi.
Tidak ada lagi orang di sekolahnya selain mereka berdua dan penjaga sekolah yang mulai mengunci pintu kelas-kelas di sekolah mereka.
" Yana.. Yura.. "
Tiba-tiba saja ada yang memanggil mereka.
Mereka jadi bingung dan penasaran lalu melihat kiri kanan dan ke sekitarnya untuk menemukan sumber suara itu namun mereka pun tidak melihat siapapun di sana.
Tak mau berpikir macam-macam akhirnya mereka pun mengabaikan suara itu dan tak lama setelah itu mereka pun kembali mendengar ada suara yang memanggil nama mereka.
Dengan penasaran akhirnya mereka pun menyuruh pemilik suara itu untuk muncul dihadapan mereka namun pemilik suara itu menolak dan hanya bilang kalau sudah tiba saatnya untuk si pemilik suara itu membuka mata batin si kembar dan setelah si pemilik suara itu diam akhirnya si kembar pun mulai bisa melihat dua alam yang berbeda. Begitu lah cerita singkat awal mula mereka memiliki indera keenam, mata batin, atau apapun itu.
Jika di pikir-pikir sepertinya kami menjadi sang indigo di waktu yang sama. Aku juga memiliki kemampuan untuk melihat dua alam yang berbeda mulai dari tiga tahun lalu ketika aku baru saja masuk di SMA pertamaku. Apakah ini memang sudah di rencanakan oleh mendiang Oppaku. Entahlah bagaimana ceritanya pokoknya aku ingin segera menjadi orang yang normal. Aku ingin mata batinku segera tertutup setelah aku memecahkan beberapa misteri yang kini sedang aku hadapi.
" Eh ternyata kalian sudah bangun! Ayo makan siang dulu! Ini mama udah beliin kalian nasi Padang loh! "
Ucap Tante Kirana yang baru saja datang dengan membawakan kantong plastik transparan yang berisikan nasi kotak Padang.
" Tante beli dimana? "
Tanyaku kepadanya dan kemudian dia pun menjawab kalau dia pesan delivery dan tadi dia keluar untuk mengambilnya di luar gerbang rumah sakit.
" Tante kami pamit ya! Airin titip Kaka baik-baik. "
Ucapku ketika hendak meninggalkan rumah sakit.
" Iya belajar yang pintar ya Rin. "
Jawab Tante Kirana sambil tersenyum dan kemudian gantian untuk aku berpamitan dengan si kembar. Kami bertukar nomor handphone untuk membahas tentang dimensi alam bawah sadar dan setelah itu kami pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit.
Kami pulang dengan mobil ka Adit yang di supir oleh Klara. Setelah sampai di rumah kami langsung memasukkan barang bawaan kami kedalam mobil lalu kami pun kembali ke kampus menggunakan mobil itu dengan izin Tante Kirana.
Kata Tante Kirana agar mudah berpergian bawa saja mobil ka Adit. Pada awalnya aku berpikir seperti itu tapi jika tanpa izin aku jadi merasa tidak nyaman. Untung saja Tante Kirana mewakili ka Adit untuk mengizinkan aku membawa mobil ini ke kampus.
" Semuanya sudah siap kan? Ayo masuk! Kita akan segera berangkat. "
Ucap Klara dengan bersemangat dan kemudian kami pun masuk lalu berangkat menuju kampus.
Hari ini adalah waktu ospek yang mungkin sudah terlambat untuk kami ikuti. Kami bingung harus memberikan alasan apa kepada senior karena kemarin aku sudah bilang kalau Tante Kirana sudah datang dan siap untuk menggantikan aku menjaga ka Adit. Jikalau saja senior belum mengetahui kalau sudah ada yang menggantikan aku menjaga ka Adit, itu bisa aku gunakan sebagai alasan.
Perjalanan menuju kampus kami isi dengan memutar lagu penyanyi kesukaanku, Billie eilish. Aku memutar lagunya dengan sangat kuat untuk menghilangkan rasa resah karena memikirkan apa yang akan kami hadapi nanti ketika sampai di kampus. Aku kurang siap untuk menerima sangsi dari pihak kampus dan juga pihak asrama nanti.
Aku harap semua pihak bisa memaklumi keterlambatan kami kembali ke kampus atau memberikan kami sangsi yang tidak terlalu berat.
–Bersambung–