The Darkness University: Breathing In Two Realms 3

The Darkness University: Breathing In Two Realms 3
Chapter.18 – Titik terang dari kasus Klara



Kami sudah diperjalanan berangkat ke luar kota. Mereka tidak membawa terlalu banyak persiapan karena ka Aditya bilang kalau setelah mereka mengantarkan aku dan Riana sampai ke tujuan, mereka akan beristirahat beberapa saat lalu mereka pun langsung pulang.


Dara dan Gita sempat protes karena kata mereka berdua, mereka ingin berjalan-jalan di lagi untuk mengisi hari libur mereka. Namun keputusan ka Aditya sudah tidak bisa di ubah lagi karena ada suatu hal yang penting dan harus segera ditanggapi, kata ka Aditya hal ini berhubungan dengan yayasan maka dari itu Dara dan Gita pun mencoba untuk mengerti. Walau begitu sudah mencoba untuk mengerti, mereka berdua pun masih saja bermuram durja sehingga membuat ka Aditya luluh dan memutuskan akan mampir ke tempat wisata yang terlihat di perjalanan. Kata ka Aditya kami akan berhenti sejenak setiap kali melihat ada wisata yang terdekat dengan jalan.


Disitu lah Dara dan Gita mulai ceria kembali. Ka Aditya bukanlah orang yang suka neko-neko, dia melakukan apa yang telah ia janjikan dan alhasil kami pun benar benar berhenti sejenak untuk mengunjungi setiap wisata yang kami lihat di sepanjang perjalanan.


Kami mampir hanya sekedar untuk berfoto dan juga membeli buah tangan yang khas dari tempat wisata itu. Terkadang kami juga membeli jajanan khas yang menggiurkan bagi kami.


Ka Aditya bilang kalau kami boleh minta apa saja selama mampir ke suatu wisata. Ka Aditya bilang dia akan mentraktir kamu sepuasnya, karena dia bilang ini sekali-kali dia ingin memanjakan kami.


Dia benar-benar tidak punya keluarga selain kami maka dari itu dia mau memanjakan kami karena dia ingin merasakan bagaimanakah kebahagiaan yang dirasakan seorang Kaka ketika melihat adik-adiknya bahagia. Dia mengatakan itu sambil tersenyum dan mata yang berbinar-binar sehingga membuat hati kami tersentuh.


Kami pun akhirnya memutuskan untuk diam diam memberikan sesuatu untuknya sebagai tanda terimakasih para adik kepada kakaknya. Kami akan memberikan sesuatu itu di saat kami akan berpisah nanti.


Waktu demi waktu sudah kami lewati bersama sama. Canda tawa yang terukir di hati ini, mungkin akan menjadi kenangan yang akan selalu kami rindukan.


Dua tiga tahun lalu kami sudah melalui suka duka bersama dan semua yang telah kami lalui bersama menjadi kami sangat dekat dan mengingat itu semua membuat aku kembali merasa berat untuk berpisah dengan mereka.


Hari sudah semakin gelap dan kami pun memutuskan untuk berhenti mengunjungi wisata apa pun yang kami jumpai pada saat waktu magrib tadi. Ka Aditya menyuruh kami untuk beristirahat karena perjalanan masih sangat jauh.


Ka Amara melihat jam tangannya dan kemudian dia pun bilang kalau kemungkinan kami akan sampai ditujuan pada pukul tujuh pagi.


Bicara mengenai ka Amara, semenjak di perjalanan dia jarang berkutik dan sepertinya dia menyembunyikan sesuatu yang sangat menakutkan dari kami semua. Ekspresi wajah panik dan ketakutan terlihat di wajahnya sejak tadi seakan dia baru saja mendapatkan kabar buruk.


Sepertinya hanya aku yang menyadari gelagat aneh ka Amara dan tepat sekali saat ini aku duduk bersebelahan dengannya. Aku akan mencoba untuk bertanya kepadanya ada apa dengannya, namun ketika aku menatap wajahnya dan hendak bertanya aku pun mendadak ragu sehingga aku mengurungkan niatku untuk bertanya. Aku akan mencoba untuk kembali bertanya setelah ka Amara terlihat agak lebih tenang.


Aku terus menunggu keadaan hati ka Amara membaik hingga akhirnya semua pun tidur kecuali aku, ka Amara, dan ka Aditya yang fokus menyetir Bus. Aku terus menantikan ketenangan ka Amara sehingga penantian itu akhirnya membuat aku mengantuk. Aku pun tertidur Karena aku tidak bisa menahan kantukku itu.


Seketika aku tertidur, aku pun langsung masuk ke dalam mimpi. Aku bermimpi kalau aku sedang berada di dalam kamar ka Amara dan disitu aku melihatnya yang sedang mengambil baju dan memasukkannya ke dalam tas. Aku bertanya kepadanya " untuk apa dia memasukkan baju itu kedalam tas? " Namun dia tidak mendengar aku dan bahkan sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku.


Aku pun terus memperhatikannya hingga akhirnya aku pun melihat Handphonenya berbunyi dan dia pun langsung mengangkat panggilan itu.


" Selamat siang! "


" Siang. "


Jawab ka Amara dengan datar dan sambil terus mengambil apa yang menurutnya harus dia masukkan kedalam tasnya.


" Apakah benar saya sedang berbicara dengan pengasuh dari yayasan rumah batin? "


Orang itu kembali bertanya kepada ka Amara dan kemudian ka Amara pun menjawab.


" Iya bener, saya adalah pengasuh dari yayasan rumah batin. Apakah ada yang bisa saya bantu? "


Ucap ka Amara dan kemudian orang itu pun bilang kalau sebenarnya dia adalah seorang dari pihak yang menyelidiki misteri kematian Klara. Dia bilang kalau dia sudah menemukan titik terang dari kasus ini. kata orang itu Klara meninggal dengan motif pembunuhan yang dilakukan oleh pihak keluarganya sendiri.


Kata orang itu, dia sudah melakukan interogasi kepada tersangka dan tersangka itu mengaku kalau alasan dari motif pembunuhan itu adalah Tumbal. Katanya tersangka mengaku kalau dia memiliki perjanjian dengan iblis untuk menumbalkan anaknya dan bahkan siapapun yang memiliki kemampuan untuk melihat dua alam yang berbeda. Tersangka juga berkata kalau dia sangat senang sekali karena dia sudah mengetahui pusat perkumpulan para orang yang dia incar itu. Dia menargetkan yayasan rumah batin sebagai tumbal berikutnya.


Mendengar itu ka Amara pun syok dan kemudian dia pun menutup panggilan itu dan langsung pergi keluar kamar. Aku mengikutinya dan ternyata dia pergi menjumpai ka Aditya yang sibuk membantu Dara dan Gita untuk mengangkut barang mereka ke Bus. Sepertinya ini adalah kejadian sebelum keberangkatan kami tadi. Aku melihat ka Amara menarik ka Aditya untuk menjauh dari Dara dan Gita.


Ka Amara menceritakan semua yang telah dia dengan dari panggilan tadi, dan kemudian ka Aditya pun langsung terlihat panik dan juga sedih.


" Ini tidak bisa dibiarkan Amara! Kita harus segera memutuskan perjanjian orang itu dengan iblis lalu kita harus mengadakannya kalau dia telah melakukan hal yang salah. "


Ujar ka Aditya kepada ka Amara.


" Bagaimana dengan Riana dan Airin? Kita harus mengantar mereka keluar kota! "


Jawab ka Amara lalu ka Aditya pun berpikir sejenak dan memutuskan untuk segera pulang setelah mengantar aku dan Riana ke luar kota. Katanya dia dan ka Amara harus segera menangani kejahatan iblis itu tanpa sepengetahuanku dan yang lainnya.


Aku rasa aku tidak sedang berada di alam mimpi. Sekarang aku sedang berada di penjelajahan waktu yang tanpa sengaja aku lakukan untuk menjawab kecurigaan-ku terhadap gelagat aneh ka Amara dan juga mengapa ka Aditya memutuskan untuk segera kembali setelah mengantar aku dan Riana sampai ke tujuan. Ini semua karena kasus menyeramkan yang datang dari balik misteri kematian Klara.


Aku merasa berduka atas kasus Klara dan merasa panik akan ancaman dari manusia yang diselimuti kejahatan itu. Aku harap ancaman itu tidak membuat aku kehilangan ka Aditya dan juga ka Amara.


–Bersambung–