
Ketika di sekolah Agung dan Anggi segera masuk ke dalam kelas mereka, Agung semalam telah membantu Anggi mengerjakan tugasnya, saat ini Anggi masih berjalan sedikit kesulitan.
Fadila yang tak sengaja melintas segera mendekat ke arah Anggi, melihat cara bejalan Anggi yang pincang, sebagai ketua kelas yang baik Fadila segera mencoba memapah nya, sementara tas Anggi di bawa oleh Agung.
Saat masuk ke dalam kelas mereka seketika mereka bertiga menjadi pusat perhatian teman teman sekelasnya, pasalnya bangku yang di duduki oleh Anggi dan Agung telah di coret coret. Bahkan beberapa ada gambar yang tidak senonoh.
Melihat hal itu Fadila jelas tak menyukainya, Fadila segera mengambil penghapus untuk segera menghilangkan coretan di bangku keduanya.
Agung menduga ini adalah perbuatan Angkasa yang kesal karena kemarin dirinya berani melawan, Agung jelas kesal karena perbuatan Angkasa menyerempet kepada Anggi yang jelas tak tahu apa apa.
Namun Agung masih harus mengontrol merahnya, Agung segera membantu Fadila menghapus coretan yang ada di sana. Anggi jelas merasa syok melihatnya.
"Ada yang tahu ini perbuatan siapa?" Fadila bertanya dengan lantang, membuat seisi kelas berdiam diri, wanita itu tak suka adanya pembulian di kelasnya, terlebih ia adalah pemimpin di kelas tersebut. "Awas jika salah satu di antara kalian semua ada yang melakukannya, maka aku sendiri yang akan membuat kalian menyesal."
"Sudah lah Nggi, sudah beres semuanya, kamu duduk aja lagi," ujar Fadila mempersilahkan Anggi untuk duduk.
Agung segera memberi Anggi air minum, kemudian duduk di bangkunya. Membuka tas Anggi dan mempersiapkan buku pelajarannya. "It's ok, aku akan jagain kamu ok?"
Anggi hanya mengangguk membenarkan ucapan Agung, setidaknya Agung akan selalu ada di sampingnya. Anggi juga bingung siapa yang pernah ia singgung? Padahal selama ini i terus menghindari selisih paham di antara teman sekolahnya.
Sat bel istirahat berbunyi, Agung segera mendekat ke arah Anggi. "Mau makan apa? Kamu di sini aja," ujar Agung membuat Anggi tersenyum.
"Roti sama air mineral aja," ujar Anggi.
Agung mengangguk, namun saat ingin keluar dari kelas tersebut tampak kelompok Angkasa the geng tengah memegang spidol warna warni di tangan mereka, bahkan Angkasa tampak berjalan ke arah Anggi saat ini.
Agung semakin waspada, memutar kembali langkahnya mendekat ke arah Anggi, pikirannya kembali saat mereka datang tadi pagi, untung ada Fadila yang membantunya membereskan kejadian tersebut.
"Eh apa mau mu? Jika kau marah pada ku soal yang kemarin dengan ku saja, jangan kemana mana," kesal Agung mendorong pundak Angkasa dengan kasar.
Angkasa yang tak pernah di perlakukan sekasar itu menjadi emosi, Angkasa mendekat dan menarik kerah baju Agung, Anggi yang melihat hal tersebut menadi terkejut sendiri. Anggi berusaha memisahkan keduanya dengan cara meminta tolong kepada taman sekelas yang memilih untuk menontonnya saja, bahkan dari kelas lain pun ikut menonton dari balik jendela.
Bukannya berpisah mere sehingga mereka justru semakin tersulut emosinya. Angkasa justru melayangkan tinju yang meleset dan mengenai lengan Anggi.
Melihat Anggi yang terjatuh akibat tinju salah sasaran, tentu semakin menyulut emosi Agung. Agung segera mendekat ke arah Angkasa, namun Angkasa yang telah telah belajar taekwondo sejak kecil mampu membaca gerakan dari Agung sehingga tinjuan dari Agung berhasil ia gagalkan dengan mudah.
Angkasa kemudian membalas tinju gagal tersebut, namun Agung dapat melihat gerakan tersebut, bahkan tampak seperti gerakan lamban. Agung dengan mudah menangkisnya.
Tendangan dan serangan lain mereka lakukan dengan sangat keras namun hany beberapa saja yang mengenai wajah mereka, hingga akhirnya seorang guru datang dan menghentikan pertengkaran tersebut. Fadila yang sejak tadi berada di sana telah menarik Anggi dari tempat tersebut.
Agung yang masih bingung dengan perkelahian mereka segera pamit pamit ke toilet. Saat berada di toilet Agung bercermin, tiba-tiba muncul beberapa tulisan, Agung terkejut melihat fotonya dan beberapa data dirinya, Agung melihat sebuah lingkaran yang ternyata itu adalah angka.
Agung mencoba menekannya, seketika poin itu menjadi besar. "Selamat anda telah mengalahkan penindas di antara siswa siswi lain, anda mendapatkan 10 poin, tugas anda selanjutnya mengalahkan penindas kepala sekolah yang tidak adil."
Karen memang wajah Angkasa lebih banyak yang lebam di bandingkan wajah Agung, namun jika di bandingkan hal tersebut, pastilah dirinya akan lebih banyak terkena masalah, karena kepala sekolah mereka pasti akan memihak.
"Ah iya pasti kepala sekolah itu akan menghukum ku saja," "Bagaiman ini? Apa aku menggunakan identitas ku saja? Atau..."
Di ruang kepala sekolah, Agung, Anggi, Fadila dan Angkasa di panggil ke dalam ruang kepala sekolah, kepala sekolah tersebut memperhatikan wajah agung dan Angkasa.
Laki laki dengan badan tambun dan perut buncit tersebut menghela nafasnya berkali kali, laki laki itu tampak seperti over weight. mendekati sebuah penyakit akibat terlalu berlebihan berat badan. Laki laki itu menurunkan kacamatanya.
"Kenapa kalian sampai berkelahi dengan Angkasa? Kalian ini benar benar bandel ya!"
Pertanyaan itu membuat Angkasa menarik sudut bibirnya, sudah ia duga bahwa hal ini yang akan terjadi, kepala sekolah itu pasti akan membelanya. Secara ayahnya adalah seorang pejabat. Dan lagi kepala sekolah yabg biasa di sapa pak Arman tersebut adalah seorang penjilat, meski sebenarnya Angkasa tidak terlaku menyukainya.
"Maaf pak tapi Angkasa duluan yang mengganggu saya, dan Agung hanya membela saya saat itu" ujar Anggi mengeluarkan pembelaan untuk mereka.
Angkasa membuang wajahnya, ia kesal mendengar pertanyaan tersebut.
"Tetapi tetap saja itu semua bisa di hindari," ujar pak Arman secara tidak langsung membela Angkasa.
"Kami tidak di perbolehkan untuk melawan, di minta terus menerus untuk menghindar dan jangan membuat keributan, tapi bapak selaku kepala sekolah tidak menghentikan pangkal masalahnya, malah terus melindunginya? Apa karna mere itu berduit?" Anggi tampak terpancing emosi, Fadila segera menenangkannya.
"Jangan kurang ajar kamu ya," pak Arman membuat Angkasa menghela nafas beratnya.
"Jadi begini pak," Fadila tiba tiba membuka suara, tentu saja itu mampu membungkam suara oak Arman. Pak Arman tahu betul siapa orang tua Fadila. "Tadi pagi di temukan coretan yang amat banyak di meja Agung dan Anggi, dan siang setelah istirahat, kami melihat Angkasa memegang spidol warna warni tersebut."
"Itu bukan aku, aku saat itu memang datang cepat, namun aku segera ke kantin," bantah Angkasa. "Aku saat itu juga bingung bagaimana mungkin ada spidol di tas ku, sementara aku tidak pernah membelinya."
Memang benar Angkasa saat memasuki kelas tersebut awalnya baik baik saja, saat ia dan teman temannya memilih untuk makan di kantin, hingga memasuki kelas, jelas semua baik baik saja. Semua orang memandangnya namun ia sudah paham pandangan mereka. Jelas ia datang saat kedua bangku tersebut telah bersih.
Setelah istirahat, Angkasa berniat untuk menghampiri Anggi menanyakan kabarnya, karena semalam ia mendengar bahwa Anggi masih di gendong oleh Agung saat turun dari dalam bus.
"Lalu untuk apa tadi kamu dan yang lain mendekati Anggi?" Agung memandang tak percaya ke arah Angkasa.
"Aku memang suka mengerjai orang lain, namun dia tetap teman sekelas ku selama tiga tahu ini," kesal Angkasa karena merasa selalu tuduh.