The controller

The controller
The Controller VIII



Malam telah tiba, Agung seperti biasanya datang membawa makan malam untuk sahabatnya, kali ini Agung membelikannya nasi goreng di dekat stasiun. Sejak sore Agung berada di sana, mengamati keadaan sekitar. Agung semakin bingung dengan keadaannya.


"Ini makan malam nya," Agung segera memberikan Anggi sendok, dan sebotol air mineral.


"Hm, itu baju sekolah kamu, nanti langsung di cuci," ujar Anggi membuat Agung tersenyum. Agung kemudian mengambil baju kemejanya yang terletak di atas naklas, dan memperhatikan baju tersebut, ternyata telah di perbaiki.


Setelah makan malam Anggi habis, laki laki itu segera menyuguhi obat dari dokter, kemudian kembali ke kamarnya.


Baru saja Agung hendak menutup gorden kamarnya sehabis belajar, Agung dikejutkan dengan sebuah cahaya aneh dari ujung sana. Saat melihat sekitarnya, itu seharusnya mengganggu orang orang sekitar. Secuek apapun mereka.


Seketika Agung terdiam, ia mengira dirinya hanya halusinasi, laki laki SMA itu segera kembali ke tempat tidur, mencoba untuk tidur, namun sialnya seluruh pikirannya kembali ke cahaya yang ia lihat.


Karena penasaran dengan apa yang ia lihat, Agung dengan nekat keluar diam diam melalui jendela, mencoba menyusup keluar tanpa ketahuan macan tutul.


Agung menghampiri tempat cahaya tersebut berasal, ternyata tidak jauh dari kost nya, cahaya itu berasal dari laki laki, tampak ia dicekik oleh seseorang dengan menggunakan jaket hitam, seperti ia lihat tadi siang, Agung sedikit penasaran. Ia mendekat mencoba mendekati tempat kejadian perkara.


Matanya dan bibirnya tampak keluar cahaya yang begitu menyilaukan, namun tubuh yang tampak mencekiknya juga membuka mulutnya seolah menghisap cahaya tersebut. Asap hitam mengebul di tubuh laki laki itu semakin pekat seiring masuknya cahaya tersebut di dalam tubuh laki laki itu, seakan kegelapan tersebut menenggelamkan cahaya terang tersebut.


Agung yang baru pertama kali melihat cahaya tersebut sungguh terkejut di buatnya, bagaimana tidak Agung benar benar seolah di hantam kenyataan yang amat mengejutkan.


Tak percaya? Ya tentu saja, namun itu adalah kejadian di deon mata.


Laki laki itu menoleh ke arah Agung, ia tampaknya merasakan kehadiran Agun. Agung segera bersembunyi di balik tembok. Lalu diam diam melarikan diri.


Laki laki misterius itu semakin penasaran, ia mendekati posisi Agung saat ini, Agung yang merasa terjepit sekuat tenaga melarikan diri. Dan tiba tiba ia berlari dengan cepat, bahkan hampir tertabrak pengendara motor yang ada di hadapannya. Untung saja agung berlari dengan sangat cepat. Tapi karena masih belum mengendalikan kekuatan tersebut, Agung terjatuh di pagar tanaman ibu kost, yang pasti akan membuatnya marah ke esokan paginya.


Sementara laki laki yang menaiki motor tersebut tentu saja terkejut dan melakukan rem mendadak terhadap motornya, sehingga membuatnya hampir terjatuh.


"Apa tadi? Apa hantu?"


Seketika buku kuduk laki laki tersebut naik dan membuatnya ketakutan sendiri. Laki laki itu kembali menancapkan gas motornya.


Sementara laki laki misterius yang tadi mengejar Agung tampak tersenyum, Laki laki itu seakan memiliki rencana jahat untuk memancing pemilik kekuatan yang sama seperti dirinya.


..........


Pagi menjelang, tampak Agung dan Anggi telah rapi dengan pakaian sekolahnya, mereka segera berjalan berdampingan. Sementara tampak ibu kos mereka terus mengoceh melihat pagar tanaman yang ia bentuk sedemikian rupa agar terlihat selalu rapi kini telah memiliki kecacatan, mungkin sebesar manusia.


Anggi yang penasaran dengan sedikit pincang segera mendekat ke arah ibu kos. "Ada apa Bu?"


"Tau, ini pasti perbuatan orang iseng, masa tanaman ibu di ginikan," gerutu ibu kos, yang merasa tanaman miliknya sudah tidak indah lagi. "Loh kamu sekolah? Kaki kamu sudah tidak apa apa kan?"


"Sudah Bu, ini sudah lumayan," ujar Anggi membuat Agung menghela nafas panjang.


Sejujurnya Agung tadi melarang Anggi untuk ke sekolah, namun dasar keras kepala, Anggi justru memilih untuk bersekolah. Saat akan berbalik badan, Agung di kejutkan dengan seseorang yang berdiri di belakang mereka. Pasalnya orang itu sama persis dengan laki laki misterius semalam, jelas Agung tak ingin mencari masalah, pasti ini berbahaya bukan cuman kepadanya, namun kepada Anggi juga.


Agung sekuat tenaga berusaha menahan gelagat yang mencurigakan di hadapan laki laki itu. "Eh maaf kak, saya tak sengaja," ujar Agung menggaruk kepalanya, seolah sama sekali tak pernah bertemu.


"Aku kira kita pernah bertemu," ujar laki laki itu berusaha memancing Agung. Pasalnya ia rasa perawakan laki laki yang memergokinya seperti Agung.


"Hah? Kapan ya kak?" Agung berakting seolah tak mengerti maksud dari laki laki itu.


"Benar kah?" Laki laki itu sepertinya belum puas ingin memancing Agung.


"Ya mungkin kalian pernah bertemu ketika di bus atau di apa lah, ah Agung kan kosnya selalu di sini selama tiga tahun," ujar ibu kos melerai pembicaraan mereka. "Kalian ke sekolah sana, nanti terlambat."


Agung dan menggenggam erat tangan Anggi, takut kaki kaki itu melakukan sesuatu hal yang tidak di inginkan kepada Anggi. Mulai dari sekarang ia harus berhati hati, ia tak boleh ceroboh dan menunjukkan kekuatannya yang belum bisa ia kontrol.


Sementara laki laki itu terus memperhatikan Agung dan Anggi yang semakin menjauh, ia masih tak percaya jika itu bukan Agung, namun ekspresi wajahnya agung meyakinkannya bahwa mereka tak pernah bertemu. Lalu siapa laki laki itu? Dia juga tinggal di sini? Atau kebetulan berlari ke arah tempat ini.


"Jadi ngekost di sini," ibu kos tersebut kembali menanyakan perihal keinginan laki laki tersebut.


"Ah iya Bu," ujar laki laki itu mengalihkan pandangannya, dan tersenyum manis ke arah ibu kost tersebut.


"Ayo masuk," ujar ibu kos mempersilahkan laki laki itu segera masuk, dan melihat kamar yang kebetulan kosong.


"Suka yang ini?" Ibu kos tersebut bertanya, sembari memperlihat isi kamar tersebut.


"Iya Bu terimakasih," ujarnya.


"Mau berapa lama ceritanya?"


"Satu bulan aja dulu Bu, soalnya takut tempat saya itu sudah jadi, tapi kalau belum nanti saya perpanjang lagi," ujar laki laki itu kembali menampakkan wajah manisnya.


Beberapa penghuni kos wanita yang melihat calon penghuni kos laki laki tersebut tersenyum, wajahnya yang tampan tentu saja membuat orang orang mejadi jatuh cinta, namun di balik itu semua, kaki laki itu adalah seorang berdarah dingin, yang tak segan menghabisi orang orang yang berpotensi menentangnya.


Setelah acara deal dealan selesai, laki laki itu segera menempati kamar tersebut, dan kembali ke dalam mobil untuk mengambil pakaiannya, laki laki itu tersenyum puas. Jika memang ia berhasil menghabisi pemilik kekuatan yang tak dapat mengontrol kekuatan tersebut, maka ia akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi lagi.