The controller

The controller
kekesalah tuan Buana Abraham dan pengumuman pemenang give away



Purwono datang menghampiri Malik yang membawa nampan, Malik segera memberikannya. "Hati hati," ujar Malik segera masuk ke dalam dapur, demi membantu rekannya.


Purwono mendatangi Angkasa meski beberapa orang memanggilnya. "Dasar tidak profesional," gerutu orang orang yang memanggilnya.


Angkasa segera mengambil berlian yang ada di tengah tengah gelas berisi minuman. "Terimakasih," ujar Angkasa segera menjauh, dan memasukkannya ke dalam kantung, meletakkan gelas dan berjalan menuju kamar ganti.


Setelah masuk ke dalam, Angkasa kembali menampakkan undangan VVIP miliknya. Keamanan segera mempersiapkan Angkasa untuk masuk, tak ingin ada pertengkaran. Angkasa segera masuk dan menanyakan sebuah jam yang sengaja ia letakkan di samping meja rias sebelumnya.


"Maaf jam tangan saya tertinggal di sini," ujar Angkasa kepada Anggi.


"Ah benar kah? Saya akan meminta keamanan," ujar Anggi menunduk hormat. "Pak bisa tolong carikan jam tuan ini?"


"Ah..." para keamanan terkejut mendengarnya.


"Ini adalah jam kesayangan ku, jam ini keluaran terbatas hadiah dari ibuku," ujar Angkasa membuat keamanan sedikit tidak enak.


Mereka segera mencari jam tersebut, sementara Angkasa segera memasukkan kalung tersebut ke dalam kantung milik Anggi. "Cepat masukkan," bisik Angkasa membuat Anggi segera berjalan menjauh, Anggi segera masuk dan meletakkan kemabli kalung tersebut ke dalam tempatnya.


Anggi segera berjalan dengan santai ke arah sang aktris ikut pura pura mencari jam tersebut. Angkasa tersenyum melihat bahwa misi mereka hampir selesai. Angkasa juga ikut mencari barang yang sebenarnya ia letakkan di bawah meja rias sat berfoto tadi.


Anggi yang melihat sesuatu di bawah meja rias meminta keamanan untuk mengambilnya. "Itu sepertinya ada sesuatu di bawah sana, coba di ambil," ujar Anggi menunjuk sesuatu di bawah sana, tangannya tidak sampai untuk menggapainya, lagi pula tangannya harus bersih.


"Ah baik lah," ujar salah seorang di antaranya.


Mereka segera mengambil benda tersebut, dan ternyata itu adalah sebuah jam. "Ini milik anda?"


"Terimakasih banyak, ini untuk anda," ujar Angkasa segera memberi beberapa pecahan ratusan ribu untuk orang tersebut.


"Tidak tuan, ini adalah tugas kami," ujarnya menolak pemberian Angkasa.


"Kalau begitu say benar benar berterimakasih, ini adalah pemberian ibu ku," ujar Angkasa tampak begitu lega. "Kalau begitu saya permisi, maaf telah mengganggu anda sekalian."


Angkasa meninggalkan ruangan tersebut. "Misi selesai," ujar Angkasa.


"Aku juga telah keluar dari gedung, sekarang sedang di dalam mobil dengan Fadila," ujar Robby.


"Jangan ada yang meninggalkan tempat takut nya kita di curigai," ujar Agung tersenyum puas. Kini laki laki itu tengah tersenyum memandang laki laki yang telah ia ambil name tag nya tadi. Agung mendekat ke arah laki laki itu, kemudian menabrak laki laki itu.


"Agh... " Agung menjatuhkan name tag laki laki itu. "Maaf kan saya," ujar Agung menundukkan kepalanya.


"Ah tidak apa apa," ujar laki laki tersebut.


"Iya, itu milik saya," ujar laki laki itu. "Terimakasih mas."


"Ah sama sama," Agung segera meninggalkan laki laki itu karena telah mendapatkan apa yang ia ingin kan.


Agung segera masuk ke dalam sebuah ruangan, membuka ruangan dengan foto kartu laki laki tadi, kemudian masuk ke dalam nya. Agung ternyata memasuki ruangan informatika, di mana beberapa berkas di simpan di dalam sana. Ternyata ruangan itu adalah ruangan rahasia, di mana hanya pegawai tertentu saja yang bisa masuk.


Agung segera mengenakan sarung tangannya, dan mengambil beberapa berkas yang di butuhkan, dan meletakkannya ke dalam suatu tas miliknya. Agung kemudian keluar dari ruangan tersebut, dan menaiki lantai paling atas. Agung segera mengambil sebuh penambak tali, kemudian menarik tali itu, memastikan bahwa tali tersebut cukup kuat tersangkut pada targetnya. Agung meluncurkan tas tersebut kemudian menembak ujung tali tersebut. Sehingga tasnya tertinggal di tempat tersebut. Agung menarik kembali tali tersebut kemudian menghancurkan barang bukti yang ia punya.


Sementara di bawah acara telah berlangsung, Robby dan tampak tengah berdiri dengan beberapa orang koleganya, sementara Angkasa duduk sembari menikmati acara yang kini berangsur meriah. Nadia dengan penyamarannya sibuk dengan mempresentasikan tentang bisnis yang akan ia bangun.


Melvin tampak berdiri di samping tuan Buana Abraham. Tampak Purwono tengah memegang nampan minuman. Dan menawarkan kepada setiap tamu undangan.


Tampak sang bintang utama tengah berdiri, di atas panggung. Acara inti tengah di mulai, beberapa tamu utama telah datang. Wanita itu tampak bernyanyi, Anggi berdiri di belakang panggung untuk melihat jalannya acara.


Agung tampak turun dan bergabung bersama dengan pak Wijaya. Pak Wijaya memperkenalkan Agung kepada rekan bisnisnya. Bahkan memperkenalkan agung sebagai pewaris A.W group.


Melihat pak Wijaya tengah berbicara dengan beberapa tamu undangan lainnya, tuan Buana Abraham segera ikut serta di dalam kelompok tersebut.


"Wah pak Wijaya datang bersama anak nya?" Tuan Buana Abraham tampak tersenyum ke arah Pak Wijaya. Ia tahu betul bahwa anak dari pak Wijaya telah hilang sejak kecil, itu semua atas campur tangannya bersamaan dengan kematian istrinya ketika melahirkan. Namun ia bingung siapa yang ada di sampingnya, ia pikir itu adalah anak angkat atau pak Wijaya menikah kembali setelah kehilangan istrinya.


Pak Wijaya mencoba menstabilkan emosinya, ia ingin terlihat tenang di hadapan tuan Buana Abraham. "Apakah tuan tidak bisa mengenali keponakan tuan sendiri, anak dari adik anda," ujar pak Wijaya tersenyum memandang ke arah tuan Buana Abraham.


"Hai apa kabar tuan Buana Abraham, atau saya harus memanggil anda dengan panggilan paman?" Agung mengulurkan tangannya ke arah tuan Buana Abraham. "Kau terkejut anak adik yang telah kau buang tumbuh dengan baik? Atau jangan jangan anda terlibat di dalam kecelakaan tersebut? Mengingat seluruh milik ku segera kau kuasai dan aku kau buang.."


Agung tersenyum memandang ke arah tuan Buana Abraham, berbeda dengan tuan Buana Abraham sendiri.


Jelas laki laki itu terkejut, ia memang tak meletakkan mata mata untuk melihat keadaan anak dari adiknya, seharusnya ia melenyapkannya sejak awal. Dan tak menganggap remeh anak itu.


Kini ia dapat melihat pandangan mata beberapa orang yang mendengar ucapan Agung memandang ke arahnya, Agung benar benar mempermalukannya. Tuan Buana Abraham menggeram kesal. Terlebih melihat senyum di bibir pak Wijaya yang tampak mengejeknya, laki laki itu membalaskan dendamnya.


"Kenapa diam tuan, bukan kah yang Agung katakan benar? Namun tentu keikut sertaan anda dalam kematian adik anda tidak benar bukan?" Pak Wijaya tampak tersenyum sinis ke arah tuan Buana Abraham. "Atau memang benar adanya, tapi itu sangat tidak mungkin. Mengingat ibu Agung merupakan adik anda satu satunya."


...........


Hi selama bagi pemenang give away, follo othor ya, untuk pangambilan pulsa 20k. Dan keputusan othor tak dapat di ganggu gugat ya teman teman.