
"Sudah sudah kita segera melihat ke cctv nya saja," ujar apak Arman, segera menyetel cctv saat kejadian perkara, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Mila dan teman temannya tengah mencoret coret bangku Anggi dan Agung, kemudian dengan santai meletakkan semua spidol itu ke dalam laci Angkasa, Purwono dan Malik.
Jelas Fadila sangat kesal, ini merupakan tindakan adu domba, hingga membuat Agung, Angkasa dan Anggi di panggil ke kantor kepala sekolah.
"Semua sudah jelas kan? Saya sudah bisa kembali ke kelas kan?" Angkasa segera melenggang meninggalkan ruangan tersebut di susul oleh Fadila.
"lihat kan? Kalian ini menyelesaikan masalah selalu seperti ini, ada ini yang di ajarkan kepada kalian?" Pak Arman jelas tak ingin bermasalah dengan sang pelaku utama, karena kekuasaan dari keluarga Mila jelas bisa melengserkannya dari kedudukannya saat ini.
"Harusnya bapak memanggil Mila," dengus Anggi membuat pak Arman semakin kesal saja.
"Jangan kurang ajar ya, kami berusaha mengalihkan kesalahan kamu?" Pak Arman memukul meja, baru kali ini ada anak beasiswa yang berani membantahnya.
"Kurang ajar? Kurang ajar seperti apa maksud bapak?" Anggi juga mulai emosi dengan segala ketidak adilan tersebut.
"Anggi, sudah Nggi," Agung segera menegur Anggi agar segera diam, Agung tak ingin Anggi semakin terkena masalah, meski sebenarnya Agung bingung apa yang menyebabkan Mila melakukan ini semua, padahal jelas jelas mereka sama sekali tidak memiliki masalah.
"Tapi Gung..." Anggi jelas protes, karena merasa di pojokan.
"Tuh dengar Agung di lebih dewasa," pak Arman merasa menang karena dibela oleh Agung.
"Pak saya mohon tolong Anggi di mint untuk kembali ke dalam kelas saja, pasalnya saat ini dia baru saja keluar dari rumah sakit," ujar Agung ingin Anggi segera keluar dari ruangan tersebut, Agung ingin menyelesaikan dengan caranya. "Saya yang akan menjamin semua, serta menggantikan hukumannya."
"Heh jangan menjadi pahlawan kesiangan, kamu siapa kekasihnya?" Cerca pak Arman. "Tapi ya sudahlah, silahkan keluar."
Anggi segera keluar, ternyata dari luar pintu ruangan pak Arman Fadila dan Angkasa masih berada di luar. Angkasa di paksa menunggui Anggi dan Agung oleh Fadila.
"Angkasa maaf ya, aku kira kamu yang ngelakuin itu sama aku," ujar Anggi meminta maaf kepada Angkasa.
Tentu saja Angkasa senang, tapi ia menyembunyikannya dengan tampang angkuhnya. "Hm..."
"Memangnya kau punya masalah apa dengan Mila dan kawan kawan?" Fadila menjadi penasaran sendiri, pasalnya selama ini mereka baik baik saja, Anggi tak pernah mengganggu atau menyinggung Mila dan antek anteknya.
"Tak tahu, punya masalah dengan Angkasa mungkin," ujar Anggi membuat Angkasa kesal sendiri.
"Hei kau sudah meminta maaf tadi ya, aku mana punya masalah dengan anak mana pun," kesal Angkasa membuat Anggi dan Fadila saling memandang.
Sementara itu di dalam ruangan pak Arman, Agung dan pak Arman masih saling diam. Pak Arman menghela nafasnya berkali kali.
"Jadi ngapain kamu memukuli wajah Angkasa?" Pak Arman memulai introgasinya.
"Kan sudah jelas tadi kami di adu domba, kenapa bapak tidak bertanya kepada Mila yang jelas jelas mengadu domba kami?" Agung tersenyum melihat kekesalan di wajah pak Arman. Inilah yang ia tunggu, memancing kemudian mematahkan.
"Silahkan lalu video pembunuhan tentang calon kepala sekolah lama akan segera tayang di seluruh internet, anda tahu apa yang akan terjadi bukan?" Agung terkekeh melihat wajah terkejut pak Arman.
"Jangan menuduh ku sembarangan," pak Arman memukul meja dengan keras.
"Siapa yang menuduh anda? Saya hanya mengatakan nya, bukan menuduh anda sama sekali," ujar Agung terkekeh.
Agung ingat betul bagaimana pertemuan pertamanya dengan pak Wijaya, laki laki itu memberikan kemudahan kepada Agung untuk mendapatkan beberapa orang kepercayaan. Ini kali pertama Agung menggunakan mereka, dan ternyata sangat bisa di andalkan, bahkan rahasia tersembunyi yang di sembunyikan oleh kepala sekolah tersebut dapat mereka ketahui hanya dalam waktu setengah jam.
Agung meminta mereka untuk mencari informasi tentang kepada sekolah tamak, licik dan haus akan kekuasaan tersebut, dan informasi mengejutkan di dapatkan nya. Laki laki itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kau..." pak Arman semakin terpancing saja emosinya.
"Bapak tenang saja, informasi pembunuhan itu tidak akan terjadi, jika bapak menjamin kenyamanan kami di sini, atau bahkan memberi peringatan kepada pelaku," ujar Agung membuat pak Arman meremas tangannya keras keras.
"Kau memerintahkan ku?" Pak Arman masih berusaha mempertahankan wajah angkuhnya, seolah tak ada yang salah pada dirinya.
"Saya tidak pernah memerintahkan anda, namun saya memperingatkan anda," ujar Agung segera mengeluarkan ponselnya, dari saku celana.
Di dalam ponsel itu terlihat seorang laki laki dengan perawakan gempal tengah melakukan sesi adegan dewasa dengan seorang wanita cantik. Bisa di pastikan laki laki itu adalah kepala sekolah mereka alias pak Arman yang tengah menikmati goyangan maut dari seorang wanita cantik, yang di duga adalah selingkuhan dari pak Arman.
Pak Arman ingin mengambil ponsel tersebut dari tangan Agung, namun secepat kilat Agung menyimpannya kembali. "Satu kali pergerakan anda dari tempat tersebut, saya pastikan akan mengirim video ini ke beberapa platform," ancam Agung saat melihat pak Arman akan berdiri dari tempatnya.
"Apa mau mu?" Pak Arman semakin kesal saja, bagaimana tidak ia kini merasa terintimidasi oleh manusia yang di bawah derajatnya. Ia sangat kesal.
"Saya ingin bapak memberikan peringatan tegas kepada pelakunya, dan melindungi saya dan Anggi dari para pengganggu lainnya. Hanya itu saja kok tidak susah," ujar Agung membuat pak Arman mengangguk pasti.
Lebih baik ia memberi peringatan kepada Mila, dan melindungi mereka dari pembulian. Toh ini hanya selama satu. Tapi bagaimana dia melakukannya? Dari mana siswa nya ini mendapatkan informasi tersebut? Bahkan rahasia yang ia sembunyikan dari seluruh orang termasuk yang ada di sekitarnya. Bukan kah Agung hanya siswa SMA biasa? Bahkan seorang yatim piatu, bagaimana mungkin? Siapa orang yang ada di belakangnya? Semua pertanyaan terkumpul di kepalanya.
"Baiklah, akan saya lakukan," ujar pak Arman menghela nafasnya kasar.
"Satu lagi suatu saat saya akan membutuhkan bantuan anda maka lakukan saja semuanya," ujar Agung membuat pak Arman menggeram kesal.
"Jangan terlalu melunjak ya, jangan mencoba semena mena dengan saya," ujar pak Arman menggebrak mejanya.
Bukannya gentar Agung justru semakin menarik sudut bibirnya. "Anda lupa? Kalau saya memiliki seluruh bukti kejahatan anda. Menuruti keinginan saya mungkin sesuatu yang tidak berat bagi anda, namun tidak mengikutinya artinya anda akan tamat sat itu juga."
"Kau...."
"Ingat mulai sekarang kau adalah pion ku."