
Perjanjian awal di batalkan, mereka belajar tidak di rumah Angkasa, melainkan di tempat Agung. Bukan belajar sebenarnya, lebih tepatnya berlatih menjadi pencuri yang lihai.
Seperti saat ini Fadila berpura pura menjadi sang aktris untuk mengenakan pakaiannya, sementara Anggi bertugas menggantikan kalung wanita itu.
Berkali kali Anggi mencoba mengganti kalung tanpa di ketahui, namun berkali kali pula ia gagal. Maklum Anggi masih pemula dalam hal dunia copet mencopet, jadi kalau masih ketahuan itu sudah bias.
Agung bertugas mengamati pergerakan dari Anggi, namun tampaknya wanita itu selalu menemui kegagalan, baik di taiming pemindahan barang ke dalam kantung, maupun pelepasan kalung. Wanita itu selalu menemui kesalahan.
"Kayaknya aku ga bakat deh," ujar Anggi hampir putus asa, sudah hampir setengah hari ia berlatih, namun tak dapat menemukan hasil yang memuaskan.
"Ya kalau bakat habis kita nggi," sahut angkasa yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, sementara Agung menjadi bodyguard yang selalu memperhatikan gerak gerik Anggi.
"Kamu istirahat dulu nanti di lanjut lagi," ujar Agung kasihan juga melihat wajah kusut Anggi. "Tapi kalungnya coba Angkasa kamu ambil dulu dari kantung Anggi."
Angkasa kemudian mengambil kalung dari kantung Anggi dengan diam diam, laki laki itu tampak sedikit kewalahan. Namun masih terlihat wajah santainya, tak seperti Anggi yang sama sekali tak menampakkan wajah santai. Bahkan ketegangan yang menyertainya di sana.
Sementara Robby terus berusaha membuat berlian palsu, sesuai keahliannya dulu, di mana ia sangat ahli menjual berlian langka namun palsu di pasar gelap.
"Besok kita akan memulai mencoba menjadi investor di sana," ujar Agung memandang ke arah Nadia yang tampak serius membaca tentang keadaan ekonomi dan bisnis di Indonesia, bahkan belajar berhitung tentang bagaimana ekonomi kedepannya. Agunglah yang membuat semua catatan tersebut, Nadia hanya perlu menghafal dengan baik angka angka tersebut, untuk menghindari kesalahan-kesalahan.
"Semangat, aku pasti bisa menghafalnya. Bisa di ganti tidak yang lain gitu," ujar Nadia tampak sangat putus asa. Wanita itu menghantupkan kepalanya ke arah buku buku yang ia baca. "Apa lagi ni..."
"I think, it's just about money," ujar Agung membantu Nadia mengucapkan kalimat bahasa Inggrisnya, agar wanita itu benar benar terlihat berkelas. Bahkan untuk dandanan saja telah Agung tangani, dengan memberikan video makeup artist.
"Aku latihan makeup aja deh," ujar Nadia, wanita itu sebenarnya bisa memermak wajahnya, namun tidak se ahli wanita yang ada di luar sana. Tampak sebuah lilin wajah sudah ada di hadapannya, ia mulai menempel beberapa bagian wajah, serta mengenakan foundation yang sedikit tebal. menggunakan pensil alis, lensa mata, eyeliner, pemerah pipi, eyeshadow, pemerah bibir, dan lain lain.
Fadila segera menjauh, dirinya tampak memainkan laptop miliknya. Angkasa meliriknya, tampaknya Fadila tengah meretas sesuatu, Angkasa terkejut ketika melihat situs sekolah yang seharusnya hanya dapat di lihat oleh para guru.
"Mau ngapain beb?" Angkasa dengan sedikit rasa penasaran, lebih banyak modusnya kini tengah mendekati Fadila yang tampak mencari nama kelas mereka.
"Nyari soal," bisik Fadila membuat Angkasa terkejut. Apa jangan jangan selama ini Fadila selalu menjadi salah satu murid yang pintar karena ini? Jika ia sungguh di luar dugaan dirinya.
"Jangan jangan," Angkasa memandang Fadila terkejut.
"Hm, seperti yang kamu pikirkan, selama ini aku selalu mencarinya di sini, paling aku hanya sengaja menyalahkan beberapa," ujar Fadila jujur.
"Oh God... I love you," Angkasa merangkul bahu Fadila yang tampak masih fokus mencari soal untuk kelasnya.
"Nah dapat," ujar Fadila menampakkan layar yang di penuhi soal. "Tinggal nyari jawabannya, tapi lumayan banyak sih."
"Mereka tidak punya printer sih," ujar Angkasa tampak berfikir. "Eh, Gung punya printer ga?"
"Ada? Mau Makai?" Agung tampak penasaran.
"Iya, boleh dong," Fadila mengangguk.
"Bentar aku ambilkan," ujar Agung segera naik ke kamarnya, sekaligus tempat kerjanya.
"Ngomong-ngomong UN SMP kemarin kamu gini ya?" Angkasa tampak sangat penasaran.
"Ya ga mungkin lah, itu aku belum bisa," ujar Fadila terkekeh. "Aku mulai tertarik kelas satu SMA saat libur hampir dua tahun kemarin. Jadi aku mulai mempelajarinya, ternyata cukup asik. Dan sangat memberi kemudahan untuk kita."
"Dulu kan kita tidak sedekat ini," ujar Fadila mengusap lembut tangan Angkasa.
"Ih jadi baper Abang dek," ujar Angkasa merebahkan kepalanya di bahu Anggi.
"Pacaran terus," ejek Agung meletakkan printer dan kaset di atas meja. "Instalnya seperti biasa."
"Ok terimakasih," ujar Fadila mulai menginstal perangkat printer milik Agung.
Sementara Anggi tampak begitu penasaran, dengan makeup milik Nadia, yang tampak mulai terlihat seperti orang lain. Nadia tampak amat lihai dalam mengenakan alat alat tersebut. Sentuhan terakhir akhirnya ia lakukan, yaitu menggunakan wig rambut dengan rambut panjang bergelombang dan berwarna sedikit kecoklatan.
Kini Nadia tampak seperti seorang artis dengan darah campuran Asia dan Eropa. Bahkan Anggi sangat terpana melihatnya. "Bagaimana?" Nadia bertanya ke arah Agung yang tampak kagum dengan hasil makeup nya.
"Sangat bagus," ujar Agung memberikan jempolnya.
"Bagaimana?" Nadia kembali bertanya ke arah Anggi yang hanya di tanggapi dengan dua jempol dan anggukan. Anggi tampak tak bisa berkata kata, karena kemampuan Nadia yang benar benar mempuni.
Nadia segera mendekat ke arah Fadila dan Angkasa." Bagaimana?" Fadila terkejut melihatnya, sementara Angkasa mengerjapkan matanya berkali kali.
"Kok bisa?" Angkasa justru semakin terkejut, mereka tampak seperti orang yang berbeda.
"The power of make-up," ujar Nadia tersenyum.
"Kak bisa berubah jadi Anya?" Purwono di ikuti Malik tiba tiba muncul dari arah belakang.
"bisa, mau bayar berapa?" Tantang Nadia membuat keduanya cemberut, ia tahu Nadia pasti akan memberikannya harga yang pasti akan sangat tidak terjangkau untuknya.
...........
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MISAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...
Terimakasih...