The controller

The controller
Peletakkan Pion



"Pa biar Mila antar ke kamar, Mila minta bibi hantarkan obat dan alat kompres," ujar Mila, segera menuntun ayahnya berdiri.


Mereka segera beranjak ke kamar pak Prabu, tak lama kemudian seorang asisten rumah tangga datang membawa obat dan kompres.


"Makasih bi," ujar Mila segera menutup pintu kamarnya, Mila segera mengompres kepala pak Prabu yang sebenarnya tidak apa apa.


"Pa minum obat dulu," ujar Mila segera memberikan sebutir obat kepada pak Prabu.


Sebenarnya pak Prabu sedikit khawatir untuk meminum obat tersebut, pasalnya ia merasa baik baik saja, namun kekhawatiran Mila membuatnya sedikit salah tingkah. "Pah numpang ke toilet dulu ya."


Pak Prabu mengangguk, Mila segera berjalan ke arah pintu, menguncinya terlebih dahulu. Baru kemudian Mila ke kamar mandi. Mila bercermin di wastafel dan tersenyum. "Kau pasti bisa, kau akan mendapatkannya dan menggantikan wanita itu," Mila tersenyum misterius. "Wanita itu akan merasakan apa yang namanya kehilangan."


Mila segera ke arah toilet, dan menekan flash toilet. Kemudian segera ke kamar mandi, membuka seluruh pakaiannya, membasahi seluruh pakaiannya. Setelah mandi, Mila segera mengenakan pakaiannya, dengan rambut yang masih basah, Mila keluar dari kamar mandi.


Pak Prabu terpana melihat wajah basah milik Mila, jiwa laki lakinya keluar. Sudah lama ia tak merasakannya. Pak Prabu menelan ludahnya susah payah.


"Pah... papa baik baik aja kan?" Mila mendekat, mengeringkan rambutnya. Dua kancing atasnya sengaja Mila lepas sehingga belahan dada nya tampak.


Mila yang melihat wajah pak Prabu semakin memerah tersenyum samar. Mila segera meninggikan badannya dan semakin menampakkan jelas belahan dadanya.


Pak Prabu menahan detak jantungnya, pandanganya fokus kepada belahan dada milik Mila, pak Prabu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa pah?" Mila tersenyum manis semakin mendekat ke arah pak Prabu. Mila semakin mendekatkan wajahnya ke arah pak Prabu. Nafas Mila terasa menerpa wajah pak Prabu.


"Mila..." nafas pak Prabu tercekat, rasanya ia ingin sekali membawa Mila di bawah kukungannya, namun otak warasnya masih tersisa meski sedikit.


"Kenapa pah?" Mila dengan sengaja menyentuh kepala pak Prabu, sementara tangannya yang lain mengusap dada pak Prabu yang masih tertutup kaus abu abu.


Pak prabu sedikit menggerakkan badannya sehingga Mila dengan leluasa dapat menjatuhkan dirinya di atas pak Prabu. "Ah..." Mila berpura pura terkejut.


Saat merasakan sesuatu yang terjatuh di atas tubuhnya, entah kenapa tiba tiba kewarasannya menghilang, pak Prabu dengan perlahan menyentuh punggung Mila dengan lembut. Tangannya kemudian menyentuh bo*kong dan me*re*mas nya membuat Mila menggigit bibirnya.


"Mila pa...pah..."


Cup.


Tak sempat pak Prabu melanjutkan kata katanya, namun bibirnya telah di bungkam oleh bibir Mila. Akhirnya terjadilah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi (bayangkan sendiri othor cantek pusing).


..........


Sementara itu di tempat Agung, semua orang baru saja membubarkan diri. Agung dan Anggi segera membereskan bekas makan dan minum mereka, Agung mengangkut layar proyektor, proyektor dan laptopnya ke kamarnya. Sementara Anggi melanjutkan pekerjaannya yang lain.


Setelah selesai semuanya, Agung dan Anggi mendudukkan dirinya mereka di atas sofa. Memutar acara tv yang sebenarnya tak terlalu mereka sukai. Terlebih acara yang saat ini berlangsung adalah acara reality show yang bertajuk horor. Mereka tak tertarik dengan hal semacam itu.


"Gung kenapa harus turun tangan sendiri sih kalian? Bukannya seharusnya kalian bisa menurunkan anak buah ya?" Anggi memandangi wajah agung dengan seksama.


"Iya, tapi semakin sedikit orang yang terlibat maka akan semakin bagus. Jika kita menggunakan anak buah, maka akan banyak orang yang mengetahuinya. Lebih baik bekerja sendiri," ujar Agung segera mengangkat kaki Anggi ke atas pahanya. Agung mulai memijat kaki Anggi, agar terasa lebih baik.


"Maksudnya? Bukankah ketahuannya akan lebih mudah ya?" Anggi masih belum mengerti maksud dari Agung.


"Kamu tahu? Terkadang orang yang memiliki dendam itu lebih bisa di percaya, karena dendam tak akan mampu di puaskan dengan uang. Namun hanya diri sendiri yang mampu memuaskan nya, terlebih itu telah terpendam lama," ujar Agung memencet hidung Anggi.


"Maksud mu pak Wijaya tak dapat di percaya?" Anggi semakin bingung saja.


"Aku mau tidur," bisik Anggi salah tingkah.


"Hm... Tidurlah," Agung melepaskan Anggi dari pelukannya, membiarkan wanita itu pergi menjauh darinya. "Nanti mungkin aku akan keluar, mengawasi pergerakan beberapa musuh kita."


"Iya hati hati," ujar Anggi menghentikan sebenarnya langkahnya, kemudian kembali naik ke lantai dua.


"Selamat malam, mimpi indah," ujar Agung membuat Anggi tersenyum sendiri.


"Selamat malam juga," ujar Anggi menutup pintu kamarnya.


Setelah melihat pintu kamar Anggi tertutup, Agung segera berdiri dan dan memastikan seluruh pintu dan jendela terkunci, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Mengambil jas dan topeng kucing milik nya. Menghubungi seseorang terlebih dahulu.


"Halo..." Agung tampak berbicara dengan seseorang di seberang sana. "Ya hanya perlu pengawasan saat ini, jika kita terlalu gegabah maka orang orang akan curiga.... aku akan berangkat ke lokasi."


Agung seperti biasanya turun melalui balkonnya dan keluar melewati pagar yabg tingginya 2.5 meter. Laki laki itu dengan santainya berjalan ke arah sebuah gudang yang tak jauh dari rumahnya, laki laki itu tampak mengambil motornya, dan melakukannya ke suatu tempat.


Agung tampak mengawasi Hiro dan Dony yang tampak berdiskusi dengan beberapa anak buahnya, tak lama Melvin datang ke tempat tersebut. Melvin segera mendekat ke arah Agung.


"Sudah lama?" Melvin segera menggunakan teropongnya untuk memperjelas wajah orang orang tersebut.


"Tidak juga," ujar Agung melipat tangannya.


"Apa yang harus kita lakukan saat ini?" Melvin menurunkan teropongnya.


"Meletakkan pion di antara mereka."


...........


Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.


Caranya mudah kok.



Follow


Like


Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.


jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...



Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.


"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MISAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...


Terimakasih...