
Agung mendatangi gedung pertama, ia berharap Mila menahan Anggi di sana, ia sangat khawatir mengingat keadaan Anggi yang pasti saat ini gadis itu lemas tak berdaya.
"Kau ternyata cepat juga," ujar Mila muncul dari arah belakang, tanpa Fadila begitu lemas matanya terpejam seolah tak sadarkan diri, atau memang tak sadarkan diri.
Kali ini Agung tidak akan melepaskan Mila, ia akan membalas perbuatannya kepada Anggi, sudah cukup perbuatannya. Kali ini akan Agung hisap seluruh kekuatan Mila, dan menjebloskan gadis itu ke dalam penjara. Wanita itu harus menerima hukumannya.
Saat sampai Mila tersenyum melihat kedatangan Agung, ia akan akan mengambil apa yang menjadi miliknya, dan akan membuat Agung menjadi manusia biasa, jika perlu memperbudak laki laki itu.
Agung kembali melihat ke arah Anggi, yang terlihat begitu lemas, Agung yakin Mila telah mengisap sebagian tenaga Anggi. Agung kesal namun masih harus menyusun strategi untuk menyedot kekuatan Mila. Ia tak boleh ceroboh, ia dapat melihat jika wanita itu berani kembali menantangnya, maka kemungkinan kekuatan level Mila kembali atau lebih tinggi dari sebelumnya.
Begitupun dengan Mila berencana untuk menyedot kekuatan Agung. Ia menginginkan kekuatan dari Agung karena kemampuan Agung yang berbeda dari yang lainnya.
^^^Kini kau menjadi milik ku, kau akan ku buat kembali ke takdir mu, sebagai manusia biasa pada umumnya.^^^
Mila tersenyum simrik, ia yakin kali ini akan mampu melawan Agung, dan mendapatkan apa yang ia mau.
"Tenang saja aku hanya menghisapnya sedikit," ujar Mila dengan santai, berusaha memancing amarah dari Agung. "Tetapi tidak dengan anak anak itu, aku sedikit keterlaluan mengsisap mereka," tampak Purwono dan Malik dengan kondisi yang sama dengan Anggi.
Agung terkejut melihat kondisi dari Purwono dan Malik yang tampak sudah tak sadarkan diri. Agung semakin ingin mengalahkan Mila secepatnya, agung khawatir jika Mila di biarkan maka akan berdampak pada orang sekitarnya. Agung kembali mencoba mengatur emosinya. Agung tahu aturan dalam berkelahi, terletak ada emosi, jika seseorang termakan emosi maka ia dipastikan akan kalah telak.
"Aku rasa kau memang orang yang begitu kesepian, sehingga mencari berbagai korban untuk membuat mu puas," ejek Agung, karena dugaan Agung Mila terbentuk karakternya seperti itu karena kekurangan perhatian dari orang sekitarnya, terutama orang tuanya. "Kau pasti selalu kalah oleh Fadila, bahkan dalam urusan cinta. Angkasa memang tepat ia memang teat jatuh cinta pada Fadila bukan pada mu."
Mendengar ucapan Agung, tentu saja Mila begitu emosi, Mila semakin ingin segera menghancurkan Agung. "Kau..."
Mila mulai menyerang Agung, perkelahian tak dapat di hindari. Saat mereka tengah bertarung, bertahan dan menyerang, Agung menyadari satu hal ternyata mereka telah berada di level yang sama. Mila telah menghisap beberapa jiwa orang lain. Agung terkejut karena hanya berselang beberapa jam Mila telah naik level kembali.
Saat tinju mereka melesat dan tertangkis, mereka saling menghindar hingga sama mundur ke belakang. Agung terkekeh, wajah mereka sudah terluka dan lebam di beberapa tempat. Tenaga mereka mulai terkuras, nafas mereka tak beraturan.
"Hehehe..." Agung terkekeh hendak kembali memancing amarah Mila. "Kau benar benar kesepian ternyata."
"Aku akan menutup mulut busuk mu itu," teriak Mila kembali menyerang agung.
Saling menyerang titik yang hendak mereka capai, itulah yang mereka inginkan. Saling mengalahkan, itulah yang akan mereka lakukan. Tak ada satupun yang kalah dan tak ada satupun yang menyerah. Mereka tampak sama dama kuat.
Namun saat Agung terlihat kewalahan Anggi yang memang bisa bela diri dengan sekuat tenaga mencari cara untuk menolong Agung.
Sat Agung lengah, Mila segera mendorong Agung hingga laki laki itu terjatuh tepat di samping Anggi. Anggi kembali menutup matanya, berpura pura seolah masih dalam keadaan yang tak sadarkan diri.
"Hahaha... Kau akan merasakan omong kosong mu, yang membuatku kusal Agung!" Mila tampak begitu menyeramkan, matnya memerah, sama seperti saat Anggi ia cekik, hingga sebuah cahaya menyilaukan mata Anggi, dan Anggi pun tak sadarkan diri.
Anggi yang melihat gelagat Mila ybg tampak hendak melakukan hal yang sam terhadap Agung, segera memutar otaknya. Ia lirik balok kayu yang ada di sampingnya, hingga saat Mila mendekati Agung hendak menghisap tenaga Agung.
Anggi segera mengambil balok kayu yang ada di sampingnya, dan hendak memukul kepala Mila. Namun entah bagaimana Mila melihat bayangan dirinya yang hendak memukul kepala Mila. Tentu saja wanita itu segera berbalik, hendak melawan dan menghalang apa yang dilakukan oleh Anggi.
Mila membelokkan perhatiannya ke arah Anggi, dan menangkis balok kayu tersebut, namun Agung melihat hal tersebut, Agung segera bangkit menekan leher Mila, tepat di urat nadi nya.
Seketika Mila terdiam lehernya seolah di paksa menghadap ke arah Agung, mulutnya di paksa terbuka, matanya melotot ke arah Agung, dan cahaya putih keluar. Agung menyerap kekuatan dari Mila,
Anggi syok melihat hal tersebut, segera terjatuh, sementara Agung terus memegangi tangan Mila yang hendak melawan, kini level Agung semakin bertambah. Sementara Mila Terlihat begitu lemah, dan merangsang tenang.
Mila terlihat perlahan tampak normal dan cahaya itu tampak menipis, hingga akhirnya berlahan redup. Agung menurunkan cengkraman di leher Mila.
Setelah meninggalkan Mila, Agung segera mendekati Anggi yang terlihat begitu syok melihat hal tersebut. Agung memeluk Mila kemudian menghubungi pengacaranya, Agung masih memeluk erat pinggang Anggi.
Hingga suara sirine polisi terdengar begitu ruih, seorang laki laki yang menunggui Agung terlihat begitu panik, ia takut di jebak, pasalnya ia sudah hampir satu jam di sana. Mau pergi belum di bayar, tak pergi terdengar seperti suara orang yang berkelahi di atas, laki laki paruh baya itu jelas khawatir dengan penumpangnya, belum lagi adanya indikasi penculikan.
Polisi menemukan keberadaan mereka, mereka segera memanggil beberapa polisi lainnya beserta pengacara Agung.
"Anda tidak apa apa?" Pak Wijaya tampak panik melihat keadaan wajah Agung yang lebam dan berdarah.
"Cepat bantu mereka berdua," pinta Agung menunjuk ke arah Purwono dan Malik. "Mereka juga korban penculikan gadis tersebut," ujar Agung menunjuk ke arah Mila.
"Gadis itu?" Pak Wijaya jelas bingung bagaimana gadis itu bisa melakukan hal tersebut.
"Iya kemarin juga teman kami jug menjadi korbannya, bernama Fadila."