
Di sebuah ruangan dengan besar 5 X 6 meter, Agung, Anggi dan pak Wijaya tengah duduk, Agung dan Anggi duduk di sofa panjang, sementara pak Wijaya duduk di kursi sofa single. Pak Wijaya tampak meletakkan beberapa kertas yang berada di satu tas, dan beberapa map. Salah satunya adalah bukti kema*tian dari orang tua Agung, yang di duga beberapa keterlibatan orang lain.
Agung duduk sembari memandangi wajah pak Wijaya dengan tegang, ia penasaran tentang kematian orang tua nya. Begitupun Anggi, wanita itu penasaran akan apa yang di sampaikan oleh pak Wijaya. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk menghibur Agung.
"Jadi begini, menurut penyelidikan yang kami lakukan ada banyak kejanggalan kematian dari orang tua mu," ujar pak Wijaya membuka suaranya, setelah supir mereka membawa makanan dan minuman ke ruang tamu.
Wajah Agung menegang, mengetahui hal tersebut. Ingatannya kembali ke masa lalu di mana dirinya mengalami kecelakaan, kala dirinya dan keluarganya tengah melakukan tamasya, namun kecelakaan besar membuatnya kehilangan kedua orang tuanya. Tanpa sengaja air mata Agung menetes.
Melihat kesedihan agung Anggi segera mengusap lembut punggung Agung, berharap Agung tetap kuat. Meski tak ada perubahan di wajah Agung, namun Anggi tetap berharap agar laki laki itu kuat, dan tabah mendengarkan kebenaran itu.
"Itulah kenapa kami menyembunyikan mu selama ini, kami khawatir kau akan mendapat banyak masalah atau bahkan ingin di habisi juga," lanjut pak Wijaya, mengeluarkan satu buah map. Kemudian membukanya, pak Wijaya tampak menjejerkan beberapa foto di dalam sana.
Agung terdiam di sana tampak pamannya tengah bersalaman seorang laki laki yang memakai jas hitam dan dua laki laki lainnya, Agung merasa kenal orang tersebut. Ya dia adalah laki laki yang pernah ia temui, tidak salah salah lagi.
Bukan hanya Agung, Anggi juga terkejut melihat hal tersebut. Ia merasa tak percaya, bahkan laki laki itu merupakan orang yang ia kenal. Apa sifat ramah mereka hany untuk ramah tamah saja? Apa sebenarnya yang terjadi.
"Aku menduga kalian telah mengenalnya," ujar pak Wijaya menunjuk ketiga laki laki tersebut. "Mereka adalah pembunuh bayaran, yang di duga memiliki keterlibatan di dalam kema*tian ayah mu."
Tangan Agung kembali mengepal, emosinya semakin naik. Matanya menajam rasanya ia hendak menghabisi siapapun yang ikut dalam tragedi kema*tian orang tuanya.
"Bukan hanya itu salah satu pejabat yang bermasalah saat itu turut ikut campur dengan kema*tian orang tuamu. Karena saat itu orang tua mu tengah menangani kasus orang orang besar tersebut, ini dia orangnya," lanjut pak Wijaya menyerahkan saah seorang yang laki laki yang tampak gagah tengah tersenyum ke arah kamera. Agung lagi lagi tau siapa orang tersebut, wajahnya terlalu sering muncul di layar lebar, berpidato tentang keadilan masyarakat. Benar benar manipulator hebat.
Melihat emosi Agung yang tinggi, Anggi segera menarik Agung ke dalam pelukannya. "Aku akan selalu ada, apa pun rencana selanjutnya," bisik Anggi, yang jujur saja meski bukan orang tuanya namun dia merasa sakit juga mendengar seluruh ucapan dari pak Wijaya.
Agung memejamkan matanya merasakan hangatnya pelukan Anggi, dadanya sangat sakit saat ini. Agung telah memutuskan untuk membalaskan kema*tian orang tua nya detik itu juga.
"Kita harus mencari cara untuk meminta keadilan untuk kedua mu, hingga saat ini aku belum memiliki cara untuk menjeratnya, dulu telah ku bawa ke kepolisian, namun bukti yang aku miliki menurut mereka belum kuat, bahkan saat itu aku hampir mendapatkan masalah karena ingin membuka kasus ini, yang dinyatakan kecelakaan biasa."
"Terimakasih pak, kami mohon kerjasamanya kali ini ya pak, kami harus mengungkapkan kema*tian orang tua Agung," ujar Anggi mewakili Agung yang tampak masih betah berdiam diri di dalam pelukan hangat Anggi.
"Tolong hubungi saya jika membutuhkan sesuatu," ujar pak Wijaya. "Saya harus pergi, saya masih harus mengurus beberapa kasus, tempat ini akan di jaga oleh beberapa pengawal saya, mohon perhatikan keadaan Agung, saya tahu ini memang sangat menyakitkan untuknya."
"Iya pak," ujar Anggi segera mencoba mengajak Agung untuk berdiri. Ia tahu laki laki yang ada di hadapannya adalah pengacara hebat dan terkenal, mungkin saja saat ini ia sengaja meluangkan waktunya untuk memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya. "Mari pak kami permisi dulu."
Anggi masih mengira ini adalah rumah pak Wijaya sang pengacara kondang dengan kekayaan yang berlimpah.
"Saya yang harus permisi, mulai hari ini kalian akan tinggal di sini, sisahnya saya serahkan kepada mu nak Agung, apapun keputusan mu sekuat tenaga saya akan mendukung kamu. Setelah kamu merasa baik baik saj hubungi saya," ujar pak Wijaya menghentikan Anggi yang ingin berdiri.
Agung segera melerai pelukannya, emosinya sedikit reda. Matanya telah kembali ke awal, tadi ia sadar dari arah televisi matanya sedikit berubah, mungkin karena emosinya yang sangat besar.
Agung menggandeng tangan Anggi untuk mengantar pak Wijaya. Toh tetangga mana yang akan peduli dirinya tinggal dengan siapa. Tembok besar nan kokoh telah menghilangkan jejak keberadaan mereka. Hanya orang orang tertentu yang mengetahui keberadaan mereka.
Setelah pintu tertutup, Agung kembali mengajak Anggi duduk di sofa empuk yang Anggi yakini mahal harganya. Anggi masih bingung dengan keadaan ini, ia ingin bertanya namun merasa ini belum waktunya.
"Maksud mu apa berbicara begitu?" Anggi jelas bingung dengan maksud perkataan dari Agung.
"Tetap di sisi ku, jangan pernah menjauh. Mulai saat ini semua akan berubah, aku tak ingin kau meninggalkanku," ungkap Agung penuh misteri.
Anggi memicingkan matanya, merasa ada sesuatu yang menjanggal, ia kenal siapa Agung. Ini seperti bukan agung biasanya. "Apa kau berniat untuk membalaskan kema*tian orang tua mu?"
"Jangan tinggal aku Nggi, aku cuman punya kamu untuk ku berdiri," Agung justru menjawab lain pertanyaan Anggi.
"Apapun itu aku mendukung mu. Aku akan berusaha membatu mu semaksimal mungkin," ujar Anggi yang sudah mengerti akan maksud dari agung.
Agung tersenyum mengusap lembut wajah Anggi. "Terimakasih," ujar Agung berbisik nyaris tak terdengar, Anggi mengangguk sembari tersenyum. "Boleh aku memeluk mu?"
"Iya," balas Anggi dengan berbisik juga.
Agung tersenyum kemudian menarik Anggi ke dalam pelukannya, menutup matanya meresapi kebersamaan mereka, hingg akhirnya ia harus menyusun rencana membalaskan dendam yang menebar di hatinya.
^^^Aku tak akan memaafkan mu, kema*tian orang tua ku akan segera ku balas dengan setimpal.^^^
Perlahan mata Agung sedikit demi sedikit berubah menjadi kuning ke emasan, seolah membuka permainan untuk para lawan.
............
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
Terimakasih...