The controller

The controller
The Controller XI



Kau adalah pion ku.


"Ingat mulai sekarang kau adalah pion ku."


Seketika waktu seolah berhenti, tiba tiba sebuah layar muncul di hadapan Agung. Agung tersenyum, benda bulat terlihat semakin bertambah. Agung saat melihat sebuah tulisan tepat berada di hadapan pak Arman, sayangnya pak Arman tak mampu melihatnya.


"Selamat kamu telah memenangkan poin, mengalahkan penindas kepala sekolah. Poin bertambah sebanyak tiga puluh," Agung tersenyum. "Enam puluh poin lagi maka anda akan mendapatkan peningkatan level dari level satu ke level dua."


"Sudah ya pak, mulai sekarang ingat posisi bapak ya, say keluar dulu," ujar Agung segera keluar meninggalkan ruangan pak Arman.


Pak Arman menggeram kesal memandang punggung Agung yang kini telah hilang seiring tertutup nya pintu ruangannya.


Pak Arman segera mengambil ponselnya dan tampak menghubungi seseorang.


Sementara itu di dalam kelas, tampak seluruh murid tengah menulis, mendengarkan seluruh penjelasan guru mereka dengan konsentrasi. Hingga tiba tiba pintu terbuka, semua mata tertuju ke arah pintu.


Mereka adalah Agung, Anggi, Fadila dan Angkasa keempat orang itu masuk secara serentak. Seketika pembelajaran terhenti, sementara semua anak tampak memperhatikan mereka.


"Lain kali jangan berkelahi, ayo duduk. Kalian sudah ketinggalan banyak," ujar guru tersebut mempersilahkan keempatnya. "Fadila terimakasih telah menjadi ketua kelas yang baik."


"Iya Bu tak masalah, setidaknya si biangnya sudah kami ketahui. Ternyata mereka hanya korban adu domba seseorang," ujar Fadila melirik ke arah Mila, seketika gadis itu menahan nafasnya, seolah terhenti.


Entah kenapa tiba tiba perasaan Mila menjadi tidak enak, Mila pikir pasti ada sesuatu yang salah, namun dia tidak tahu pasti itu apa, Mila memilih untuk diam seolah tak tahu apa apa. Setidaknya semua orang akan melihatnya orang yang tak tahu apa apa, dan mungkin saja jika terjadi sesuatu, orang orang akan mengira bahwa dirinya lah yang korban.


Ke empat siswa siswi yang baru saja bermasalah kini kembali ke bangku masing masing, pembelajaran kembali di lanjutkan. Hingga akhirnya seorang siswa datang kembali ke kelas mereka meminta agar Mila datang ke ruang kepala sekolah.


Mila dengan sedikit tegang segera beranjak, namun wajah tanpa dosa ia pertahankan, sehingga mereka mengira itu adalah sesuatu hal yang lain.


Sementara Agung yang melihat hal tersebut tersenyum samar. "Ternyata dia benar benar menuruti ku, kau benar benar orang yang dapat bekerja sama," mata Agung terus melirik ke arah Mila, yang kini telah berada di ambang pintu.


"Tumben tu kepala sekolah," bisik Anggi membuat Agung tersenyum menggeleng.


"Dapat hidayah kali" balas Agung membuat Anggi terkikik mendengar nya.


Mila menghadap ke arah pak Arman dengan santainya, ia berkacak pinggang memandang pak Arman yang tampak berfikir keras.


Entah bagaimana laki laki tambun itu meyakinkan Mila untuk mematuhi hukumannya, jelas jika hal ini bocor ataupun di adukan oleh Mila, maka kemungkinan besar ia akan terkena masalah.


"Ada apa pak?" Mila duduk menyilang kan kakinya bak seorang tuan putri.


"Begini..." Pak Arman tampak sedikit bingung cara penyampaiannya.


"Katakan saja pak, aku harus masuk ke kelas kembali," ujar Mila menghela nafasnya. Mila mulai memainkan kuku cantiknya yang berwarna warni. Sudah menjadi aturan khusus bahwa di sekolah itu sebenarnya tidak boleh menghias kuku, namun Mila merupakan salah satu siswi istimewa di tempat tersebut, karena itu ia bebas melanggar aturan apapun.


"Bagaimana bisa? Aku yakin tak ada yang melihatnya," Mila mengerutkan keningnya.


"Kau terlihat di CCTV, bahkan terlihat meletakkan semua spidol di meja Angkasa," ujar pak Arman menjelaskan.


"Apa! Bagaimana bisa?" Mila menggertakkan giginya kesal, bagaimana ia bisa melupakan CCTV? Lagian ia pikir semua aman, bahkan ia dapat mengendalikan kepala sekolah.


^^^^^^Bagaimana mungkin? Bahkan tak ada satu guru pun yang berani menolak perintah ku, lalu bagaimana mungkin? Apa si penjilat ini yang memperlihatkan nya?^^^^^^


Mila jelas melirik kesal ke arah pak Bambang, sungguh membuat laki laki tambun itu menjadi takut sendiri, bukan terhadap kekuatan Mila namun terhadap kekuasaan keluarga Mila.


"Kau...."


"Bukan... Bukan..." Pak Arman jelas memutar otaknya untuk berfikir bagaimana membuatnya tetap aman, jangan sampai gadis manja di hadapannya ini mengamuk, dan mengadukannya.


^^^Bukan kah ia dan Fadila tidak pernah akur? Mereka bukannya selalu berselisih? Ya, Fadila... Fadila, anak itu. Maafkan aku murid ku, aku harus mengorbankan mu demi posisi ku.^^^


"Fadila, ya... Fadila, di yang memaksa ku untuk memperlihatkan CCTV kepada mereka semua," ujar pak Arman dengan keringat yang sebesar biji jagung.


Ini lah yang pak Arman benci dari posisinya, ia selalu di tekan oleh keluarga tersebut. Jika tidak menurut maka posisinya bisa tergantikan setiap saat, karena pasti mereka tak akan suka jika sang kepala sekolah tidak berpihak kepada anaknya. Untuk itulah ia di pilih.


^^^Gadis udik itu kurang ajar sekali, berani sekali ia melakukan hal tersebut. Kau akan mendapatkan balasannya...^^^


Mila menggeram kesal, ia sangat benci kenapa dirinya selalu kalah oleh gadis tomboi itu, bukan hanya dari sekedar kekayaan, bahkan kekuasaan dan cinta pun di rebut oleh gadis itu. Fadila bahkan kerap di jadikan bahan perbandingan ketika orang tuanya merasa dirinya gagal.


Mila menendang meja pak Arman, membuat beberapa barang di atas mejanya terjatuh. Pak Arman jelas terkejut, ia tak menyangka kekuatan gadis itu benar benar besar.


^^^Apa gadis manja ini belajar beladiri? Bagaimana mungkin ia memiliki kekuatan sebesar itu?^^^


Mila yang awalnya menjauh, tiba tiba memandang garang ke arah pak Arman, ia berteriak kesal karena kembali merasa kalah dari Fadila, saingannya sejak mereka masih di taman kanak kanak.


"Ag..." Mila berteriak, secepat kilat ia sudah berada di hadapan pak Arman. Ternyata pemilik kekuatan super yang lainnya adalah Mila.


Sungguh pak Arman terkejut, ia tak pernah menyangka gadis yang ada di hadapannya secepat itu, bahkan dapat ia rasakan cengkraman tangan gadis itu sekuat laki laki yang biasa mengangkat beban berat.


Gadis cantik di hadapannya ini benar benar tak terduga, ia benar benar dalam masalah saat ini, pak Arman bingung bagaimana menghentikan gadis kuat yang tengah mengamuk tersebut.


"Jangan pernah sebarkan kepada siapa pun, atau aku akan benar benar membu*nuh*mu," Mila segera melepaskan cengkraman tangannya dari leher pak Arman.


Pak Arman terbatuk-batuk terduduk di hadapan Mila, nafasnya bak tertahan oleh tangan mungil gadis tersebut. Pak Arman segera bangkit dan memperbaiki pakaiannya.


"Ingat jangan sampai barusan bocor, dan lagi jangan sampai hal ini terjadi lagi. Ini adlh kesempatan terakhir mu," Milla segera keluar dari ruangan pak Arman, berjalan menuju kelasnya. Mencoba menampilkan senyum semanis mungkin seolah dirinya adalah kelinci kecil nan imut.