
Sebuah tempat peristirahatan terakhir, kini hanya tinggal tiga orang saja yang hadir, mereka tampak begitu datar memandangi nisan tersebut.
"Nadia ayo pulang sudah sore," ucapan tersebut mengejutkan wanita yang di panggil Nadia itu. Wanita itu segera berjalan mengikuti langkah dua orang laki laki.
Mereka segera berjalan menjauhi pemakan tersebut dengan sebuah mobil mewah. Nadia terus termenung bahkan ia belum bisa membahagiakan sang kakak namun Robby telah pergi meninggalkannya.
Tanpa mereka sadari dua pasang mata terus memperhatikan wanita itu dengan penuh kerinduan. "Maafkan aku, aku kembali membuat mu menangis."
"Kapan kau akan menemuinya?" laki laki yang di sampingnya memandang ke arah yang sama.
"Kita kembali pulang sekarang," hanya itu yang terdengar dari bibirnya. Merek segera beranjak dari tempat tersebut.
Mobil itu berjalan ke sebuah kediaman yang tampak amat mewah, kemudian mobil tersebut terparkir rapi di antara mobil mewah lainnya. Tampak seorang pelayan datang kepada mereka menunggu perintah sang majikan.
"Kau masih di tempat itu?" laki laki itu tampak menghela nafasnya.
"Tidak orang yang ku selidiki telah berpindah tadi pagi," ujarnya segera menghidupkan batang rokoknya.
..........
Agung tengah duduk di kamar besarnya yang baru pertama kali ia masuki tersebut, pandangannya terus mengarah ke luar balkon, dimana tepat menghadap pemandangan taman dengan air mancur dan taman bunga yang mengelilinginya.
Agung kembali teringat kebersamaan bersama keluarga kecilnya dulu, kemudian ingatan kecelakaan yang dulu ia kira merupakan kecelakaan murni. Dulu ia yang tak tahu apa apa tentang segala hal, menganggap bahwa kedua orangtuanya meninggal dan di letakkan di panti asuhan adalah hal yang biasa, pasalnya semua anak di panti asuhan tidak memiliki orang tua, seperti dirinya. Jadi ia tidak terlalu merasa sedih karena memiliki teman di sana, namun mengetahui semua fakta kematian orang tuanya membuat dirinya menjadi sedih.
Tok... tok... tok.
Sebuah ketukan mengejutkan agung, laki laki itu segera membuka pintu kamarnya, dan tersenyum melihat siapa yang mengetuknya.
Ya, tentu saja Anggi, memangnya siapa lagi di rumah tersebut? Mereka hanya berdua.
"Kenapa? Lapar ya?" Agung segera keluar mengambil ponselnya. "Aku pesan dulu ya."
Agung segera masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya. Melihat Agung yang tampak murung semenjak berita tentang orang tuanya itu, membuat Anggi khawatir. Selama mengenal Agung ini adalah kedua kalinya melihat Agung semurung itu, dulu saat Agung masih kecil dan pertama kali datang.
Anggi yang melihat kesedihan tersebut segera masuk ke kamar Agung, Anggi memegang tangannya Agung, sehingga membuat laki laki itu menoleh ke arah Anggi.
"Gung kamu ga apa apa kan?" Anggi memandangi wajah Agung dengan seksama, terdapat banyak kekhawatiran di sana. Wanita itu benar benar khawatir dengan keadaan Agung.
Agung menghela nafasnya tersenyum ke arah Anggi, dirinya benar benar tak bisa membohongi Anggi tentang keadaannya, Agung segera membawa Anggi ke dalam pelukannya. "Terimakasih telah mengkhawatirkan ku, selama kau selalu ada di sampingku, aku baik baik saja," Agung mencoba tersenyum ke arah Anggi.
"Yah aku tahu itu tidak akan mungkin, mari kita pergi makan. Mungkin bisa memperbaiki perasaan ku," ujar Agung menggandeng tangan Anggi untuk keluar dari kamarnya.
Selesai makan mereka menonton bersama, hingga Anggi tertidur, tiba tiba saluran tv berubah menjadi siaran berita yang menayangkan seorang pejabat yang tengah menjadi narasumber sebuah berita, yang membicarakan tentang permasalah ekonomi yang menyerang saat ini.
"Yang penting itu untuk kepentingan rakyat dulu, kita tidak akan mengambil keuntungan di sini, sudah terlalu banyak keresahan rakyat," ujarnya membicarakan tentang bencana alam tentang penyebaran virus yang saat ini tengah menyerang seluruh dunia.
Laki laki itu tampak diam menunggu jawaban dari wartawan. "Iya silahkan, kami akan mencoba untuk setransparan mungkin. Ini memang di peruntukkan rakyat, saatnya rakyat merasakan semua bantuan dari pemerintah, orang yang harusnya menjaga mereka," kembali laki laki dengan rambut yang mulai memutih tersebut tersenyum ke hadapan kamera.
Wartawan kembali memberikan pertanyaan yang membuat laki laki itu mengerutkan keningnya. "Itu urusannya dengan pihak KPK, kepolisian dan kejaksaan bukan anggota seperti kami, kami hanya mengerjakan tugas sesuai porsinya, sudah dulu ya saya masih ada rapat," laki laki itu segera pergi dari sesi wawancara tersebut, tampak jelas laki laki itu tidak menyukai pertanyaan terakhir wartawan yang mewawancarainya.
Agung tersenyum tampaknya ia tengah merencanakan sesuatu. Agung segera mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang. Agung berjalan ke arah jendela, meninggalkan Anggi yang tengah tertidur pulas.
"Halo aku aku membutuhkan bantuan mu," ujar agung tersenyum misterius.
..........
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
Terimakasih...