The controller

The controller
Mengatur rencana



Agung dan Anggi tampak bersiap siap untuk menyambut tamu mereka, Anggi santai dengan baju kaus dan jeans miliknya, sementara agung juga terlihat santai dengan kaus dan jean. Agung dan Anggi segera duduk di taman menunggu tamu mereka.


Setelah mendengar bunyi klakson bergantian di depan pagar mereka, agung dan Anggi segera membuka pagar mewah mereka, menyambut kedatangan dua mobil mewah yang tampak masuk dan memarkirkan kendaraannya.


Setelah itu Anggi menutup pagar tersebut dengan santai. Takut takut ada seseorang yang melihat aktivitas mereka. Namun karena mereka berada di kompleks perumahan yang cukup elit, maka tidak ada orang yang peduli, bahkan tidak ada orang yang terlihat berinteraksi di sana.


"Silahkan masuk semua," ujar Agung membuka pintunya lebar lebar. Tampak seseorang yang amat Anggi kenal turun dari mobil tersebut, awalnya Anggi pikir mereka hanya memiliki mobil yang sama, namun ternyata laki laki itu yang benar benar turun. Entah bagaimana Agung mengajaknya bekerjasama. Dengan iming iming tak akan mungkin, namun pasti dengan hal sama dengan dirinya.


"Mereka bertiga? Bagaimana mungkin?" Anggi memandang bingung ke arah Agung.


Pasalnya meskipun akhir akhir ini mereka bertiga tak lagi bersebrangan dengan dirinya, namun Anggi tahu betul bahwa salah satu di antaranya tak ingin di atur dan maunya menang sendiri.


"Karena memiliki musuh yang sama dengan kita," bisik Agung menyunggingkan senyum samar.


Mereka masuk ke dalam rumah ruang keluarga yang telah Agung dan Anggi setting seperti ruang meeting room berkonsep santai dengan proyektor untuk memperjelas rencana mereka.


Agung dan Anggi segera mengambilkan minuman dingin yang masih bersegel. Tak ada minuman beralkohol di sana, semua orang tampak meminum air yang di bawa tuan rumah.


"Langsung saja," ujar Nadia tampak lebih fit dari biasanya.


Mula mula Agung menampakkan wajah Buana Abraham, laki laki yang tampaknya akan menjadi target mereka. "Kita semua memiliki masalah dengan laki laki ini," ujar Agung tersenyum.


Semua mengangguk setuju, "Laki laki ini terlibat dalam pem*bu*nu*han kedua orangtuaku. Laki laki ini juga merupakan salah satu pemicu ibu mu meninggal," Agung memandang ke arah anak baru yang ia maksud.


"Iya kau benar," Angkasa membenarkan ucapan dari Agung, tangannya mengepal melihat wajah laki laki itu.


"Dan dia yang menyebabkan kalian terpisah selama hampir tiga belas tahun," ujar Agung memprovokasi agar kebencian orang orang yang di undangnya bekerja sama semakin tinggi.


"Langsung saja," ujar Melvin yang mencoba meredam emosinya.


"Baiklah," Agung menarik sudut bibirnya. "Bulan Juli ke depan akan ada festival terbesar di kota ini, salah satu gongnya adalah pencucian uang dalam bentuk berlian berharga ratusan juta, yang di percaya kepada tuan Buana Abraham, kabarnya itu di simpan di suatu tempat, dimana tempat itu berhubungan langsung di penyimpanan bawah tanah, dengan keamanan yang benar benar ketat," jelas Agung. "Aku telah menemukan cetak biru dari struktur bangunan tersebut," ujar Agung, layar tampak berganti dengan gambar cetak biru yang di maksud oleh Agung.


"Maksud mu kita akan melakukan pencurian?" Nadia melipat kedua tangannya melihat layar proyektor.


Agung mengangguk pasti. "Kita akan melakukan pencurian, menambah kekayaan dan yang pasti memasukkan tuan Buana Abraham ke dalam penjara," ujar Agung mengganti layarnya. "Sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita masing masing seharusnya bisa."


"Maksud mu, aku kau minta untuk membuat berlian palsu?" Robby mengangkat tangannya ketika mengatakan hal tersebut.


"Tepat sekali dulu kau pernah berada di dunia itu bukan? Aku dengar mereka akan menggunakan artis ternama untuk memamerkan berlian tersebut," ujar Agung tersenyum.


"Lalu bagaimana menjalankan aksi kita?" Purwono bertanya dengan nada khawatir.


"Maka dari itu kalian akan menjadi panitia di sana," tunjuk Agung dengan tersenyum. "Aku sudah memasukkan nama kalian berdua di sana."


"Kami berdua?" Malik menunjuk dirinya sendiri dan Purwono.


Agung mengangguk membenarkannya. "Benar tapi lebih tepatnya kalian bedua dan Anggi."


Purwono dan Malik tampak terkejut. "Kalau ketahuan kami mampus duluan dong," ujar Purwono protes. Pikirnya mereka akan di korbankan.


"Tenang saja, tugas kalian adalah tugas yang paling aman, kalian hanya menjadi seorang pengantar minuman, dan pencuci piring. Sementara Anggi yang akan melaksanakan tugas intinya, mencuri kalung tersebut di bantu dengan Angkasa, yang akan meminta tandatangan kepada artis tersebut," jelas Agung meyakinkan. "Sementara Nadia akan menjadi saah satu investor yang akan berpartisipasi."


"Penyamaran," ujar Agung tersenyum pasti. "Aku sendiri yang akan menjadi asisten mu." Semua mengangguk setuju dengan rencana Agung.


"Lalu bagaimana eksekusinya?" Melvin tampak penasaran.


"Ini semua di tentukan oleh mu," jawab Agung. "Kau akan menjadi mata mata kami di sana, menjadi tangan kanan Buana Abraham akan memudahkan mu," ujar Agung tersenyum ke arah Melvin. "Mengetahui seluruh jadwal dari Buana Abraham, pasti akan sangat mudah. Bahkan mengetahui siapa aktris yang akan merek pakai."


"Ok selanjutnya?" Angkasa membuka suaranya.


"Selanjutnya adalah kita hanya punya waktu lima menit untuk melaksanakan misi ini, sebelum acara festival berlangsung, Anggi dan Angkasa yang melakukan pencurian tersebut," ujar Agung.


"Tak semudah itu," bantah Angkasa. "Barangnya akan sangat sulit untuk keluar, kau tahu banyak penjaga."


"Tentu saja, tapi itulah kenapa kau ada. Sebagai tamu VVIP kau akan sangat mudah keluar dari tempat artis tersebut, kemudian kau akan memberikannya kepada Purwono yang bertugas sebagai pengangkat minuman, sementara Malik akan membawakannya kepada Robby yang akan memegang berlian palsu tersebut, dan menukarnya," jelas Agung tersenyum.


Robby memperbaiki jasnya, dirinya boleh berbangga dengan hal tersebut. Namun Melvin tampak melihat sebuah kekurangan di sana. "CCTV, akan ada banyak CCTV yang terletak di sana, ujar Melvin tampak menarik nafasnya.


"Karena itu lah..." Agung tampak melihat sekitar peserta rapatnya hari ini. "Huh, dia pasti terlambat."


"Siapa?" Angkasa penasaran siapa lagi yang mereka ajak.


"Ini..." bunyi ponsel Agung membuat laki laki itu menghentikan kata kata nya. "Halo, kau sudah di depan? Ya Anggi akan menjemput mu."


Anggi yang telah mengerti segera keluar dan menjemput orang yang di maksudkan oleh Agung, saat sampai di depan Anggi terkejut melihat siapa yang datang.


...........


Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.


Caranya mudah kok.



Follow


Like


Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.


jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...



Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.


"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MISAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...


Terimakasih...