The controller

The controller
The controller XIV



Bell sekolah berbunyi, Anggi dan Agung seperti biasnya pulang besama sama, Agung dan Anggi memilih menaiki bus namun berbeda jalur ke kosan mereka. Agung dan Anggi seperti biasanya berencana untuk memakan bubur bersama.


Bus mereka terhenti di halte tepat di samping taman, yang biasa anak muda datangi. Agung menghentikan langkah kakinya teat di samping sebuah bangku kosong yang terdapat payung besar tempat berteduhnya.


"Kenapa?" Anggi jelas bingung dengan Agung yang tiba tiba berhenti, bukannya rencana mereka akan makan di warung bubur biasanya? Apa Agung memiliki rencana lain?


"Kamu tunggu di sini, biar aku yang pergi mengantri," ujar agung tersenyum ke arah Anggi.


"Lah emang kenapa?" Anggi mengerutkan keningnya.


"Kan kaki kamu masih sakit," Agung mencubit pipi Anggi dengan gemas. "Jadi tunggu di sini aja, kan antrinya bakal lama, kmu nunggu di sini aja sambil main hp, kalau ada apa apa telfon ya."


Anggi mengangguk mengerti dirinya hampir lupa dengan keadaan kakinya yang masih pincang dan sakit jika berjalan.


Agung berjalan dari tempat tersebut ke warung bubur langganan mereka, tampak di sana banyak orang. Anggi masih dapat melihat nya dari jauh. Karena tempatnya tak jauh dari warung bubur tersebut. Agung bahkan terlihat masih tersenyum ke arahnya saat mengantri.


"Selamat mengantri ria," Anggi mengambil foto Agung kemudian menjadikannya status di pengiriman pesan mau singkat atau panjang.


Agung yang melihat status Anggi tersenyum, benar benar lucu menurut Agung yang memang menaruh perhatian lebih kepada Anggi.


"Tunggu di sana, jangan kemana mana," Agung membalas status Anggi dengan memotret jarak jauh ke arah Anggi.


"Udah ngantri yang sabar di sana, jangan Meleng, nanti ada yang nikung antrian," Anggi kembali mengirim pesan kepada Agung.


"Siap bos ku," tulis Agung kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Karena di sini memang benar sering terjadi pertikaian hanya karena kasus penikungan antrian oleh pihak yang tidak memiliki rasa sabar yang tinggi. Ujung ujungnya salah satu koki bubur akan turun tangan mengancam mereka dengan pisau dapur, dan otomatis melambatkan pembuatan bubur tersebut. Karena di antara para tukang bubur yang belum berminat naik haji tersebut, koki bubur lah yang paling seram dan berbadan besar.


Sementara di taman, Anggi terlihat memainkan ponselnya berselancar di dunia maya, dan bermain game. Cukup lama ia menunggu Agung yang tengah mengantri, hingga akhirnya ia memilih untuk duduk melihat sekitar yang seharusnya masih ramai, namun hari ini tampak sedikit sepi, bahkan hanya satu atau dua orang aja yang ada di sana. Wajar saja mungkin karena tengah musin hujan, dan mereka tak tahu kapan saja terjadi hujan.


Tanpa Anggi sadari sesosok mata terus memperhatikannya, dengan senyum yang tak dapat di artikan. Ia tampak senang menemukan Anggi sendirian tanpa di dampingi oleh Agung, atau mungkin juga ia senang karena di sekitar tampak sepi.


"Kau akan datang ke tempat ku, dan akan mengembalikan semua apa yang kau ambil dari ku," ujar orang misterius tersebut terus memandang ke arah Anggi yang saat tengah bersender di bangku taman tersebut, sembari sesekali memotret dirinya.


Lama agung mengantri, ia telah sampai di dalam, dan melihat para pembuat bubur yang tampak begitu sibuk. Mereka tampak tampak kekurangan anggota tersebut. Mereka tampak lebih sibuk dari biasanya.


Karena Agung telah terlalu lama menjadi pelanggan mereka, bahkan kini Agung hafal siapa saja yang menjadi pegawai di warung bubur tersebut, dan tampaknya mereka kurang satu personil. Agung penasaran kemana laki laki itu, mungkin inilah yang membuat mereka sedikit lebih lambat dalam melayani, padahal laki laki itu biasanya cekatan dalam mengantar pesanan pelanggan. Untung saja Anggi tidak ikut bersamanya, jika ia pasti wanita itu akan mengantri lama.


Setelah mengantri lama akhirnya tiba giliran Agung untuk memesan makanan yang biasa ia pesan.


"Eh mas Agung ya? Pesanan yang biasa? Pacarnya mana mas?" Hiro tampak tersenyum manis ke arah Agung.


"Oh dia sedang sakit jadi saya minta untuk menunggu di taman saja," ujar Agung tersenyum.


"Jadi bungkus ya mas," Hiro segera meyiapkan makanan bungkus untuk Agung.


"Lah mas satunya mana? Kok belum datang? Padahal beberapa hari yang lalu ada," Agung celingak celinguk mencari salah satu pegawai warung bubur tersebut.


"Oh mungkin kecapean kali, semoga cepat sembuh ya masnya," ujar Agung menyampaikan bela sungkawanya.


"Iya terimakasih mas," jawab Hiro, yang hanya membenarkan ucapan Agung, karena tak mungkin ia menyampaikan yang sesungguhnya. Yang ada pelanggannya ketakutan ke tempatnya, jika mengetahui pekerjaan tetap para penjual bubur tersebut.


Agung keluar dari warung tersebut, kemudian merasakan ponselnya berbunyi. Agung segera merogoh ponselnya dan tersenyum melihat siapa menelponnya, mungkin gadis itu bosan menunggunya yang memang lebih lama dari biasanya.


Yang menelponnya itu adalah Anggi, Agung menggeleng kemudian menekan tombol angkat di layar ponselnya.


"Halo lama ya nunggu nya, ini sudah keluar. Sudah mau jalan ke taman," ujar Agung tersenyum.


"Halo juga Agung..."


Agung terkejut mendengar suara penelpon tersebut, Agung sudah bisa menebak siapa yang menelponnya dengan menggunakan ponsel Anggi.


"Mila..." Agung bergumam terkejut mendengarkan nya, laki laki itu segera berlari ke arah taman dan mendapati Anggi tidak ada di tempat, hanya ada tasnya yang tergeletak begitu saja di bangku yang Anggi duduki.


"Apa yang kau lakukan? Kemana Anggi?" Agung kesal amarahnya naik.


"Kau begitu khawatir dengan kekasih mu? Tentu saja dia saat ini baik baik saja, atau... aku rasa dia saat ini tengah lemas karena kehabisan tenaga," ujar Mila semakin menakut nakuti Agung. Mila begitu menginginkan kekuatan dari Agung, pasalnya sangat berbeda dari yang lain. Pastinya menghisap level dari Agung akan membuatnya semakin kuat.


"Kau..." Agung menggeram, itu artinya saat ini Anggi telah menjadi korban dari peningkatan kekuatan Mila.


"Kau tenang saja dia tidak akan ma*ti namun mungkin hanya koma saja, datang lah ke tempat ku, di jalan xxx1 aku berada di gedung kosong, datang lah, dan cari keberadaan ku, sebelum kekasih mu benar benar kehabisan daya," ujar bila di seberang sana, kemudian segera mematikan ponselnya.


Agung segera menghubungi pengacara keluarganya pak Wijaya. "Halo..." Agung terdengar begitu cemas, sembari mencari taksi untuk di tumpangi nya."


"Halo, ada yang bisa say bantu?" Pak Wijaya terdengar begitu tenang di ujung sana.


"Tolong saya, teman saya di Sandra oleh seseorang," ujar Agung panik. "Taxi," teriak agung ketika sebuah taksi menurunkan penumpangnya.


"Kemana pa?"


"Ke jalan xxx1, di dekat gedung kosong," ujar Agung mencoba setenang mungkin.


"Waduh gedung kosong ada tiga di sana pak yang mana?"


"Yang mana saja yang penting cepat, saya akan membayar kamu nanti," ujar Agung melupakan telfonnya.


"Halo tuan, bagaiman? Apa saya panggilan polisi?" Pak Wijaya terdengar begitu jelas di seberang sana.


"Iya kirimkan polisi," ujar Agung.