The controller

The controller
Rencana sesungguhnya



"Apa apaan ini!" Angkasa datang dengan wajah yang amat kesal, pasalnya ia mengira akan mendapatkan sebagian dari berlian tersebut, namun ternyata semuanya mereka kembalikan dan hanya di gunakan untuk menjebak tuan Buana Abraham.


Ia merasa di per alat oleh Agung, meski dirinya memang memiliki dendam terhadap tuan Buana Abraham. Namun uang dari berlian juga cukup banyak, ia menginginkannya. Angkasa ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa dirinya dapat di banggakan dengan membangun usaha sendiri.


"Tenang lah," ujar Agung tersenyum ke arah Angkasa. Agung membuka sebuah lemari yang sejak kemarin tak pernah ia buka. "Lihat lah," lanjut agung sembari membuka pintu lemari tersebut.


Ternyata di dalam lemari tersebut terdapat banyak berlian berbagai bentuk, ternyata kejadian tersebut hanya pengalihan perhatian agar mereka dapat mencuri lebih banyak berlian lagi.


Flashback.


Ketika pemeriksaan terjadi, ternyata Agung mengajukan diri sebagai orang ketiga dalam pemeriksaan tersebut. Agung kemudian mundur ke arah belakang, ia memberi Anggi, Nadia dan Robby kode agar mengikutinya.


"Saatnya beraksi," ujar Agung. Mereka segera berjalan ke sebuah ruangan yang ternyata tidak di jaga akibat merek terlalu sibuk mencari berlian asli yang telah diletakkan di dalam saku tun Buana Abraham.


"Fadila matikan CCTV tempat di sekitar penyimpanan berlian," ujar Agung memerintahkan Fadila mematikan cctv sekitar berlian berlian yang akan di lelang. "Hilangkan setiap jejak kami hingga memasuki kembali dari mobil milik mu."


Fadila segera melaksanakan perintah dengan menekan beberapa tombol, mengarahkan kursor nya, kemudian menggantikannya dengan sebuah gambar lain, sehingga dari ruangan pemantauan CCTV utama tidak ketahuan.


Agung segera membuka ruang tersebut dengan menggunakan kartu staf yang ia curi. Ternyata kartu milik Anggi tak dapat ia gunakan. Karena yang mampu masuk ke dalam hanya orang orang yang khusus saja. Orang orang yang menjadi kepercayaan tuan Buana Abraham.


Ketika masuk mereka terkagum melihat banyaknya jumlah perhiasan berhiaskan berlian berharga di sana.


"Wah kalau begini untung banyak kita, aku heran kenapa mereka begitu mudah terkecoh," Robby menggelengkan kepalanya mengingat seluruh perhatian orang orang terpusat kepada pemeriksaan yang tengah terjadi, bahkan tak satupun keamanan menjaga tempat tersebut.


Mereka berempat segera memasukkan berlian berlian tersebut ke dalam jas dan tas yang di kenakan oleh Robby dan Agung, sementara Nadia segera memasukkannya ke dalam tas yang ia kenalkan. Anggi sendiri membawa sebuah plastik dengan bentuk tas untuk memasukkan beberapa berlian.


"Halo hati hati ada orang yang sedang berjalan ke arah ruangan kalian. Sekarang segera keluar," ujar Fadila yang melihat seseorang datang ke arah ruangan tersebut.


mendengar intruksi Fadila, mereka segera mengintip ke arah luar. "Sorry guys kalian tidak sempat keluar sebaiknya kalian sembunyi saja," ujar Fadila.


"Mundurlah kalian biar aku yang menanganinya," ujar Agung tersenyum. Mereka segera mengikuti intruksi Agung dengan bersembunyi. Ketika laki laki itu masuk, agung segera menekan leher laki laki itu, dan menutup pintu ruangan tersebut.


Seketika laki laki itu menganga dan matanya melotot ke arah Agung. Sebuah cahaya membuat penglihatan kaki laki itu menghilang, dan keadaannya menjadi semakin lemas. Tak lama kemudian tak sadarkan diri, agung segera menekan beberapa titik untuk menghilangkan ingatan laki laki itu, dan menghilangakn jejaknya dari sana.


"Ayo keluar," ujar Agung.


Mereka segera berjalan ke arah mobil yang di tempati Fadila. Tampak orang orang masih di periksa satu persatu. Sementara Anggi yang tengah membawa kantung sampah kini tengah di hentikan, kantung itu terlalu cepat dan terlalu mencurigakan untuk di keluarkan saat ini.


"Berhenti apa isi barang itu?" tutur salah satu di antara mereka.


"Mari kami periksa dulu," orang orang tersebut segera memeriksa kantung yang di bawa oleh Anggi. Sebuah bau menyengat ketika mereka membuka kantung tersebut, terlihat beberapa makanan busuk di sana.


Melihat penjaga tengah sibuk memeriksa bawaan dari Anggi, Nadia, Robby dan Agung segera berjalan mengendap endap keluar dari tempat tersebut.


Sementara pada penjaga itu segera mengorek kantung tersebut dan tak menemukan apa apa, selain sampah lainnya.


"Silahkan lewat," ujar salah satunya.


Setelah sampai Fadila tengah tersenyum ke arah mereka. Fadila segera memasukkan hasil curian mereka ke dalam sebuh peti hitam.


Tak lama kemudian Anggi telah datang menyerahkan barang yang ia bawa. Ternyata di dalam sampah tersebut Anggi menyelipkan sekantung perhiasan untuk mereka curi. Terlihat semua menjadi begitu lega melihat kedatangan Anggi.


Ke empatnya kemudian berjalan meninggalkan Fadila dan kembali ke tempat pemeriksaan, Agung segera mendekat ke arah pak Wijaya yang sejak tadi terlihat mengamati jalannya pemeriksaan.


"Kenapa kau lamban?" Pak Wijaya tampaknya belum membaca gerakan Agung.


"Aku buang air besar dulu," bisik Agung membuat pak Wijaya mengangguk.


flashback end.


"Bagaimana?" Agung tersenyum ke arah Angkasa.


Melihat semua berlian berlian tersebut, sungguh Angkasa terkejut bukan main. Ternyata mereka mengikhlaskan Berlin yang tak seberapa harganya dengan berlian berlian tersebut yang jika di total tak ada berlian yang merek jadikan umpan tersebut tak ada apa apanya.


"Mantap Gung," ujar Malik mendahului ucapan Angkasa.


"Dengan menjualnya di pasar gelap maka kita akan mampu mendapatkan uang yang banyak," ujar Melvin tengah tersenyum ke arah Angkasa yang terlihat masih melongo.


"Kalian melakukan hal ini? Tanpa memberitahu ku?" Angkasa tampak sedikit kesal.


"Bukan begitu, kemarin kami melihat beberapa orang selalu mengintai mu, kami takut jika mereka meletakkan penyadap di sekitar mu," ujar Agung memberikan beberapa pria yang kerap kali mengikuti Angkasa.


"Cih bapak tua itu, dia pikir aku anak kecil? Itu dari papa ku," ujar Angkasa terlihat kesal.


"Yah, setidaknya kita bisa membangun usaha besar setelah ini," ujar Agung tersenyum.