
Agung memasuki ruangan rawat Anggi, laki laki itu melihat Anggi tengah memainkan ponselnya.
Agung segera mendekat dan menyodorkan makanan kepada Anggi. "Makan dulu gih," ujar Agung tersenyum ke arah Anggi.
Namun bukan makanan yang Anggi lihat, pakaian Agung yang berantakan lah yang Anggi lihat. Bahakan Anggi dapat menebak kancing baju Agung telah terlepas.
"Ya ampun... Kamu pasti di kerjain sama Angkasa the geng kan? Baju kamu kusut banget..."
Kekhawatiran Anggi tersebut membuat senyum di bibir Agung terbit. "Nanti aja ngurus baju aku, kamu makan dulu," ujar Agung membuka bawaan yang ia pegang.
"Lah ini kan..." Anggi syok melihat makanan yang di bawa oleh Agung, sungguh dirinya memang dari dulu menginginkan makanan tersebut, namun dompet tidak mendukung akan hal tersebut.
"Iya, tadi aku mampir dulu ke sana,"
"Kamu bayar pakai apa?"
"Tadi aku nolongin bapak bapak yang lagi kecopetan, jadi aku di kasih uang sama di ajak makan, sekalian aku minta bungkus ini ternyata bapak bapaknya baik banget, bolehin aku bungkus makanan ini,"
"Jadi kamu ini karena ngejar copet?" Anggi memandang tak percaya ke arah Agung.
"Iya semua jadi gini deh, tapi aku bawa kancingnya," Agung segera merogoh kantung depannya untuk memperlihatkan kancing kemejanya kepada Anggi.
"Kebiasaan," Anggi menggeleng meraih kancing baju Agung.
"Ayo makan dulu,"Agung mengusap lembut kepala Anggi sembari tersenyum.
"Iya, makasih ya."
...........
Saat ini mereka telah kembali ke kosan, mereka memutuskan untuk menaiki bus kota. Selain lebih tenang, mereka hanya butuh sekali persinggahan
Selama di perjalanan, Anggi terus tertidur, sementara Agung terus berfikir bahwa apa yang terjadi kepada dirinya. Entah kenapa ia melihat segalanya menjadi berubah, Ia dapat mendengar bahkan dari detak jam tangan penumpang lain, yang rasanya berdetak terus menerus selama setiap satu detik.
Semua orang rasanya terus berbicara dengan lamban, ia pikir dirinya hanya sakit akibat terlalu lelah. Namun entah kenapa ia merubah pemikiran tersebut, ketika melihat Anggi hampir terjatuh karen supir melakukan rem mendadak pada bus tersebut. Dan Agung dapat dengan cepat menangkap tubuh sahabatnya agar tak terjatuh.
Di saat yang bersamaan agung tanpa sengaja melihat seorang laki laki yang tampak memperhatikan bus mereka, laki laki itu tampak mengenakan jaket dengan penutup kepalanya. Entah kenapa laki laki itu tampak begitu misterius, dan aura kegelapan rasanya meliputi tubuh laki laki tersebut.
Mereka baru saja memasuki gerbang kosan tersebut, Agung tampak menggendong Anggi di pundak sejak turun dari bus tadi. Tampak ibu kos macan tutul telah menunggu dan mengabsen semua anak anaknya. Wanita itu memang tampak galak dan mengesalkan, jangan lupakan kepelita nya yang haqiqi. Mantapu jiwaaaaaa.
Namun wanita itu cukup perhatian dengan anak kosnya, buktinya sebelum mereka kembali satu persatu, ibu kos akan terus menunggu dirinya, terkecuali anak kost itu sendiri yang memberitahukan bahwa dirinya pulang terlambat. Jangan kan begitu bahkan tiap tiap akhir bulan maupun awal bulan, ibu kos macan tutul itu pun pasti akan menunggui seluruh anak kost yang belum membayar.
"Dia kenapa?" Pertanyaan pertama yang meluncur ketika melihat Anggi di gendong belakang oleh Agung.
"Kecelakaan tadi pagi," ujar Agung berhenti di hadapan ibu kosnya. Tampak Anggi menutup matanya, sembari menyenderkan kepalanya di pundak Agung.
"Oalah ayo segera masuk ke dalam kamar," ujar ibu kos yang menyingkir dari hadapan Agung. "Eh jangan di tangga, Agung lagi ngangkat Anggi."
Se_galak apa pun ibu kost tersebut, namun jiwa keibuannya tetap ada, ia tetap merasa khawatir jika ada anak kost nya yang mengalami kecelakaan.
Setelah Agung meletakkan Anggi secara perlahan di atas tempat tidur, Agung segera melepas sepatu dan kaus kaki yang melekat di kaki Anggi.
Anggi terbangun, ia tersenyum memandang ke arah Agung. "Makasih ya Gung," ujar Anggi segera bangkit dan menyenderkan kepalanya.
"Ingat kata dokter kamu harus istirahat dulu," ujar Agung mengusap lembut kepala Anggi.
"Tapi kerjaan kita malam ini gimana?" Anggi sedikit terlihat cemberut ke arah Agung.
"Untuk sementara waktu aku ga ngambil dulu sampai kamu sembuh," Agung segera duduk di samping kasur Anggi, Agung segera meraih tangan Anggi.
"Tapi kan yang sakit kaki aku, bukan yang lain," Anggi tampak tak terima, mereka harus mengumpulkan banyak uang untuk biaya sekolah, terlebih mereka saat ini tengah berada di kelas tiga SMA, sebentar lagi masuk universitas, mereka pasti butuh uang banyak.
"Tapi tetap aja, harus banyak istirahat," ujar Agung menyentil dahi Anggi dengan pelan. Anggi segera mengusap pelan dahinya.
"Besok ambil lagi ya, sayang uang nya," ujar Anggi masih cemberut.
"Dasar mata duitan," Agung terkekeh melihat Anggi yang tampak bersungut kesal.
"Kalau ga gitu kita ga makan Agung, kita juga mau masuk universitas Gung," ujar Anggi gemas sendiri kepada Agung.
"Iya iya..."