The controller

The controller
Penangkapan tuan Buana Abraham



"Kenapa diam tuan, bukan kah yang Agung katakan benar? Namun tentu keikut sertaan anda dalam kematian adik anda tidak benar bukan?" Pak Wijaya tampak tersenyum sinis ke arah tuan Buana Abraham. "Atau memang benar adanya, tapi itu sangat tidak mungkin. Mengingat ibu Agung merupakan adik anda satu satunya."


Semua orang berbisik, namun suaranya sedikit lebih kecil. Karena takut akan menyinggung tuan Buana Abraham, mereka semau tahu bahwa laki laki itu dekat dengan orang orang yang berkuasa mengatur hukum. Bahkan tuan Buana Abraham sering di katakan melakukan segala hal demi mendapatkan keinginannya, termasuk memalsukan hukum demi keinginannya. Bahkan sekelas pak Wijaya saja dahulu pernah tak berkutik karena kekuasaan tuan Buana Abraham.


Namun sesuatu hal mengejutkan terjadi, mereka sedikit bertanya tanya, apakah benar dugaan keduanya. Tetapi tuan Buana Abraham terlihat begitu amat menyayangi keluarganya, mungkin kah kepada adiknya sendiri dia begitu tega?


"Itu tidak mungkin, pasti dulu terjadi kesalahan. Saat itu aku mencari mu, dan menjaga semua peninggalan orang tuanya. Karen itu rumah itu saat ini..."


"Terjual," sambung Agung tersenyum menantang ke arah tuan Buana Abraham. "Rumah itu saat ini telah ku beli," sambung nya.


"Tidak mungkin itu pasti keliru," sanggah tuan Buana Abraham, wajahnya tampak santai namun tangannya mengepal, tanda laki laki paruh baya itu tengah menahan amarahnya.


Angkasa yang melihat pertunjukan tersebut cukup kejut, karena ternyata laki laki yang saat ini tengah merek targetkan adalah paman dari Agung. Namun ia dapat menebak kenapa laki laki menyingkirkan orang tua Agung tak lain tak bukan ini pasti perkara perbedaan prinsip, dan harta hanya bonus saat itu.


"Benar kah?" Agung menaikkan sebelah alisnya, tanda mempertanyakan pernyataan dari tuan Buana Abraham.


"Benar," ujarnya mantap.


"Lalu..."


"Langsung saja ini adalah kata sambutan dari sponsor utama kita, sekaligus orang yang menyelenggarakan acara lelang dengan kalung berlian sebagai inti pelelangan yang tadi di pakai aktris penyanyi kita," suara dari sang pembawa acara memecahkan konsentrasi mereka, sekaligus memotong ucapan Agung.


Agung tersenyum sinis ke arah pamannya, tampaknya perang sesungguhnya baru akan di mulai. Tuan Buana Abraham segera merapikan jasnya, dan meninggalkan tempatnya dengan angkuh. Melvin yang melirik sebentar ke arah Agung, bibirnya melengkung tipis, sementara Nadia yang menyaksikan secara langsung hanya menenggak minumannya dengan santai.


"Apa aku tertinggal sesuatu?" Robby yang tampak baru masuk seger menjabat tangan tangan Nadia. "Senang bertemu dengan anda, saya Robby."


"Angel," ujar Nadia santai, seolah mereka benar benar tidak pernah bertemu sebelumnya.


"Nama yang cantik, seperti orangnya," ujar Robby mengeringkan matanya.


"Jika tak ingin tertinggal pertunjukan selanjutnya, sebaiknya konsentrasi," ujar Nadia sedikit kesal dengan kakaknya, karena selalu menggodanya.


"Selamat malam tamu terhormat ku malam ini," tuan Buana Abraham tampak begitu gagah menyapa semua orang yang hadir malam itu. "Malam ini selain acara festival yang sangat ramai, dan menurut kami tergolong sukses. Malam ini juga akan di adakan acara pameran dan pelelangan berlian, yang di kenakan oleh aktris kita."


Semua orang bertepuk tangan dengan meriah, semua orang tampak tak sabar dengan acara pelelangan yang rutin setiap dua tahun sekali tersebut. Acara pelelangan tersebut biasanya di hadiri oleh para pejabat yang kotor, ataupun pengusaha kotor. Yang mana mereka bertujuan untuk sistem pencucian uang.


"Seperti biasa silahkan tuan tuan melihat keaslian berlian tersebut secara langsung melalui layar kita ini. Salah satu panitia akan melakukan uji dengan sebuah alat bor," suara bor terdengar nyaring. Mereka akan melakukan aksi seperti biasanya, karena menurut riset bor tidak akan mampu menghancurkan berlian asli.


Sementara itu salah seorang panitia mengambil berlian yang paling besar dengan ukuran 0,5 cm. Seorang kameramen segera mendekat dan menyoroti berlian yang akan di hancurkan tersebut.


Semua orang tampak antusias melihat ke arah layar, berbeda dengan komplotan Agung yang tampak tersenyum misterius. Terlebih Robby sebagai orang yang menukar seluruh berlian tersebut.


Robby, Angkasa, Nadia, Agung tampak saling melirik dan mengangkat gelasnya, kemudian meminum air yang ada di dalam gelas tersebut.


"Time for show," ujar Agung membuat semua komplotan nya tersenyum puas.


Tepat setelah Agung mengucapkan kata kata tersebut, mata bor telah sampai ada berlian tersebut, dan...


Pecahan tersebut pecah dan berserakan di lantai, semua orang mematung terkejut akan hal itu. Seketika tuan Buana Abraham panik.


"Segera tutup gerbang..." teriak tuan Buana Abraham. "Jangan biarkan siapapun keluar dari temat ini..."


Tuan Buana Abraham segera mendekati Agung, laki laki itu curiga jika keponakan di balik kejadian tersebut. Terlebih melihat senyum di bibir Agung tak pernah luntur.


"Periksa semua orang," ujar tuan Buana Abraham, dengan mata mengarah kearah Agung.


Semua orang di mintai untuk maju satu persatu untuk di periksa, termasuk Anggi, Purwono, dan Malik. Namun tentu saja tidak di temukan apa apa. Tuan Buana Abraham semakin gusar, tentu saja ini akan berbahaya untuknya, terlebih ia akan di tuntut sebagai penipuan.


"Kami semua telah di periksa, lalu bagaimana dengan anda?" Agung tersenyum melihat wajah kesal pamannya.


"Diam... aku tak mungkin melakukannya," ujar tuan Buana Abraham dengan angkuh.


"Lalu kenapa tak ingi di periksa?" Agung tersenyum remeh, memancing reaksi semu orang.


"Jangan sembarang, aku adalah orang yang tak mungkin melakukannya," tuan Buana Abraham dengan percaya dirinya menyatakan hal tersebut.


"Tapi bukan kah orang terdekat yang pertama harus di curigai?" Agung kembali memancing.


"Iya sebaiknya untuk menghindari kecurigaan sebaiknya anda di periksa saja," ujar salah seorang di antara mereka.


"Jangan dengarkan ucapan bocah itu, aku tak mungkin melakukannya," ujar tun Buana Abraham.


"Lalu kenapa tak ingin di periksa?" salah seorang di antara mereka kembali bersuara.


"Ayo periksa dia," ujar yang lainnya.


"Apa apaan ini? Jangan dengarkan provokasi bocah tersebut..." tuan Buana Abraham merasa harga dirinya di lecehkan sangat amat merasa marah besar.


Namun dengan sikap tersebut semua orang semkin termakan provokasi dari Agung, semua tamu undangan sekaligus peserta lelang semakin mencurigai tun Buana Abraham.


Melihat situasi yang semakin memanas, Melvin segera maju dan berbisik kepada tuan buana Abraham. "Lakukan saj tuan, toh anda tidak melakukannya kan? Do khawatirkan kepercayaan terhadap tuan akan hilang," ujar Melvin.


Tuan Buana Abraham memejamkan matanya. "Baiklah silahkan periksa saya," ujar tuan buana Abraham.


Alat pendeteksi segera di dekatkan pada tubuh tuan Buana Abraham, namun sesuatu hal aneh terjadi. Tiba tiba alat pendeteksi tersebut berbunyi, menandakan sesuatu terdeteksi di kantung sebelah kiri tuan Buana Abraham. Semu orang menjadi saling memandang, panitia tersebut segera merogoh kantung sebelah kiri tuan Buana Abraham, benar saja kalung berlian yang sam persisi di sana, hanya saja material yang mengikat berlian berlian tersebut kualitasnya lebih rendah daripada kalung yang tadi.


Namun mereka tahu pasti Berlin tersebut berlian asli, semua orang menjadi kesal dan segera menangkap tuan Buana Abraham. Seseorang menelfon kepolisian untuk menangkap tuan Buana Abraham tersebut.


...........


Sorry othor tak bisa update sering karen othor saat ini banyak pekerjaan, lembur rasanya adalah makanan sehari hari, pagi sampai sore ketemu pekerjaan, malam masih harus kerja kadang sampai jam 2 lewat. Jadi tak terpegang lagi waktu untuk berfikir pembuatan novel.