The controller

The controller
The controller VI



Bel berbunyi menandakan waktunya untuk pulang sekolah, Agung sana seperti halnya siswa lainnya ia kini telah bersiap untuk kembali, namun bukan ke kos, melainkan ke rumah sakit untuk menjemput Anggi.


Baru saja Agung keluar dari gerbang sekolahnya, tiba tiba seorang menarik kerah bajunya, sebelum ia melihat wajah sang pelaku. Laki laki itu membawanya ke sebuh lorong yang cukup sepi.


"Kau mau apa?" Agung melepaskan cengkraman tangan dari laki laki tersebut.


"Kau mulai berani sekarang?" Laki laki itu memandang nyalang ke arah Agung.


"Angkasa, aku sedang terburu buru saat ini, bisa kau lepaskan aku?" Agung tak menghiraukan ucapan Angkasa.


Laki laki itu rupanya masih penasaran dengan perubahan bola mata dari Agung. Ia masih belum meyakini apa yang dilihatnya itu nyata atau hanya sebuh ilusi optik yang di timbulkan oleh matanya?


Purnomo dan Malik segera menahan kedua tangan Angga, mereka tak ingin incaran bosnya lolos begitu saja, karena jika begitu bosnya bisa mengamuk.


"Dasar sombong!" Angkasa semakin erat mencengkram kerah Agung.


"Hentikan! Apa yang sedang kalian lakukan?!" Seseorang dengan jas hitam, tampak di ujung lorong.


Jelas mereka tak ingin mencari masalah dengan laki laki tersebut, karena semua orang tahu siapa laki laki itu.


Laki laki itu terkenal dengan segudang keberhasilannya dalam menyelesaikan kasus yang ia alami. Mulai dari pejabat, pebisnis, selebritis, hingga masyarakat awam sering menggunakan jasanya.


Laki laki itu adalah Wijaya, ia adalah pengacara kondang yang sering wara wiri di televisi menyelesaikan kasus kasus yang di alami oleh masyarakat.


Semua bubar tinggal lah Agung seorang diri. Laki laki itu mendekati Agung yang tengah memperbaiki pakaiannya, tampaknya kancing seragam sekolahnya terlepas.


Agung menunduk mencarinya, untung saja keberadaan kancing tersebut tak jauh dari tempatnya berdiri. Saat akan menunduk Agung tiba tiba teringat sesuatu.


^^^Bagaimana mungkin aku dapat melihatnya? Disini kan banyak sampah berserakan? Ada apa ini sebenarnya?^^^


"Anda tidak apa apa?" Suara itu mengejutkan lamunan Agung.


Agung segera memungut kancing tersebut, kemudian memandang ke arah sumber suara, dan mendekati laki laki itu.


"Terimakasih banyak atas pertolongan anda," ujar Agung menunduk hormat ke arah laki laki tersebut.


Namun di luar dugaan laki laki itu justru mengulurkan tangannya ke arah Agung.


"Wijaya," ujar laki laki itu tersenyum. Agung sedikit salah tingkah kini menyambut jabat tangan pak Wijaya. "Kamu Agung kan?"


Agung terkejut bukan main, bagaimana mungkin seorang laki laki terkenal mengenal dirinya?


"Saya pengacara orang tua anda," ujarnya semakin menggenggam erat tangan Agung. "Mari ikut saya."


Agung dengan sedikit ragu mengikuti laki itu, mereka memasuki sebuah mobil mewah, yang membawanya menuju sebuah restoran.


"Baiklah saya merupakan pengacara orang tua kamu, dan di minta untuk menjaga harta peninggalan orang tua kamu, dan akan di serahkan setelah usia yang ke tujuh belas tahun," jelas pak Wijaya, setelah usai menyantap makan siang mereka.


"Maksudnya?" Agung tampak masih bingung dengan semua hal tersebut.


"A.W group merupakan perusahaan yang di bangun langsung oleh kedua orang tua kamu," lanjut pak Wijaya. "Saya menyembunyikan keadaan selama ini, agar kamu tidak di celakai oleh orang lain, termasuk paman mu sendiri."


Agung mengangguk mengerti, ia sudah tahu maksud dari pak Wijaya. Ia tidak akan menyalahkan pak Wijaya, karena juga berkat laki laki itu ia menemukan sesosok Anggi yang menjadi teman, sahabat dan keluarga untuk dirinya.


"Ini adalah rumah yang berada di kawasan hills city, itu adalah rumah kamu saat ini," ujar pak Wijaya.


"Pak bisa saya minta tolong? Sebelum saya siap untuk mendapatkan itu semua, menduduki semua itu, saya ingin belajar terlebih dahulu," Agung memulai sesi negosiasinya.


"Lalu?" Pak Wijaya mengerti maksudnya, namun pak Wijaya juga tahu betul ada maksud yang lainnya di sana. Agung terlalu mirip dengan almarhum ayahnya, sudah pasti ucapan tersebut memiliki maksud terselubung.


"Saya ingin semua di rahasiakan," ujar Agung membuat pak Wijaya mengangguk paham.


"Lalu ini semua?" Pak Wijaya memperlihatkan semua salinan berkas dalam bentuk foto di notebook.


"Saya akan mencoba memegangnya dari jarak jauh," ujar Agung membuat pak Wijaya mengangguk mengerti.


"Baiklah, tapi ini kartu debit untuk kamu, di situ sudah ada isinya, silahkan di pergunakan," ujar pak Wijaya. "Baiklah saya permisi dulu, saya yang akan meneraktir anda, sebagai ucapan pertemuan pertama kita." Pak Wijaya juga menyodorkan sebuah kartu dengan foto dirinya, bertuliskan CEO A.W group.


"Hm... Anu..." Agung tampak sedikit tidak enak ketika hendak mengatakannya.


"Ada apa?" Pak Wijaya menghentikan langkahnya.


"Boleh saya membungkus untuk teman saya? Saat ini ia sedang berada di rumah sakit," ujar Agung membuat pak Wijaya terkekeh.


"Pesan saja di sana, lagian ini juga milik mu kok," ujar pak Wijaya menggeleng. "Saya hanya bercanda ingin mentraktir kamu, tunjukkan saja kartu tersebut kepada managernya maka semua akan beres."


Agung segera berjalan ke arah kasir, kemudian menyodorkan kartu debit, membuat kasir tersebut terkejut karena melihat kartu tersebut. Bukan kah kartu tersebut hanya ada beberapa di Indonesia? Bahakan hanya ada satu orang kemarin yang menggunakannya.


Wanita itu memandang bingung ke arah Agung, rasanya belum pantas anak SMA menggunakan hal tersebut, terlebih pakaiannya yang tadi terlihat kusut. Mungkin saja habis bertengkar, pikir kasir tersebut.


Agung paham dengan pandangan wanita tersebut, hanya menaikkan alisnya.


Sudah ku duga, jika kartu ini saja mampu membuat wanita ini tercengang bagaiman dengan kartu yang satunya? Pasti akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Ada apa? Ada sesuatu yang salah?" Agung berpura pura tak mengerti maksud dari kasir tersebut. "Apa tak bisa di gunakan di sini? Jika tidak akan ku bayar dengan cash."


Jelas itu hanya pura pura, Agung tahu jelas uang cash di dompet Anggi tak akan mampu membayar makanan yang mereka makan.


"Aku juga ingin membungkus ini dan ini," Agung menunjuk sebuah steak dan minuman yang memang sejak dulu di inginkan oleh Anggi.


"Ah baik, maaf membuat anda menunggu," ujar kasir tersebut terkejut dari lamunannya.


"Dua porsi ya," ujar Agung membuat kasir tersebut mengangguk.


Lima menit kemudian makanan yang ia pesan datang, Agung segera meninggalkan tempat tersebut dan segera menaiki ojek online untuk ke rumah sakit.


"Orang kaya mah bebas," gumam kasir tersebut melihat langkah lebar Agung dari belakang.