
"Halo aku aku membutuhkan bantuan mu," ujar agung tersenyum misterius.
Setelah menyelesaikan telfonnya, agung segera menggendong Anggi dan membawanya ke dalam kamar, tepat di samping kamarnya. Agung segera meletakkan Anggi di atas tempat tidur dan menyelimutinya. Sebelum Agung pergi ia sempat melihat wajah cantik Anggi yang tampak damai terlelap.
Agung segera keluar dan memastikan seluruh rumah terkunci, baik pintu maupun jendela. Agung kemudian masuk ke dalam kamarnya, memakai jas hitam, topi dan topeng penutup mata. Agung kemudian keluar melewati jendela.
Sesampainya di tempat yang ingin di kunjungi nya, Agung tersenyum melihat dua orang laki laki yang tengah duduk di depan warung bubur langganannya. Agung segera mendekat seolah mereka adalah pelanggan dan pembeli yang memang telah akrab.
"Eh mas Agung ya," sapa Hiro ramah ke arah Agung.
Nadia yang melihat kedatangan Agung mengerutkan keningnya, ia bingung dan tidak mengenal laki laki itu. Maklum saja ia jarang berkunjung ke warung bubur yang di bangun kakak dan teman temannya.
"Oh, dia mas Agung, pelanggan tetap bubur di tempat kita. Malam malam ngapain mas? Malam mingguan? Pacarnya mana mas? Tidak ikut?" Hiro segera memperkenalkan Agung kepada Nadia. "Hiro dia Nadia adik dari Robby salah satu pekerja di temat kami."
"Oh yang sakit itu sudah sehat ya bang?" Agung memandang sekitar hanya ada dua orang saja, awalnya ia pikir wanita itu adalah kekasih dari laki laki pelayan yang ada di hadapannya, namun adik salah satu di antara mereka. "Oh ya nama abang siapa?"
"Hiro, kamu belum kenal ku ya, padahal setiap hari loh bertemu," ujar Hiro memasang tampang sedih.
"Saya tahu kok, cuman saya tidak tahu nama saja," ujar Agung menggaruk kepalanya.
Bohong jika ia tidak mengetahui nama mereka satu persatu, pasalnya sebelum dirinya meluncur ke tempat ini, ia telah meminta identitas ketiga orang yang mengeksekusi kecelakaan dirinya dan menyebabkan kedua orang tua meninggal dunia.
"Oh mas Robby nya saat ini sudah sehat kan?" Agung tersenyum ke arah Nadia dan Hiro, jelas jelas ia tahu tadi adalah pemakaman Robby. Ia hanya ingin melihat ekspresi kedua orang yang dekat dengan Robby.
"Hem..." Hiro tampak ragu untuk menjawabnya.
"Kak aku pulang dulu ya," ujar Nadia segera menjauh dari keduanya.
Tampak jelas kesedihan Nadia dan Hiro, namun keduanya mencoba menyembunyikannya.
Namun Agung seolah memasang wajah tidak mengerti dengan segala hal yang terjadi. Ia seolah tak mengerti apa apa.
"Maaf bang kalau saya punya salah di pertanyaan tadi," ujar Agung menunduk menggaruk kepalanya, seolah tidak enak dengan Hiro dan Nadia yang telah pergi menaiki motor besarnya.
"Iya mas tidak apa apa, hanya saja kami masih berduka atas meninggalnya Robby," ujar Hiro dengan wajah yang tamak bersedih.
"Oh maaf bang saya ga tahu," ujar Agung diam diam menarik sudut bibirnya secara samar.
^^^Sakit saat ini akan menjadi awal untuk penderitaan kalian, akan ku buat kalian menderita, dan menginginkan kema*tian daripada kehidupan.^^^
Agung menundukkan kepalanya seolah tidak enak dengan apa yang ia katakan tadi.
"Eh ada apa?" Dony tiba tiba muncul dari arah belakang membawa tiga botol minuman yang beralkohol, dengan tiga gelas di tangannya. "Eh dia yang sering datang dengan pacarnya ya?"
"Iya lagi iseng aja bang, jalan jalan di sini. Lumayan lah but oleh raga malam," ujar Agung beralasan.
"Pacarnya mana dek?" Dony bertanya sembari menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas kosong.
"Maaf bang saya ga bisa minum," tolak Agung halus.
"Sudah pulang dia," ujar Hiro menyesap minumannya.
"Maaf bang tadi saya tidak bermaksud," Agung menggaruk kepalanya.
"Tidak masalah, setidaknya ada yang mengenal dia dengan baik," ujar Hiro ambigu.
"Tapi adiknya tidak apa apa kan bang? Kan dia pulang sendirian naik motor lagi," Agung berpura pura seolah sangat khawatir.
"Engga dia udah biasa, lagian rumahnya tidak jauh kok, cuman beberapa kilo meter dari sini," ujar Dony menyesap minumannya.
"Bang kalau begitu saya permisi ya mas, soalnya takut ga boleh masuk ke kosan malam ini," ujar Agung permisi.
"Iya hati hati," ujar keduanya mempersilahkan.
Agung segera berjalan ke arah taman, arah biasanya ia berjalan menuju kosan yang dulu ia tempati bersama Anggi. Agung kemudian mengambil ponselnya, dan menghubungi anak buahnya. "Halo sudah mendapatkan alamatnya?"
Agung tampak tersenyum, mendapatkan informasi tersebut. "Tunggu di sana, aku akan ke sana, aku membutuhkan mu untuk berjaga jaga, dan mengantarku pulang nanti."
Agung berjalan ke pinggir jalan, ia segera memanggil taksi untuk mengantar dirinya ke alamat yang di sebut anak buahnya tadi.
Setelah sampai Agung tersenyum ke arah anak buahnya, tampaknya laki laki itu tengah duduk santai di dalam mobilnya. Agung mengetuknya sebentar. "Tunggu jangan masuk aku akan masuk sendiri," perintah Agung.
"Tapi tuan saya takut anda akan meninggalkan jejak," ujar anak buah Agung.
"Tenang saja, aku sudah mengatur semuanya," ujar Agung tersenyum misterius.
..........
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
Terimakasih...