
Satu Minggu berlalu, Anggi dan Agung telah melakukan banyak latihan. Khusus untuk latihan bela diri, mereka memang hanya perlu di latih sedikit, sementara menembak merek belajar dari awal. Sehingga progresnya sedikit lebih lamban.
Agung dan Anggi saat ini masih berada di sekolah mereka, saat ini keduanya tengah berada di pelajaran akhir. Mulai saat ini keduanya akan sibuk dengan les memasuki ujian akhir.
Mila tak lagi tampak, di antara mereka. Katanya ia di pindahkan oleh kedua orang tuanya, usai pembebasan bersyarat yang di lakukan ayahnya, selaku jendral dengan pangkat tinggi.
"Belajar bareng mau ga?" Fadila tampak datang ke tempat keduanya seusai bell pulang sekolah terdengar. "Angkasa katanya mau ikut?"
Angkasa dan teman temannya tampak sedikit lesu ketika mendatangi tempat Anggi dan Agung. Mereka tampak tak bersemangat sama sekali.
"Bisa Jum'at sampai Minggu aja ga?" Angkasa segera duduk di meja Anggi tanpa sungkan.
Semenjak kejadian Mila menculik mereka, kini mereka semakin akrab dan Angkasa bahkan terlihat lebih ramah kepada keduanya. Bahkan mereka berdua saat ini lebih mudah ke kantin, dan tak takut di ganggu anak anak lainnya.
"Boleh deh, di mana?" Fadila tampak sedikit setuju dengan usul Angkasa, selain waktu lebih luang, kemungkinan mereka lebih bisa konsentrasi. Karena saat ini mereka membutuhkan konsentrasi yang tinggi.
"Di tempat aku aja ya, sekalian kamu kenalan sama calon mertua," goda Angkasa mengedipkan matanya ke arah Fadila. Angkasa masih sama seperti biasanya suka sekali menggoda Fadila.
Namun jika biasanya Fadila akan acuh, namun kali ini Fadila sedikit salah tingkah, bahkan bersemu merah.
Anggi yang melihat hal itu segera menyenggol tangan Agung, membuat Agung tersenyum ke arah Anggi dengan penuh arti.
Purwono dan Malik memutar bola matanya malas, mereka seakan menjadi obat nyamuk di antara ke dua pasangan yang tampak sangat serasi dan mesra.
"Dah lah cabut lah kami, udah jomblo bakal dapat tonton gini tiap hari," gerutu Purwono menyinggung dua pasang manusia yang seakan memiliki dunianya sendiri.
"Kita yang ngontrak hanya bisa berdiam," ujar Malik dengan wajah yang di buat sedih. "Adek sedih bang," lanjut Malik bersandar di bahu Purwono.
"Ais, apa lo? Jijik gue, eh jelek jelek gini gue normal ya!" Purwono sewot sendiri di buatnya.
Seketika mereka tertawa melihat tingkah Purwono yang seakan jijik melihat kelakuan Malik, bahkan tanpa sengaja mengakui kejelekan wajahnya. Yang memang jika tidak ia bicarakan pun sebenarnya semua orang sudah mengetahuinya.
"Cie ngaku jelek," ejek Malik di sela tawanya.
"Bukan gitu, kalau di dekat mereka berdua badan kita pegal pegal," ujar Purwono mengelak.
Seketika semua bingung, pegal pegal? Memangnya dia di suruh memijit? Atau di sedang di bully? Kenapa pegal pegal? Semua orang bingung dengan ucapan ambigu Purwono.
"Kok bisa?" Anggi mengerutkan keningnya. Semua orang mengangguk setuju dengan pertanyaan Anggi.
"Iya soalnya ganteng kita ke banting," ujar Purwono membuat semua orang terkekeh.
"Tapi tenang aja, cowok ganteng akan kalah dengan cowok humoris," ujar Fadila membuat Angkasa melotot tak percaya dengan ucapannya. Fadila yang menyadarinya segera menutup mulutnya. "Cowok humoris yang banyak uangnya" lanjut Fadila.
Sementara Purwono dan Malik yang tadinya senang dengan ucapan Fadila, seketika moodnya terbanting, ingin rasanya ia segera pergi dari tempat tersebut. Berbeda halnya dengan Angkasa, yang tampak bahagia. Pasalnya ia akan menang jika di bagian harta.
"Udah ayo pulang," ujar Malik mengambil tasnya.
"Lah kenapa?" Fadila sedikit merasa bersalah dengan keduanya, pasalnya ia tadi hanya bercanda.
"Iya soalnya percuma di banting tulang dan harga diri, kalau ternyata kalah dengan sebongkah berlian," ujar Malik yang ternyata hanya bercanda.
"Kan sudah di bilang Jum'at sampai Minggu. Di rumah Angkasa," jelas Malik yang merasa gemas dengan Anggi. "Ih cantik cantik otaknya gesrek, untung pintar dikit."
Anggi hanya memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Malik. Sejujurnya ia hanya meminta penjelasan saja. Ia tidak mengetahui bahwa Angkasa serius dengan tawarannya, pasalnya di akhiri dengan kalimat gombalan untuk Fadila.
"Dia gesrek gesrek gitu pintar dan cantik, nal lo? Udah gesrek, maaf maaf kata ya ni, tampang pas kkn, pintar? Ya kaga, paling kali sembilan aja lo keos," ejek ok Purwono sontak membuat Malik kesal di buatnya.
Setelah menentukan acara belajar bersama mereka, keduanya segera pulang. Namun terlebih dahulu singgah di mini market untuk berbelanja kebutuhan pokok mereka, terutama untuk Anggi yang setiap bulannya akan di datangi sailor moon. Tak lupa makan siang, karena Anggi terlihat begitu lemas tak berdaya.
Setelah selesai keduanya pulang ke rumah. Mereka berhenti tepat di depan gerbang mewah mereka. Namun mereka di kejutkan dengan tiga orang yang tampak menunggu mereka kembali.
Agung mengusap tengkuknya, ia tak menyangka bahwa pionnya kali ini mendatanginya, setelah dirinya korban kan, meski belum manjadi korban.
"Akhirnya kalian datang juga," ujar laki laki itu, tersenyum ke arah Agung dan Anggi.
"Lah Abang yang kemarin di kosan? Udah keluar juga?" Anggi tampak ramah menjabat tangan laki laki itu, secara pasti laki laki itu tak berani mengganggu, pasalnya saat ini keduanya sedang berada di tempat umum.
"Iya masih ingat saja," ujar laki laki itu. "Melvin," ia menyebutkan namanya kemudian memandang ke arah Agung. "Aku yakin dia pasti telah mengetahuinya."
"Gung..." Anggi segera mendekat ke arah Agung. Seketika Anggi sedikit ketakutan, biasanya jika begini, pasti ada apa apanya dengan Agung. Entah itu musu atau teman, namun Anggi merasa harus tetap waspada.
"Kekasih mu ternyata lebih berhati hati juga ya? Bagaimana jika aku menculik kekasih mu dan meletakkannya di depan kamar paman mu?" Robby tersenyum menantang.
"Kau..." seketika Agung menggeram, namun masih berusaha menekan amarahnya agar terlihat lebih tenang. "Kau tahu di balik air yang tenang biasanya tersimpan bahaya yang amat sangat besar," ujar Agung menenangkan dirinya.
...........
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MUSAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...
Terimakasih...