
Agung tampak menghubungi seseorang, ia ingin menjalankan rencananya sedikit demi sedikit. Agung juga akan berbicara kepada Anggi tentang apa yang selama ini yang ia sembunyikan.
"Halo," Agung tampak santai memainkan bara api yang siap untuk menjadi bahan praktikum memasak Anggi. "Malam ini datang ke rumah ku."
Agung segera mematikan ponselnya ketika melihat Anggi baru saja datang dari arah dapur. Anggi memasukkan ponselnya ke dalam kantung, dan mendekati Anggi.
"Sini aku bantu ya," ujar Agung segera mengambil beberapa bahan dari tangan Anggi.
"Wah terimakasih loh," ujar Anggi segera mendekati panggangan. "Wih bara apinya sudah bagu, makasih ya," Anggi tersenyum manis ke arah Agung.
Agung tersenyum segera mempersiapkan daging yang hendak di panggang oleh Anggi. "Ayo aku sudah siap ni nunggu di panggang," ujar Agung tampak bersemangat.
"Nggi aku boleh jujur dengan kamu?" Agung mulai memanggang daging dan sosis mereka.
"Boleh kok," ujar Anggi tersenyum memandang ke arah Agung.
"Kamu tahu kenapa saat itu Mila menculik mu?" Agung mulai membuka kasus Mila kepada Anggi.
Anggi menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. "Kenapa? Mungkin karena kita nyelamatin Fadila?" Anggi mengangkat bahunya kemudian mengolesinya dengan saus.
"Itu salah satunya, soalnya Mila dendam kepada ku. Maafkan aku," Agung menggelengkan kepalanya mengibas asap yang dihasilkan dari bara api tersebut.
"Karena kamu menyelamatkan Fadila?" Anggi tampaknya masih belum mengerti arah Agung meskipun sebenarnya Mila melakukan hal itu karena Agung menyelamatkan Fadila.
"Benar tapi bukan itu sepenuhnya," ujar Agung membalikkan daging dan jagung yang mereka bakar. "Sebenarnya Mila marah karena kekuatannya aku ambil sebagian."
"Kekuatan?" Anggi mengerutkan keningnya, membalikkan sosis.
"Hm..." Agung mengangguk setuju dengan hal tersebut. "Sebenarnya ada beberapa orang yang memiliki kekuatan spesial di dunia ini."
"Hah?" Anggi mengerutkan keningnya bingung tangannya mengoles kembali saus mereka. "Hampir matang..."
Agung meraih mentega dan saus cabe untuk jagung mereka. "Iya kekuatan itu bisa berbahaya dan baik di tangan orang yang salah," ujar Agung mulai mengambil piring. "Udah matang ni..."
"Seberapa bahayanya?" Anggi segera mengambil alih piring dan meletakkan bahan makanan yang telah matang.
"Sangat berbahaya," Agung menyiram air ke arah bara api. "Penambah kekuatan dari orang seperti kami adalah energi manusia," jelas Agung duduk di samping Anggi.
"Energi manusia?" Anggi mengerutkan keningnya. Ingatannya kembali kepada kejadian saat dirinya di culik Mila, dimana dirinya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa sesuatu yang sulit ia jelaskan terjadi.
"Iya saat kamu di culik Mila mencekik nadi mu bukan?" Agung memandang ke arah Anggi.
Wanita itu tampak berfikir keras ia memang rasanya di cekik, Anggi masih ingat posisinya. Ia mencoba memperhatikannya, seketika ia dapat merasakan aliran nadi di bagian lehernya. Wanita itu mengangguk setuju.
"Itu adalah nadi yang harus di tekan, terutama di daerah leher, hal itu di gunakan untuk mentransfer kekuatan orang tersebut," ujar Agung memandang lekat wajah Anggi.
"Lalu apa yang terjadi?" Anggi semakin penasaran di buatnya.
"Yang terjadi selanjutnya adalah ketika energi itu transfer, maka hal selanjutnya yang terjadi adalah orang yang kita sedot akan lemas dan bisa menyebabkan jatuh pingsan. Ada kalanya orang itu akan koma dalam beberapa hari," ujar Agung menyentuh tangan Anggi dengan erat.
"Lalu Purwono dan Malik melupakannya?" Anggi tampaknya tengah dalam mode serius.
"Itu karena Mila menghilangkan ingatannya sebagian," ujar Agung menggenggam tangan Anggi. "Aku ingin kamu mulai saat ini selalu di dekat ku, aku ingin kamu selalu berada di dalam jangkauan ku," lanjut Agung.
"Mila, karena kami pernah berkelahi, dan terakhir kalinya aku mampu mendapatkan seluruh kekuatannya, selanjutnya kelompok Melvin yang akan bekerja sama dengan kita, dan terakhir itu kamu," jawab Agung. "Karena itu aku ingin kamu hati hati dengan keberadaan Melvin di sekitar kamu, meski kaki kaki terlihat berada di pihak kita, namun dia sama seperti ku."
"Lalu bukan kah seharusnya kamu juga berkesempatan untuk melakukan hal yang sama dengan ku?" Anggi memandang serius netra mata kecoklatan milik Agung. Mata itu amat indah, jika terkena sinar matahari sore semakin menambah keindahannya.
"Benar," Agung membenarkan ucapan dari Anggi, ia tak ingin ada yang di sembunyikan. Seketika tatapan mata Anggi berubah, spontan ia ingin menarik tangannya dari genggaman Agung. "Jangan takut, aku tak akan pernah melakukannya dengan mu, sekalipun aku terdesak."
"Apa alasan mu, sehingga aku bisa mempercayai mu?" Anggi kembali menatap netra itu secara dalam.
"Aku rasa kau tahu alasan ku," ujar Agung dengan tatapan tak kalah dalam. Mata hitam itu selalu mampu membuatnya jatuh ke dalam kegelapan yang tak berdasar. Namun penuh dengan harapan yang seolah nyata.
"Apa itu?" Anggi tampak begitu penasaran. Agung segera menarik lembut wajah Anggi, dan mengecup puncak kepala wanita itu.
"Kau tahu bukan sekarang?" Agung tersenyum menatap dalam wanita itu. Anggi menjadi salah tingkah membuat agung sedikit gemas melihatnya. Agung segera meletakkan kepalanya di pundak Anggi. "Aku selalu berharap pundak ini akan selalu kuat untuk menahan diriku yang hanya terlihat kuat dari luar saja," Agung tersenyum melirik Anggi yang terlihat salah tingkah.
"Makan yuk ah," ajak Anggi mengalihkan pembicaraannya.
"Aku harap jari jari ini akan selalu menggenggam tangan ku yang rapuh, aku berharap tangan mu ini yang akan selalu memeluk ku kala aku berada di dalam keadaan yang salah," Agung segera menegakkan kepalanya dan meraih makanan yang memang untuknya. "Kau mengerti bukan?"
Anggi mengangguk kecil senyum di bibirnya terbit, sehingga membuat senja kali ini terlihat lebih indah. Romansa cinta mereka seakan di dukung oleh pemandangan sore yang cerah.
"Sebentar lagi mereka akan datang," ujar Agung meminum air putih miliknya.
"Apa semua akan di mulai?" Anggi memandang takjub ke arah Agung.
"Hm... Tapi kali ini bintang baru akan datang, kita tidak hanya bekerja berlima, namun kita akan bekerja bersama beberapa orang lagi," ujar Agung tersenyum manis ke arah Anggi. Namun Anggi jelas tahu maksud dari senyuman manis tersebut.
...........
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MUSAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...
Terimakasih...