The controller

The controller
Terbukanya tabir kebenaran



"Bagaimana kau merasa baik baik saja? Ada yang sakit?" Laki laki itu kembali menanyakan keadaan Nadia.


"Ini di mana?" Nadia memandang area sekitar kamar mereka.


"Ini..."


Ucapan laki laki itu terhenti kala pintu di buka oleh seseorang yang semakin membuat Nadia tercengang, itu adalah musuhnya. Musuh bebuyutannya, orang yang membunuh kakaknya. Tapi bagaimana mungkin? Siapa yang ada di sampingnya ini? Ia seperti Robby almarhum kakaknya. Semakin bingung saja Nadia.


"Dia telah sadar?" Melvin dengan santai membawa seorang dokter mendekat ke arah Nadia. Sungguh Nadia menjadi curiga, bagaimana tidak, seorang Melvin yang mem*bunuh kakaknya, apa juga bisa menghidupkan kakaknya. Namun bukan kah kakaknya telah di kuburkan? Bahkan di depan matanya, ia adalah saksinya.


"Ada apa ini?" Nadia bertanya dan memandang tajam ke arahnya. Apa setelah pingsan seluruh takdir berbalik? Atau selama ini ia hany bermimpi? Nadia bingung sendiri. Seluruh kemungkinan muncul di dalam kepalannya. "Ada apa ini sebenarnya? Kakak masih hidup?"


"Tentu saja, dia adalah kakak mu, kau bisa melakukan tes DNA," ujar Melvin tersenyum.


Dokter tersebut segera memeriksa kembali keadaan dan memasang infus Nadia yang hampir habis. "Begini cara pasangnya, itu masih ada di sana infus yang belum di pakai," laki laki yang berjas putih tersebut, menunjuk beberapa kotak infus, yang ia sediakan. "Nanti silahkan pakai sendiri ya."


"Iya dok," ujar laki laki yang mengaku Robby tersebut.


"Keadaan anda bagaimana?" Dokter tersebut bertanya sembari mengeluarkan teleskop nya.


"Lemas," ujar Nadia.


"Tentu saja anda melakukan aktivitas yang berlebihan," ujar dokter tersebut. "Sebaiknya anda istirahat, untuk beberapa hari."


Nadia semakin bingung, seingatnya tidak ada aktivitas yang berlebihan yang ia lakukan. Namun kenapa dokter mengatakan hal tersebut? Nadia tak ingat apa yang terjadi padanya.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ujar dokter tersebut tersenyum.


"Saya antarkan dok," ujar Melvin berjalan berdampingan dengan dokter tersebut.


Nadia memandang lekat ke arah Robby, ia masih banyak memendam tanya di benaknya. "Aku adalah kakak kandung mu, dan aku asli kakak mu," ujar Robby tersenyum.


"Kau masih ingat bukan pem*bu*nu*han pertama kita bertiga? Aku yakin Robby yang meninggal tidak pernah membahas ini," ujar laki laki itu bersender di senderan tempat tidur. "Akhirnya kita reuni juga."


"Entah lah kita harus berterimakasih atau bagaimana dengan yang lakukan hal ini dengan mu, atau kita harus marah, karena telah membuat mu sampai setidak bertenaga ini," Melvin masuk kembali selepas mengantar dokter tersebut. "Namun sepertinya ia tak berniat mencelakai mu, orang ini tahu yang sebenarnya, jadi dia sengaja menculik mu, dan membawanya ke sini."


Melvin ikut duduk di samping Nadia. Kini Nadia berada di tengah tengah keduanya. Nadia kembali teringat tentang masa lalu mereka, sungguh semua Nadia rindukan.


"Aku tak pernah menceritakan suatu rahasia tentang kehidupan kita kepada siapa pun, termasuk kepada Melvin," ujar Robby tersenyum ke menatap lurus. Nadia seketika memandang ke arah Robby. Nadia penasaran rahasia apa itu, namun i masih enggan membuka suara. "Saat kejadian kita pergi dari rumah ayah, hari itu aku tidak ke sekolah, melainkan ke rumah ibu. Ternyata ibu sudah menikah, aku berkata bahwa aku adalah anaknya."


"Aku rasa kau sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya," lanjut Robby. "Ibu saat itu mengusir ku, dan tak mengakui bahwa aku adalah anaknya, aku bilang bahwa kau merindukan ibu, namun wanita itu dengan teganya mendorongku, agar aku keluar dari rumahnya. Menyakitkan sungguh menyakitkan."


"Kakak..." Nadia tak dapat membendung rasa sakitnya.


"Dan saat pulang aku menemukan mu hampir di lecehkan oleh ayah. Sat itu aku sangat murka, dan membenci semuanya. Saat kita melakukan pem*bu*nu*han pertama kita, itu adalah ayah tiri kita, aku begitu membenci laki laki itu. Maaf aku membawa mu ke dalam kebencian ku," ujar Robby menarik adiknya ke dalam pelukannya. "Ibu dan laki laki itu memiliki anak, dia adalah yang menyamar menjadi diriku selama ini. Dan kedua orang itu adalah temannya."


Nadia menutup mulutnya, ternyata laki laki yang selama ini ia panggil kakak merupakan adik tirinya. Nadia menggeleng tak mempercayai semuanya. Nadia menangis sesegukan di dalam pelukan kakaknya, bahkan kemarin ia tidak menangis, namun kali ini semua kenyataan menghantam dirinya. Membuat dirinya tak kuasa menahan air matanya. Bisakah ia membenci takdirnya selama ini?


"Satu hal kita harus mencari siapa yang melakukan hal ini kepada mu, kemungkinan dia memiliki dendam yang sama dengan kita," ujarnya Melvin. "Saat ini aku masih berhasil menjadi tangan kanan dari Buana Abraham."


Ada yabg tahu siapa Buana Abraham? Komentar di bawah.


..........


Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.


Caranya mudah kok.



Follow


Like


Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.


jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...



Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.


"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MUSAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...


Terimakasih...