The controller

The controller
The Controller XIII



Agung tengah duduk termenung di kamarnya, ia menatap jendela, ingatannya kembali dimana saat dirinya tengah menghisap cahaya dari tubuh Mila. Sebuah titik muncul menandakan kenaikan levelnya, ia dapat melihat level yang ia miliki. Kini levelnya telah mencapai level tiga.


Mila sebelumnya berada di level tiga, namun agung mampu menghisapnya hingga Mila berada di level satu.


Pendengaran dan penglihatannya semakin tajam. Bahkan jika Agung memejamkan matanya ia dapat mendengar suara daun yang terjatuh dari rantingnya.


Tiba tiba Agung merasa ada orang yang mengawasinya, Agung memilih untuk pura pura tidak menyadarinya. Agung sadar siapa yang mengawasinya, itu adalah laki laki yang kemarin masuk sebagai penghuni kos baru.


Agung memilih untuk memainkan ponselnya, hingga tanpa sengaja melihat pesan Angkasa yang mengatakan bahwa Fadila telah sadar.


"Fadila telah sadar ia mengatakan bahwa Mila yang melakukannya, namun ia tidak melihat siapa yang menolongnya. Kami menceritakan bahwa kau yang menolongnya, dia bilang di sangat berterima kasih kepada mu," isi pesan tersebut.


Agung tersenyum, ia saat ini dapat melihat sisi lain dari Angkasa yang terkenal angkuh dari luar. Sebenarnya laki laki itu hanya seperti dirinya, butuh seseorang yang mengerti akan dirinya, butuh seseorang untuk berbagi kisah. Agung rasa ia mulai memahami laki laki itu. Laki laki yang tampak amat mencintai Fadila.


Sementara di tempat lain, Fadila tampak begitu murung. Wajah tertekannya membuat keluarga Fadila amat sedih.


"Sebaiknya kita lapor kepada kepolisian," ujar kakak Fadila, di angguki oleh ayahnya. "Kita juga harus mengecek CCTV sekitar, bagaimana mungkin satpamnya tidak melihat ada anak yang di seret ke gudang?"


"Iya papa setuju, sebaiknya kita besok meminta agar CCTV tersebut segera di periksa," ujar laki laki itu.


"Tolong..." Fadila tiba saja mengigau, ia melihat dirinya tengah di kejar kejar oleh seseorang, matanya berwarna merah. Seluruh tubuhnya di selubungi asap hitam.


Fadila benar benar ketakutan, di sela ketakutannya tersebut suara tertawa nyaring Mila keluar, sungguh merupakan sesuatu yang sangat menakutkan untuk Fadila. Mila menampakkan wajah nya seiring dengan kabut hitam yang mulai menghilang.


Tampak sebuah ular melingkar di sekitar tubuhnya, ular itu berwarna hijau. Ia pernah melihatnya, entah itu di mana. Seketika Mila mendekat ke hadapan wajahnya, beserta ular yang dengan setia melingkari tubuh Mila.


Fadila terbangun dengan keringat di sekitar wajahnya. keluarganya tampak begitu cemas, ia khawatir dengan keadaan Fadila. Pastinya gadis itu trauma, karena dulu ia juga sempat menjadi korban penculikan oleh supirnya sendiri. Alasan ituah yang membuat kakak laki laki Fadila untuk selalu menjemput adiknya.


Namun karena kemacetan panjang membuatnya tak dapat tepat waktu menjemput adiknya, untung saja Agung datang tepat waktu.


Di tempat Mila gadis itu tubuhnya lemas tak berdaya, karena tenaganya habis terkuras, untung tadi Agung tak mengejarnya. Namun yang ia khawatirkan Mila belum sempat menghapus ingatan dari korbannya. Padahal biasanya Mila selalu melakukannya dengan rapi, tapi bagaimana mungkin kini semua berantakan. Agung menggagalkan segalanya, ia harus menyusun rencana untuk dapat mengalahkan Agung, menghisap tenang orang yang sama sepertinya memang memiliki banyak keuntungan, tapi di hisap oleh orang yang sama akan membuat mereka turun level seperti saat ini.


"Be*reng*sek, harusnya aku sejak awal menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Agung, dia menghisap tenaga ku, hingga level ku kini menurun drastis," umpat Milla meninju bantal di sebelahnya.


Memang level satu masih bisa memiliki kekuatan yang sedikit lebih banyak dari orang biasa, namun hanya sedikit. Mungkin hanya dari dari kecepatannya yang dua kali lipat, melihat keadaan dengan keadaan yang lebih melamban. Namun tetap saja, level satu merupakan level terendah, dimana sangat mudah di kalahkan oleh lainnya.


Tok, tok, tok.


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Mila. "Siapa?" Mila berteriak malas membuka pintu.


"Saya non, saatnya makan non..."


Mila turun dari lantai dua melihat kedua orang tuanya tengah memainkan ponselnya masing masing, Mila menghela nafasnya dalam.


"Ah sudah datang? Ayo makan dulu," ujar ayah Mila yang masih mengenakan seragam kebesarannya.


Sementara ibunya segera meletakkan ponselnya, den memandang lembut ke arah Mila. "Ayo makan," ujar wanita tersebut.


"Kandungan mama bagaimana?" Ayah Mila mengusap lembut perut istrinya.


"Biasa pah tadi habis dari dokter, nanti mama perlihatkan hasil USG nya ya," ujar wanita tersebut.


Laki laki berseragam jendral tersebut tersenyum. Kembali menyantap makan malamnya. Mila memandang seluruh wajah mereka satu persatu, kemudian kembali memakan makanannya.


"Kamu mau les piano katanya kemarin?" Mila menghela nafasnya ketik mamanya bertanya seperti itu.


"Iya ma," ujar Mila menganggukkan kepalanya. Entah apa alasan mamanya tiba tiba memenuhi keinginannya.


"Mama sudah mendaftarkan kamu, sepulang sekolah supir kamu akan mengantarkan mu," ujar wanita yang tengah mengusap perutnya tersebut.


"Kenapa tidak di rumah?"


"Biar dia bersosialisasi," ibu Mila entah kenapa akhir akhir ini selalu mendorong Mila untuk keluar, dan mendorong Mila untuk melakukan sosialisasi. Padahal dulu ia sangat di larang, ibunya berkata bahwa Mila harus bisa membedakan temannya.


"Ingat kamu harus berhasil," Mila lagi lagi di buat kesal. Keluarganya selalu menuntutnya untuk tampil sempurna di depan umum.


"Iya, mama dengar ada kompetisi bulan depan, kamu harus belajar mama beliin juga piano untuk kamu," ujar ibunya Mila.


"Hm, iya ma," ujar Mila menganggukkan kepalanya.


Seusai makan malam Mila segera masuk ke dalam kamarnya, matanya memandang jauh. Ia melihat ayahnya akan berangkat tugas kembali, Mila hanya memandangi ayahnya tanpa berniat turun ke bawah.


Mila memperhatikan mobil tersebut menjauh dari rumahnya, lama ia memandang nya, hingga tanpa sengaja I melihat ibunya tengah berbincang dengan supir pribadi ibunya selama empat tahun belakangan.


Mila memicingkan matanya melihat hal tersebut, mereka tampak sangat akrab. Bahkan Mila dapat melihat laki laki itu menggenggam tangan ibunya dengan sangat santai tanpa sungkan bahkan tidak enak.


Mila mulai merasakan kecurigaan, namun ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal tersebut, Mila saat ini harus memikirkan cara untuk kembali merebut levelnya dari agung.


Mila tiba tiba menarik sudut bibir sebelah kanannya, tampaknya ia telah menemukan cara untuk menaklukkan Agung, dan membuat laki laki itu tunduk di bawah kakinya.


Namun sepertinya pertama tama, ia harus menelfon anak buah ayahnya karena kemungkinan orang tua Fadila akan melaporkan kejadian tersebut. Jelas jika di biarkan maka akan menjadi hal yang merepotkan untuknya, dan akan membuat dirinya dalam bahaya. Mila tak ingin hal tersebut.