
Di sebuah tempat di mana saat ini pak Prabu tengah duduk di atas kursi, bak seorang raja. Sementara di hadapannya dua orang laki laki tengah mengenakan jas hitam, melaksanakan tugas mereka.
Mereka adalah Hiro dan Doni yang tengah melaksanakan tugasnya. Keduanya tampak begitu santai mengajukan pistol ke arah dua korbannya.
"Berikan kepada wanita itu pistolnya," ujar pak Prabu garang.
"Ini nyonya Sinta," ujar Hiro tampak tersenyum mengejek.
Wanita yang kerap di panggil Sinta itu mengambil pistol yang telah di isi peluru, tangannya gemetar karena tak pernah menyentuhnya.
"Aku memberi mu dua pilihan lenyapkan laki laki itu, sementara kau dan anak mu akan selamat, atau kalian bertiga akan lenyap di tanganku," ujar pak Prabu duduk nyaman di singgah sananya.
Ibu Sinta kaget bukan main, bagaimana mungkin ia melenyapkan kekasih gelapnya? Laki laki itu adalah ayah dari anaknya. Bahkan bisa di katakan bahwa ia lebih mencintai laki laki itu dari pada suaminya sendiri.
Ibu Sinta menggeleng tak tahu apa yang harus ia lakukan. Air matanya jatuh. Rencana yang mereka susun hancur sudah. Mereka telah berfikir melakukan sebuah konspirasi hendak menyingkirkan pak Prabu, namun semua tak sesuai rencananya.
Ibu Sinta dan Satriyo saling berpandangan, laki laki itu terlanjur mencintai majikannya. Biarlah ia berkorban untuk anak dan kekasihnya. Laki laki itu bahkan menganggukkan kepalanya, ia hanya berharap kekasih dan anaknya baik baik saja setelah ini.
Mila yang melihat drama telenovela tersebut dari balik tembok, hanya terkekeh sinis memandang jijik keduanya. Mila tak akan membiarkan mamanya tenang nantinya, karena ia dan pak Prabu telah berdiskusi akan tetap membiarkan ibu Sinta tinggal di kediaman mereka, agar mereka dapat mengontrol ibu Sinta, dan memastikan wanita itu akan tutup mulut selamanya. Membangun image seolah dirinya seolah menerima dan memaafkan istrinya dengan leguwo.
"Aku beri waktu satu menit untuk berfikir, aku tak ingin membuang waktu lagi," ujar pak Prabu memainkan ponselnya.
"Jika saat itu mereka tidak memberi pilihan sebaiknya tembak saja mereka berdua, aku cukup senang setidaknya tidak akan di repot kan," lanjut pak Prabu. "Ayo tinggalkan tempat ini."
Setelah mereka pergi, tinggallah ibu Sinta dan supir pribadi, sekaligus kekasih gelapnya. Tampak Satriyo mengangguk meminta ibu Sinta melakukan tugasnya, dan menyegerakan pengorbanan terakhirnya. Dengan air mata yang senantiasa menetes dari pipinya ibu Sinta menembakkan peluru yang ada di dalam pistol yang ia pegang.
Ibu Sinta menjatuhkan pistolnya bersamaan dengan tumbangnya Satriyo tepat di hadapannya. Ibu Sinta tak dapat berdiri, air matanya terjatuh, bibirnya bergetar hebat. Ayah dari anaknya telah meregang nyawa di tangannya sendiri. Seandainya mereka diberi kesempatan untuk pergi saja dari tempat tersebut, maka ia akan memilih hidup berdua saja.
Pak Prabu yang melihat hal itu dari sisi tv merasa puas. "Singkirkan mayatnya, bawa wanita itu kedalam kamar pembantu," ujar pak Prabu meninggalkan tempat tersebut.
Mila mendekati papanya dan memeluk laki laki dari belakang, membuat pak Prabu membalikkan tubuhnya dari belakang dan memeluk Mila dengan erat. Mila menumpahkan air matanya. "Pa Mila bisa tinggal di sini saja tidak? Mila mau menemani papa," ujar Mila dengan sesegukan.
"Bisa, papa akan mengurusnya," ujar pak Prabu mengusap lembut kepala Mila.
"Terimakasih," ujar Mila memandang sinis ke arah ibu Sinta, yang saat ini tengah menatapnya tajam.
"Baiklah kalau begitu kamu kembali ke kamar saja dulu ya," ujar pak Prabu mengecup puncak kepala Mila.
Mila mengangguk menurut ucapan dari pak Prabu. Pak Prabu segera berjalan ke kamarnya, namun sebelum ia berjalan ke kamarnya, ia menemui istrinya dulu.
"Mulai hari ini kau bukan istri ku lagi, kau hanya seorang pem*bu*nuh yang membunuh ayah dari anak mu sendiri," ujar pak Prabu tersenyum sinis ke arah ibu Sinta, yang kini terlihat semakin tertekan akan ucapan dari pak Prabu.
Sinta tak sanggup di hadapkan dengan kenyataan bahwa dirinya kini tak memiliki apa apa, dan kekasih hatinya juga telah ma*ti di tangannya sendiri. Ibu Sinta di dorong masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak Satriyo, maaf kan aku..." ibu Sinta meraung keras, kepalanya tak lagi bisa tegap seperti dahulu. Hidupnya saat ini seakan telah habis. Ingatannya kembali saat pertama kali merek bertemu.
Flashback.
Pagi itu pak Prabu meminta Satriyo untuk menjaga istrinya, dan melaporkan semua tindak tanduk istrinya, yang beberapa kali sempat ia curigai berselingkuh.
Ibu sint yang memang jarang bersama dengan pak Prabu, melihat Satriyo yang sungguh sesuai dengan tipe brondong yang ia sukai, ibu Sinta menjadi tertarik. Bukannya kesal ibu Sinta justru kelihatan sangat senang.
Ketika di setiap perjalanan ibu Sinta dengan sengaja menggoda Satriyo dengan pakaian yang terbuka. Bahkan pernah suatu ketika ibu Sinta dengan sengaja melepaskan blazer nya, yang ternyata di dalamnya hanya mengenakan b*ra sport. Sehingga sebagian laki laki normal jelas Satriyo menjadi tergoda.
Ibu Sinta segera meminum jus buah low fat kesukaannya. Dan dengan sengaja pula ia menyiram tubuh bagian atasnya dengan minuman miliknya.
"Satriyo, tolong berikan tisu kepada saya," ujar ibu Sinta mengibas ngibaskan tangannya.
"Tapi Bu..." Satriyo sedikit bingung bagaimana menanggapinya.
"Satriyo kamu membantah perintah saya?" Ibu Sinta mengambil tissue yang di berikan kepadanya.
"Ah baiklah Bu," ujar Satriyo Sagara berbalik dan membantu membersihkan da*da bagian atas ibu Sinta.
Satriyo dengan wajah memerah mencoba menghentikan detak jantungnya. Anggap saja ini rejeki ku, kapan lagi aku menyentuh istri bos yang cantik. Satriyo segera mengusapnya dengan tisu.
Namun karena terpana melihat pemandangan di hadapannya, Satriyo sedikit memperlambat gerakannya. Nafas Satriyo sedikit memburu di buatnya.
Ibu Sinta yang telah faham bahwa Satriyo telah masuk ke dalam perangkatnya, segera menyentuh dagu Satriyo dengan lembut. Ibu Sinta segera mendekat dan me*lu*mat dengan lembut bibir Satriyo.
Laki laki itu terpanah, ibu Sinta sangat mahir memberikan permainan yang amat sangat memabukkan. Satrio terhanyut dan membalas lu*ma*tan tersebut. Ibu Sinta dengan sengaja terus mengusap leher hingga membelai dada Satriyo.
Tak lama kemudian mereka mengehentikan aksi mereka karena nafas mereka yang kini mulai menipis. Satriyo memandang sayu ke arah ibu Sinta, sudah lama ia tak merasakannya lagi. Laki laki itu kembali menarik wajah ibu Sinta, dan mulai me*lu*mat*nya dengan rakus. Tangan Satriyo mulai berani menyentuh bagian atas tubuh ibu Sinta.
"Jangan sekarang," bisik ibu Sinta ketika pa*nguan bibir mereka terlepas. Ibu Sinta memejamkan matanya menikmati pijatan Satriyo di bagian atas.
Satriyo tersadar segera melepaskan genggaman tangannya, namun ibu Sinta justru mempertahankan posisi tangannya. "Bu.."
"Jangan panggil ibu, panggil saja nama ku," ujar ibu Sinta dengan suara yang seksi.
"Sinta..." Satriyo tak menyia-nyiakan kesempatannya, ia terus memijat milik ibu Sinta, tangannya tak bisa berhenti. "Bagaimana jika aku menginginkan mu?"
Ibu Sinta tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, ia tahu bahwa laki laki paling tidak bisa di pancing. "Malam ini, Prabu akan keluar kota, kau akan selalu bersama ku, sementara pagi hingga siang Mila ke sekolah. Kau bebas di kamar ku malam hingga siang hari."
Flashback end.
Sementara itu, Mila di kamarnya tertawa puas. Kini semua yang menghalanginya telah hilang, selangkah lagi ia akan mencapai apa yang di inginkan nya. Mila tersenyum membuka sebuah kotak kecil di bawah tempat tidurnya.
"Ibu, bapak sebentar lagi kalian akan tenang di sana," ujar Mila segera membanting tubuhnya ke atas tempat tidur.
...........
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MUSAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...
Terimakasih...