
Mereka saat berada di ruang tamu, tengah duduk dengan pikiran masing masing. Tak lama kemudian Anggi datang membawa beberapa cemilan dan air teh hangat, selaku tuan rumah yang baik.
"Jadi ada apa?" Anggi memulai pembicaraan di antara mereka, yang tampak tak ada satu pun yang membuka pembicaraan.
"Aku tahu kau pelakunya," ujar Robby memandang ke arah Agung.
"Wah.... tampaknya kali ini aku salah perhitungan," ujar Agung memandang datar ke arah Robby.
Anggi yang tak mengerti arah pembicaraan mereka menjadi diam sendiri, ia tak tahu harus berkata apa.
"Kau benar benar di luar dugaan, anak SMA dengan kemampuan seperti itu? Wah benar benar di luar dugaan," ujar Robby setengah mengejek.
Namun seperti dugaannya Agung justru tersenyum mendengar ejekan yabg terdengar seperti pujian.
"Ya aku juga merasa sangat salut dengan sistem kekeluargaan kalian, benar benar membuatku iri," Agung justru mengembalikan ejekan dari Robby.
Ketiga tamunya menghela nafas, ternyata anak SMA yang satu ini bukannya emosi dengan ucapan dari Robby yang jelas jelas mengejeknya dalam bentuk pujian, namun justru mengembalikan ucapan Robby dengan ejekan berbentuk pujian.
"Hm, ku rasa kau benar benar berbahaya jika menjadi musuh, maka dari itu aku akan menawarkan mu menjadi sekutu," ujar Robby menarik sudut bibirnya.
Ya lawan telah menyambut umpan nya, tidak sia sia ia mengumpankan Nadia untuk mendapatkan kerja sama dengan kelompok Melvin dan Robby yang memang seorang mafia.
"Hm, aku tahu kau memiliki dendam dengan paman mu dan salah satu keluarga pejabat," ujar Melvin yang dapat menebak bahwa Agung tak akan ada alasan untuk menolaknya. "Aku tahu kau sama seperti ku, kau yang melihat ku malam itu."
Agung menghela nafasnya, tak bisa ia menyembunyikan kebenciannya terhadap pamannya, bahkan kekuatan yang ia sembunyikan baik dari Anggi sekali pun.
"Seperti mu? Malam itu? Maksudnya kapan?" Anggi benar benar penasaran, apa maksud laki laki itu, menurutnya apa yang Agung miliki tak ada yang salah. Sama seperti manusia lainnya, menurutnya. "Apa jangan jangan..."
Anggi ingat bagaimana saat dirinya diculik oleh Mila, Agung dan Mila berkelahi layaknya film laga kolosal china, bahkan di saat terakhir ia melihat sedikit cahaya yang keluar, samar namun Anggi dapat merasakannya keluar dari mulut Mila. Sama seperti dirinya, jika begitu ada banyak hal yang di sembunyikan oleh Agung kepadanya.
Agung yang melihat keterkejutan Anggi, segera menggenggam tangan wanita itu, ia khawatir dengan amarah gadis itu. Bukan takut, tapi lebih tak ingin mengecewakan Anggi, dan membuat gadis itu tak ingin berada di dekat mu.
"Wah tampaknya kau belum memberitahukan kepada kekasih mu ya?" Robby tersenyum mengejek.
"Kau tahu terkadang urusan rumah tangga seseorang tak perlu di ketahui orang lain, karena itu sedikit berbahaya," ujar Agung bermaksud agar Robby dan yang lainnya tak perlu ikut campur dengan urusannya.
Namun Anggi justru salah sangka, ia kira bahwa ada banyak hal yang Anggi tidak perlu ketahui tentang Agung. Entah kenapa hatinya sakit dan kecewa ketika mengatakannya. Namun sekuat tenaga Anggi menahan ekspresinya di hadapan semua orang. Ia memasang senyum manis di hadapan semua orang. Anggi mulai berfikir bahwa dirinya sedikit kurang penting untuk Agung.
"Jadi menurut mu itu tidak penting?" Robby tersenyum tampaknya umpannya mulai di makan, terlihat wajah Anggi sedikit berubah meski mencoba tersenyum.
"Aku sedikit risih dengan hal tersebut," ujar Agung mengangkat alisnya. Anggi menundukkan kepalanya.
^^^Ternyata dia tidak menyukai apa yang kulakukan selama ini.^^^
"Yah, tapi aku rasa kau sedikit ceroboh," ujar Robby tersenyum kemenangan.
"Hm, kami masih memiliki banyak pekerjaan, sebaiknya kau pikirkan urusan kerja sama kita," ujar Melvin melihat ke arah jam tangannya. Ia dan Robby harus menemani Buana Abraham untuk pergi menemui tamu pentingnya, Wika Putra.
"Kau tak ingin mengirimkan salam mu terhadap paman mu?" Robby masih berusaha mengejek Agung yang tampak santai menghadapinya.
"Tidak juga, aku bisa menyampaikannya sendiri dengan mendatangi tempatnya. Tapi kau tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat," ujar Agung santai.
"Kalau kita bekerja sama, aku bisa memberimu akses masuk ke dalam tempat itu," tawar Melvin sebelum memasuki mobilnya.
"Akan ku hubungi nanti," ujar Agung mengangguk paham maksud dari Melvin.
Agung sudah mengetahui tujuan mereka untuk mendekati keluarga Buana Abraham. Tak lain tak bukan, hanya untuk balas dendam seperti dirinya.
Anggi tampak tak begitu memperdulikannya, Agung kira karena Anggi sibuk, maka dari itu Anggi terlihat tak begitu memperdulikan dirinya.
"Nggi ini di masukkan ke dalam kulkas?" Agung menunjukkan beberapa buah dan sayuran yang telah mereka beli.
"Iya," ujar Anggi singkat, tangannya masih sibuk menyimpan beberapa perabotan yang mereka beli.
"Ok," ujar Agung tanpa merasa ada yang salah dengan tingkah Anggi.
Setelah semua selesai Agung bersiap untuk membersihkan dirinya. Namun Anggi segera menghentikan langkahnya.
"Gung aku minjam laptop malam ini," ujar Anggi tiba tiba, karena tadi malam Agung mengambil laptop tersebut.
"Kenapa? Ada tugas?" Agung mengerutkan keningnya.
"Aku mau menerima pesanan lagi," ujar Anggi membuat Agung semakin bingung.
"Untuk apa?" Agung semakin bingung di buatnya.
"Aku tidak enak dengan mu, setelah ini sebentar lagi aku akan masuk ke dalam universitas. Aku harus mengumpulkan uang untuk masuk ke tempat impian ku," ujar Anggi menundukkan kepalanya, ia tak sanggup melihat wajah Agung, ia khawatir air matanya akan jatuh.
"Maksud mu apa Nggi?" Agung sedikit kesal dengan ucapan Anggi. Bagaimana wanita itu berfikir begitu setelah apa yang mereka lakukan selama ini.
"Aku... hanya tak ingin merepotkan mu," cicit Anggi semakin menundukkan kepalanya.
"Angkat kepala mu Anggi," perintah Agung, namun Anggi masih menundukkan kepalanya. "Anggi, angkat kepal mu," ujar Agung berjalan mendekat ke arah Anggi. "Nggi dengar, aku mau kau mengangkat kepala mu!"
Agung meninggikan suaranya, tanpa sengaja Agung membentak Anggi yang selama ini bahkan tak pernah ia bentak bahkan menaikkan suaranya.
Anggi menutup matanya, sejujurnya menurut Anggi Agung sedikit berubah. Lebih egois meski tetap mempertahankan sisi lembutnya. Namun Anggi selam ini berfikir bahwa itu karena tekanan saja, karena itu Agung lebih terlihat egois, terkadang bertingkah angkuh. Bahkan ketika mereka tengah berbicara, terkadang Agung mengabaikannya, dan lebih milih untuk memainkan ponselnya. Anggi sedikit kehilangan Agung yang lama, namun tetap mencoba memahaminya, meski rindu dengan masa mereka dulu.
"Maaf..." cicit Anggi, seger meninggalkan tempat tersebut.
...........
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MUSAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...
Terimakasih...