
Agung, Purwono, Malik, Anggi dan Mila saat ini berada di ruang yang sama, semuanya telah sadar, namun karena saran untuk istirahat, mereka kembali tertidur. Mila yang melihat agung tengah tertidur pulas di samping bangker Anggi, kini Mila mulai tersulut emosi, dengan sekuat tenaga ia berjalan ke arah Agung, ia ingin menusuk agung dengan pisau buah yang ada di salah satu rak pasien.
Pak Wijaya yang baru datang terkejut melihat hal tersebut, pak Wijaya segera menghentikan tindakan Mila. Bahkan tangannya sempat terluka akibat tertusuk pisu buah.
"Agh..." terikan pak Wijaya mengejutkan keempatnya. Agung segera melompat menghentikan tindakan Mila.
Agung segera mendorong Mila ke lantai, sehingga pisau di tangannya terlepas.
"Dasar psikopat," umpat Agung segera mencoba memberi pertolongan pertama kepada pak Wijaya, sementara Anggi segera menekan tombol darurat.
Purwono dan Malik dengan tubuh yang masih lemas segera memegangi Mila yang terus mencoba untuk memberontak.
Beberapa suster dan dokter datang ke kamar mereka, mereka tampak bingung dengan keadaan tersebut. Terlebih melihat tangan pengacara kondang tersebut, sungguh membuat semua orang terkejut. Para suster segera melakukan pertolongan pertama terhadap tangan pak Wijaya.
Berita penculikan oleh Mila cepat menyebar, terlebih Mila adalah seorang anak seorang jendral yang amat di segani. Beberapa wartawan telah berkumpul, sementara Mila sendiri di pindah ruang kan.
Mila sungguh tak terima dengan hal tersebut. Ia tak terima akan kekuatannya yang ia rasa telah menghilang. Mila dengan sangat kesal memanggil seorang wanita yang bekerja sebagai office girl rumah sakit untuk mendekatinya. Saat wanita itu mendekatinya tiba tiba wanita itu ia cekik.
Mila membuka mulutnya berharap dapat menghirup energi dari wanita tersebut, seperti biasanya. Namun semua nihil, ia tak melihat cahaya putih keluar dari mulut wanita tersebut. Namun justru wanita itu dapat meronta di dalam cekikannya.
Wanita itu terus meronta hingga orang orang berusaha masuk dan memegangi Mila, hal itu semakin membuat Mila emosi. Ia kembali menekan nadi wanita itu sehingga dokter datang menyuntikkan cairan penenang kepada Mila.
"Tidak semua hilang, bagaimana mungkin," gumam Mila di ambang kesadarannya yang semakin memudar.
Matanya masih mencoba untuk terbuka, namun lama kelamaan semakin berat. Di ujung kesabarannya ia melihat mama dan papanya yang baru saja datang dengan tergesa gesa.
Tamat lah keinginannya, seluruhnya telah hilang. Orang tuanya juga pasti akan mengetahui perbuatannya, tamatlah dirinya.
.............
Pagi itu mereka di dampingi pengacara keluarga Agung, pak Wijaya. Mereka memenuhi panggilan polisi sebagai saksi, meski kesehatan mereka sedikit menurun, namun mereka memenuhi panggilan. Mereka juga datang serentak bersama keluarga Fadila, tampak Fadila yang juga terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Keluarga Fadila terkejut mendengar berita tentang penculikan tiga siswa dan siswi SMA, yang di lakukan oleh Mila. Bahkan pelaporannya tiba tiba kembali di naikkan, padahal sebelumnya laporan mereka seolah tidak di hiraukan.
Pak Wijaya akan mendampingi hal ini atas nama pengacara korban. Kali ini pelakunya adalah anak tunggal dari keluarga jendral ternama. Pastinya mereka akan mencari celah agar kasus ini akhirnya tenggelam dan pelaku akan lolos begitu saja. Pak Wijaya tak ingin hal itu terjadi.
Setelah hampir lima belas jam, akhirnya wawancara kepada setiap anak selesai, yang artinya masing masing anak mendapatkan pertanyaan berlangsung hingga lima jam.
Pertanyaannya mencangkup tentang bagaimana, kenapa, mengapa, dimana dan kapan kejadian ini berlangsung. Mereka tentu memberikan jawaban yang sekujur jujurnya.
"Pak bagaimana kronologi anda menemukan mereka?"
Menurut kabar yang beredar memang pak Wijaya ikut mengamankan mereka, termasuk pak Wijaya lah yang memanggil pihak kepolisian.
"Salah satu pelapor merupakan anak dari almarhum sahabat saya, dan dia menelfon saya untuk meminta bantuan mencari temannya yang di culik," jelas pak Wijaya kepada awak media.
"Apa di tangan anda juga merupakan bukti kejahatan pelaku?"
"Kalau tangan saya memang bukti kejahatan pelaku, namun bukan pada saat penemuan para korban. Namun ini terjadi karena semalam di rumah sakit pelaku mencoba menyerang salah satu korban dengan pisau buah. Untung saja saya melihatnya, jadi saya menghentikannya, dan akhirnya tangan saya yang menjadi korbannya," pak Wijaya kembali menjawab pertanyaan dari wartawan. "Baiklah karena para korbannya saat ini masih tertekan sebaiknya kita akhiri pembicaraan kita sampai di sini."
Mereka segera menaiki mobil masing masing dengan orang tua mereka. Terkecuali Agung dan Anggi mereka menaiki mobil yang di kenakan oleh pak Wijaya, mereka berencana untuk pindah ke rumah baru yang telah di sediakan oleh orang tua Agung, dan pakaian mereka telah mereka ambil sejak tadi pagi oleh orang suruhan pak Wijaya.
"Sebenarnya kita kemana?" Anggi jelas bingung pasalnya Agung belum pernah bercerita apa apa kepadanya.
"Nanti kalau sudah sampai aku cerita ok," ujar Agung membuat Anggi mengangguk saja, toh dia sangat percaya kepada Agung. "Pak besok bisa tolong carikan kami guru bela diri?"
"Bisa tentu saja bisa, anda berdua memang sebaiknya di bekali ilmu bela diri yang baik," ujar pak Wijaya tersenyum. "Jika telah sampai di kediaman anda, saya akan menceritakan tentang rahasia kematian orang tua anda."
Mendengar hal tersebut, tentu saja Agung terkejut. Rahasia di balik kematian orang tuanya? Bukan kah mereka meninggal akibat kecelakaan? Bahkan ada dirinya sat itu. "Ah... I... iya terimakasih pak," ujar Agung memaksakan senyumnya.
Anggi yang menyadari keadaan agung yang tiba tiba berubah, segera menggenggam jari jari laki laki itu, Anggi berharap Agung dapat bersabar dan berlapang dada dengan masalah tersebut.
Agung membalas genggaman tangan Anggi, Agung seolah mengatakan aku baik baik saja, jangan khawatir.