The controller

The controller
The Controller XVII



Seorang wanita datang mengunjungi teman Hiro, Robby. Yang telah di nyatakan meninggal dunia, sejak semalam. Akibat kalah dalam pertarungan malam itu. Wanita itu tampak melipat bibirnya untuk menahan tangisnya.


Cuaca mendung yang tampak menyelimuti langit sat itu, sangat mendukung keadaan suasana berduka cita. Wanita itu terus memejamkan matanya berharap air matanya tak keluar. Ia tak ingin menangis karena baginya air mata adalah tanda kelemahan seseorang, dan ia tak ingin terlihat lemah di hadapan semua orang.


"Bersabarlah, kami masih ada untuk mu. Kami adalah pengganti kakak mu. Bagi kami kau adalah adik kami juga," ujar Hiro menepuk bahu wanita itu yang ternyata adalah adik dari Robby, yang telah di kebumikan.


"Nadia ingat kami adalah kakak mu juga," Ujar Dony segera merangkul bahu wanita yang di panggil Nadia itu.


Wanita itu terlihat begitu datar raut wajahnya, namun Dony dan Hiro jelas mengetahui kesedihan wanita itu. Ia kehilangan rekan kerja dan kakaknya sekaligus. Wanita itu terus menangis di dalam hatinya, namun tidak dengan matanya.


Dulu ia tak sempat ikut dalam memburu pihak lawan, dikarenakan dirinya harus menjalankan tugas lain, yang memang membutuhkan keahliannya. Ia telah sepakat dengan yang lain akan melakukan tugas tersebut, namun dirinya di kejutkan dengan kritisnya sang kakak, saat menjalankan tugasnya.


Wanita itu mengepalkan tangannya, keinginan untuk balas dendamnya sungguh besar. Ia kini hidup sebatang kara, ia tak memiliki siapa siapa lagi. Tempatnya mengadu dan bermanja-manja kini telah hilang. Meski manja versinya berbeda dengan manja yang lain.


Baginya kakaknya adalah segalanya untuk nya, laki laki itu yang selalu memperhatikan nya meski dengan hal yang begitu remeh remeh, namun bagi Nadia itu sangat berharga.


Semalam ia sempat berbincang dengan sang kakak, beberapa kali bahkan dirinya bermalam di rumah sakit, menjaga kakaknya. Terlebih semalam ia diberi pesan oleh sang kakak untuk berhati hati kepada laki laki itu.


"Berhati hatilah kepadanya, laki laki itu sangat berbahaya, dia memiliki kekuatan yang di luar nalar," ujar Robby lemah kepada Nadia.


"Iya kak, tapi kakak harus sehat, aku hanya punya kakak di dunia ini," ujar Nadia mengusap tangan kakak nya Robby.


"Tidak, aku akan selalu ada bersama mu percayalah," balas Robby mengusap puncak kepala sang adik. "Dengarkan pesan kakak, kau tidak boleh menyerah, dan akan terus berhati hati. Musuh kita bukan orang sembarangan, selain di lindungi oleh para pejabat di tempat di kota ini, bahkan laki laki itu juga memiliki kekuatan yang amat sangat besar, berbeda dengan manusia pada umumnya."


Robby terus berbicara membicarakan lawannya bertanding kemarin. Ia tak ingin adiknya salah menilai lawan nantinya, dan mampu mengimbangi kekuatan lawan.


Wanita itu terus memandangi batu nisan yang tanda bahwa kehadiran jasad kakaknya di dalam sana. Robby Darwis Triadi 1982 - 2021 Tepat usianya yang ke-39 tahun ia telah pergi meninggalkan adik semata wayangnya.


Wanita itu menahan tangisnya, sembari memejamkan matanya. Kemudian menengadahkan kepalnya ke langit, memandangi alam semesta dengan pandangan kosong.


^^^Kenapa tuhan? Kenapa? Apa salah ku? Kau memberiku jalan sesulit ini?^^^


Wajah datar itu terus memandang ke langit nan luas tersebut, tanpa sepatah kata pun, bahkan tanpa air mata setetes pun. Sejak kecil ia telah di ajarkan untuk tidak memperlihatkan amarahnya ataupun kesedihannya. Baginya amarah dan air mata merupakan kelemahan yang harus ia hindari.


Wanita itu tiba tiba teringat masa kecil mereka, dimana dia dan kakaknya selalu saja di pukuli oleh ayahnya yang pemabuk. Bahkan ia pernah hampir di lecehkan oleh sang ayah, untung saja ia berhasil meloloskan diri.


Nadia kecil terus menangis di bawah tempat tidur untuk menghindari sang ayah. Pasalnya saat ia terlelap tiba tiba ia merasa sesuatu yang aneh, ayahnya sendiri me*be*lan*jangi dirinya, mencoba untuk menjamah tubuh mungil tersebut. Entah apa yang di pikirkan ayahnya.


Ia yang ketakutan saat ayahnya tiba tiba datang di saat mabuk, seger berlari tanpa mengenakan apapun, ia berlari ke kamar sang kakak bersembunyi di bawah tempat tidur yang penuh dengan debu tersebut. Nadia kecil hanya berharap sang ayah tidak menemukannya.


Ketika kakaknya pulang dari sekolah, ia menemukan rumah berantakan, kemudian ia memasuki kamar sang adik, ia menemukan ayahnya setengah telanjang. Robby yang berpikiran buruk terhadap ayahnya mengira sang adik telah di lecehkan sang ayah. Apa yang di pikirkan ayah nya? Adiknya baru menginjak kelas 5 SD.


Karena kesal Robby segera mengambil guci keramik di ruang tamu, Robby membawanya dan memukul kepala ayahnya dengan menggunakan guci keramik.


"Dasar ayah bi*adab!" Robby berteriak kencang membuat sang Nadia kecil Semkin ketakutan.


Seketika ayahnya ambruk dengan luka di bagian kepalanya, tampaknya laki laki itu pingsan. "Kakak!" teriak Nadia kecil, membuat Robby mencari keberadaan adiknya.


"Di bawah kak," ujar Nadia ketika melihat kaki sang kakak. "Nadia ga pakai baju."


"Tunggu kakak," ujar Robby berjalan masuk ke dalam kamar adiknya, Robby sempat melirik song ayah yang masih tak sadarkan diri. Namun Robby tampak tak perduli. "Ini kenakan pakaian mu, kakak tunggu di luar."


Setelah mengenakan pakaian lengkapnya Robby segera memeluk adiknya dengan erat. "Kamu di apakan dengan ayah?"


Nadia menggeleng. "Nadia sembunyi di bawah tempat tidur kakak," ujar Nadia, yang artinya ayahnya belum menyentuhnya.


"Ayo pergi dari tempat ini," ujar Robby segera mengemasi barang barang mereka.


Semenjak saat itu mereka tinggal di jalanan dengan segala pengharapan yang sangat amat tinggi.


Mereka hidup dengan sangat tidak layak di bawah kolong jembatan, bahkan di gang gang kumuh bersama dengan anak jalanan lainnya.


Mereka hidup dengan bergantung belas kasihan orang lain, putus sekolah sudah pasti. Namun setidaknya mereka sudah terbebas dari ayahnya, yang memang ba*Jing*on. Mereka sering di kejar beberapa preman, yang menyatakan tempat itu adalah daerah kekuasaannya. Bekerja sebagai pencuci piring di rumah makan kecil hanya untuk bertahan hidup.


Suatu sore mereka tengah di kejar kejar oleh beberapa kelompok preman kembali, mereka di anggap mengganggu wilayah mengamen milik nya, dan di haruskan untuk menyetor kembali, namun mereka memilih untuk lari, setidaknya mereka masih bisa bertahan beberapa hari dengan uang tersebut.


Tanpa sengaja mereka bertemu dengan seorang anak laki kaki, ia yang memiliki permasalah yang sama dengannya. Hidup luntang lantung di kota tersebut, laki laki itu adalah korban penculikan.


Akhirnya merek memilih untuk bekerja sama. Untuk bertahan hidup, bahkan sebungkus roti saja mereka selalu membaginya menjadi tiga. Hingga akhirnya mereka nekat menjadi kurir narkoba hingga Nadia menjadi gadis remaja, dan keduanya menjadi pria dewasa. Saat itu mereka mampu membeli sebuah rumah kecil dengan hasil tersebut.


Mereka sama sekali tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, bukan tidak mau, mereka selalu menginginkannya, bahkan mereka selalu merasa iri jika melihat semua anak yang seumuran dengan mereka menggunakan seragam sekolah.


............


Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.


Caranya mudah kok.



Follow


Like


Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.


jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...



Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.


Terimakasih...