The controller

The controller
The Controller XII



Jam sekolah telah usai, Mila tampak tengah duduk dengan tenang di bangkunya, namun sesekali pandangannya menajam ke arah Fadila. Sembari sesekali menaikkan bibirnya, ia tampaknya memiliki rencana kepada saingan sejak dininya.


Tampak Fadila tengah sibuk membereskan bangkunya, dan bersiap untuk pulang ke rumah, siapa yang menyangka bahwa dirinya kini dalam bahaya.


Fadila seperti biasanya berdiri menunggui kakak nya untuk menjemputnya di depan gerbang sekolah. Di sana memang biasa, dan bukan hanya Fadila yang menunggui jemputan, beberapa siswa dan siswi lain dari sekolah mereka juga tengah menunggui jemputan.


Tampak Mila sejak tadi duduk di depan pos satpam dengan alasan menunggui jemputan. Sebenarnya tadi jemputan nya sudah akan datang, namun ia menghubungi supirnya untuk terlambat menjemputnya, dengan adalah ada tugas tambahan dari sekolah.


Lama kelamaan murid satu persatu telah pulang, tinggallah Fadila yang sejak tadi menunggui jemputannya, entah kenapa biasanya jemputan dirinya tidak pernah terlambat, namun entah kenapa tiba tiba jemputan tersebut lambat.


Dengan santai Mila mendekati tempat duduk Fadila diam diam, Mila telah merencanakan akan menyeret Fadila kedalam gudang di sebelah sekolah mereka, dan kemudian menghisap kekuatannya. Setidaknya ia akan menambah kekuatannya dengan cara mengorbankan saingannya. Tidak ada yang salah bukan? Justru semakin menguntungkan. Itulah yang di pikirkan oleh Mila


Mila tiba tiba mencengkram pundak Fadila dan menekan titik nadi Fadila. Hingga darah gadis itu tak dapat mengalir dengan sempurna, kemudian menyemprotkan obat bius ke wajah Fadila. Seketika gadis itu pingsan.


Sesuai dengan rencana yang telah ia buat, akhirnya Fadila ia seret ke dalam gudang yang di penuhi oleh barang barang yang tak terpakai. Mila segera mengikat tubuh Fadila ke sebuah dinding dengan kuat agar gadis itu tak dapat melawan.


Setelah mengikatnya, Mila segera menyiram wajah Fadila dengan air. Seketika Fadila terbangun, karen obat bius tersebut tergolong dosis rendah, biasnya hanya pingsan dalam hitungan menit. Namun karena tidak sabaran, maka Mila seger menyiraminya dengan air.


Fadila terbangun dan terkejut melihat Mila di hadapannya, sungguh dirinya saat ini tak dapat berbuat apa apa karena saat ia sadar seluruh tangannya telah terikat, bahkan tubuhnya masih terasa lemas efek obat bius tersebut masih ada di dalam tubuhnya.


"Halo teman masa kecil ku," sapa Mila berbasa basi, dengan mengenakan sarung tangan. Mila tak ingin ada jejak di sekujur tubuh Fadila, yang bisa membuatnya dalam bahaya.


"Kau..." Fadila jelas terkejut, bagaimana mungkin Mila dapat dengan sendirian menyeretnya ke tempat ini? Apa gadis itu menyewa orang lain?


"Apa?" Mila mendekati Fadila membelai dagunya. "Aku penasaran."


Mila segera mencengkram area nadi Fadila, dan mulai membuka mulutnya. Seketika bola matanya berubah menjadi merah, tubuhnya dipenuhi oleh asap hitam.


Tubuh Fadila seakan tak berdaya, nafasnya sesak, mulutnya seolah di paksa untuk terbuka, beserta matanya yang di paksa melotot ke arah Mila. Fadila sadar tiba tiba cahaya di sekitarnya semakin terang, dan akhirnya hanya ada warna putih terang yang ia lihat.


Saat tengah asyik memakan energi Fadila, tiba tiba pintu di dobrak oleh Agung, laki laki itu menghentikan aktivitasnya, ia harus melakukan sesuatu. Namun Mila tak tahu jika agung juga memiliki kekuatan tersebut.


Dengan santai Mila mendekat ke arah Agung meninggalkan Fadila yang telah pingsan karena kehabisan energi, kekuatan yang tak terbaca, dan tidak siapnya Mila dengan kekuatan Agung jelas mampu membuat Mila terpojok.


Agung secara tiba tiba mencekik dan menekan urat nadi Mila, wanita itu ternganga matanya keluar cahaya. Cahaya seluruh korbannya, kini ter_transfer kepada Agung. Agung menghisap setengah energinya sehingga membuat Mila melemas, dan kekuatannya hilang setengah.


Dirinya harus lari dari tempat ini, dan merencanakan hal yang lain, untuk mendapatkan kekuatan tersebut.


Agung yang melihat gelagat dari Mila yang hendak kabur hanya membiarkannya saja, ia akan memilih untuk menyelamatkan Fadila.


Agung segera menghubungi Anggi dan Angkasa, untuk membantunya membawa Fadila ke rumah sakit. Agung khawatir akan keselamatan Fadila, pasalnya denyutnya melemah.


Tepat setelah Agung mengeluarkan Fadila dari gudang, Angkasa dan Anggi datang. Mereka terlihat begitu khawatir.


"Ayo ikut aku, naik mobil ku saja," ujar Angkasa segera bergegas ke arah mobilnya.


Terlihat Malik dan Purwono segera menaiki motor mereka, untuk menyusul mobil Angkasa. Sesampainya mereka di rumah sakit Fadila segera di bawa ke UGD, beberapa dokter dengan sigap memeriksanya.


Para dokter yang memeriksa keadaan Fadila mengerutkan keningnya bingung. Ia bingung kenapa gadis itu terlihat begitu tertekan dan kehabisan banyak tenaga, seolah ia baru saja melakukan kegiatan yang menguras tenaga tanpa henti.


Angkasa menghubungi kedua orang tua Fadila, hanya berselang beberapa menit keduanya datang. Dan bertepatan dokter keluar dari memeriksa Fadila.


"Bagaimana dok?"


"Ini sangat membingungkan, di tangannya memang ada bekas ikatan yang lumayan kuat, tapi selain itu tidak ada yang lecet sedikit pun, bahkan hanya ada beberapa bekas cekikan di lehernya, tepat di nadinya. Namun anehnya selain itu tidak ada yang mencurigakan," ujar dokter tersebut tampak sedikit bingung. "Anak anda mengalami tekanan, dan trauma akibat penculikan tersebut, namun tidak ada luka fisik yang serius. Tapi tubuhnya seperti kelelahan, namun tidak ada bekas perkelahian di sana."


"Maksud dokter bagaimana?" Angkasa jelas bingung dengan keadaan tersebut. "Gung apa yang lo liat di sana?"


"Mila dia yang melakukannya," ujar Agung, setidaknya ia mampu menekan Mila, agar tidak berbuat yang macam macam.


"Bagaimana mungkin dia tak sebanding dengan Fadila?" Kedua orang tua Fadila jelas tahu siapa Mila.


"Dia bisa berkelahi, karena dia sempat melawan ketika saya mendobrak pintu gudang tersebut," ujar Agung meyakinkan, karena itulah kenyataannya. Bahkan Mila lebih berbahaya dari pemain MMB sekalian.


Untung saja mereka dengan cepat membawa Fadila ke rumah sakit, jika tidak mungkin saja Fadila saat ini tengah terbaring koma.


Agung masih ingat betul ketika ia mencoba menguping pembicaraan dari pak Arman dan Mila, ia penasaran bagaimana kepala sekolahnya menyelesaikan kasus mereka. Namun ia dikejutkan dengan suara dari dalam ruangan tersebut, kemudian di susul dengan ancaman dari Mila. Dapat Agung duga bahwa Mila juga sama seperti dirinya.


Agung segera bersembunyi di balik tembok, agar Mila tak mengetahuinya. Jika di lihat dari cara Mila menyembunyikannya, bisa jadi Mila lebih kuat dari dirinya. Karena tampaknya Mila telah berhasil menguasai kekuatannya, tak seperti dirinya yang masih tak mampu menguasai kekuatannya.