The controller

The controller
Kenangan pahit masa lalu



Nadia secara perlahan membuka matanya, wanita itu merasa sedikit asing berada di tempat tersebut. Kamar yang besar dan tampak begitu nyaman, tempat tidur yang begitu empuk. Nadia yakin bahwa kasurnya memiliki harga yang selangit.


Nadia sedikit bingung kenapa dirinya berada di tempat tersebut, karena perasaan Nadia dirinya tadi malam berada di sekitar warung bubur milik kakaknya dan kedua temannya.


"Kau sudah sadar?" Laki laki itu tersenyum ke arah Nadia.


"Ka... kak?" Nadia jelas terkejut laki laki itu sangat mirip dengan almarhum Robby, kakaknya.


"Bagaimana kau merasa baik baik saja? Ada yang sakit?" Laki laki itu kembali menanyakan keadaan Nadia.


Nadia terpana melihat wajah laki laki itu, mereka bukan mirip namun persis. Nadia pikir mereka kini sudah ada di tempat yang sama. Apa surga? Tapi apakah tuhan sebaik itu kepadanya? Bukan kah pekerjaan mereka begitu kotor? Menjadikan nyawa orang lain sebagai subjek pencarian uang, jelas Nadia tahu itu tidak baik.


Flashback.


Bahkan sejak kecil ia sudah menekuninya, dulu ia dan kakaknya sebagai seorang kurir narkoba. Pekerjaan menjadi kurir terus berjalan dengan baik, tanpa halangan sedikit pun, hanya saj mereka harus bermain kucing kucingan dengan para petugas. Namun mereka selalu lolos hingga menjelang remaja.


Hingga pada suatu malam Nadia tengah berjalan sehabis mengantar seperti biasnya, namun tiba tiba saja seorang laki laki menghadangnya. Nadia sangat ketakutan, dan berteriak kencang. Karena kebetulan kakaknya dan teman mereka juga mengantar di daerah tersebut.


"Kakak, Mel... tolong..." Nadia berteriak kencang, membuat Melvin dan Robby berlari ke arah sumber suara. Mereka melihat Nadia hendak di rampas hasil penjualannya, dan juga tampaknya laki laki itu memiliki tujuan lain.


Melvin dan Robby segera mengambil batu besar, mereka yang kesal segera memukul kepala laki laki yang tengah menghadang Nadia. Tanpa mereka duga laki laki itu ter*bu*nuh di tangan mereka. Kepanikan melanda mereka bertiga, mereka takut akan di ringkus oleh kepolisian, dengan kasus pembunuhan.


"Kakak, apa dia ma*ti?" Nadia denga panik melihat laki laki tersebut bersimbah darah.


"Kakak juga tidak tahu," ujar Robby tampak meremas rambutnya tanda ia sedang frustasi.


"Apa yang harus kita lakukan?" Melvin memandang ke arah Robby yang notabennya paling tua di antara mereka.


Robby lah yang selalu memberi keputusan di antara mereka, karena bagi mereka Robby merupakan kakak tertua, yang lebih dewasa di antara mereka.


Tiba tiba Robby tersenyum, meski ia sedikit ragu namun mereka sedikit memiliki harapan agar tidak terjebak di sana.


"Jangan perlihatkan hal yang menjanggal, kita bawa laki laki ini ke danau yang banyak buayanya lalu kita buang di ke dalam, kemudian kita buang seluruh alat bukti," ujar Robby mencoba mencari solusi.


"Bagaimana kalau ia mengambang?" Melvin justru menanyakan sesuatu yang kemungkinan akan terjadi, dan bisa berbahaya untuk mereka.


"Letakkan alat pemberat di kakinya, kita juga menggunakan sarung tangan saat ini, jadi itu tidak apa apa, kita bersihkan tempat ini dengan baju kita, kemudian taburi pasir," jelas Robby yang memang sejak awal tampak lebih tenang.


"Tapi kak aku takut," tiba tiba Nadia berujar, air matanya tampak mengalir begitu saja. Ia benar benar takut saat ini, ini kali pertama mereka melakukan pem*bu*nuh*han.


"Tatap mata kakak, kita tidak salah. Laki laki ini yang mengusik kita," ujar Robby meyakinkan. "Jika kita tidak membuangnya maka kita yang akan masuk ke dalam penjara, ayo jangan buang buang waktu lagi, sebelum ada orang yang melihat kita."


Akhirnya Nadia mengangguk setuju. Awalnya mereka mencari karung yang biasanya di buang oleh orang orang di tong sampah. Setelah itu mereka membungkus seluruh tubuh laki laki itu, kemudian Melvin dan Robby segera membuka baju mereka mencoba menyerap darah yang berceceran di sana.


Sementara Nadia mencari pasir, untuk ditaburi di area tersebut, agar bau amis dan warnanya tersamarkan. Setelah menemukannya, Nadia segera membawanya ke tempat kejadian. Kemudian menyerahkannya kepada Melvin dan Robby yang tamak hany mengenakan pakaian dalam dan celana panjang.


Mereka menaburi nya beberapa kali mereka juga beberapa kali mengaduk ngaduk nya. Hingga darahnya tersamarkan. Setelah itu mereka menuju ke danau yang pengunjungnya jelas dilarang mendekat Karen tempat itu di huni oleh banyak buaya danau.


Tampak beberapa buaya mengintai mereka, terlebih tercium bau darah segar di sekitar mereka. Dengan rasa gugup bercampur takut, mereka segera membuang mayat tersebut ke dalam danau, dan seketika seluruh buaya yang ada mengerubungi mayat tersebut. Ketiganya segera berlari dengan membawa karung dan juga baju yang berlumuran darah.


Setelah itu mereka segera membawa alat bukti yang mereka punya ke area rumah mereka. Mereka segera membakar semua alat bukti yang tersisa. Termasuk batu yang mereka gunakan untuk memukul laki laki itu, mereka menghancurkan batu itu hingga kecil kecil, kemudian menaburi nya di beberapa bagian pagar rumah warga setempat. Agar bukti semakin kecil.


...........


Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.


Caranya mudah kok.



Follow


Like


Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.


jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...



Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.


Terimakasih...