
"Meletakkan pion di antara mereka."
Agung tersenyum, menunjuk beberapa anak buah Hiro dan Dony, yang tampak ikut berdiskusi. "Mereka adalah pion, yang asli telah menjadi hilang."
"Kenapa tidak menghisapnya sekarang?" Melvin tampak begitu bersemangat, Agung bisa memakluminya. Itu karena Melvin memang memiliki dendam dengan mereka.
"Belum waktunya, kita masih membutuhkan kuda dan benteng untuk menjaga beberapa pion yang kita gerakkan ke arah musuh," ujar Agung terkekeh.
"Kau kira mereka peduli dengan anak buahnya?" Melvin terkekeh dengan hal tersebut.
"Tentu saja mereka peduli, hanya tinggal hitungan jari saja anak buah mereka," jawab Agung tersenyum misterius. "Maka jadikan mereka alat sebelum di singkirkan adalah hal yang paling menyenangkan."
"Hm, kau benar..." Melvin tampak membenarkan ucapan dari Agung. "Meletakkan biduk amat efektif tampaknya."
Agung hanya mengangguk. "Apa kau yakin mengambil gerombolan anak anak itu?" Melvin tiba tiba bertanya tentang kelompok mereka sendiri. Ada rasa khawatir tentang yang lain, ia pikir kenapa tidak mereka saja yang turun tangan? Sisanya anak, buah mereka saja yang bekerja. "Kenapa tidak kita kita saja?"
"Dendam adalah sebuah kekuatan yang maha dahsyat dari seseorang, sebagai motivasi untuk semakin kuat dan bertumbuh," jelas Agung tersenyum simrik ke arah belakang. "Tampak nya ada yang tengah mengintai kita."
"Kau benar sekali," ujar Melvin segera berbalik, begitupun dengan Agung, seketika mereka berpindah ke arah semak semak, dan mencekik dua orang laki, tepat di nadi mereka. "Kena kau!"
Melvin dan Agung membuka mulutnya, segera menghisap cahaya putih yang keluar dari mulut korban mereka saat ini. Tampak mereka sangat menikmatinya. Setelah mereka lemas tak berdaya, keduanya segera menghapus ingatan pertemuan merek.
"Ya lumayan juga sih," ujar Melvin terkekeh. "Ayo, aku sedikit mengantuk ini."
"Hm," Agung segera menaiki motornya, di dikuti dengan Melvin. Mereka segera pergi dari tempat tersebut, berpencar ke tempat tujuan masing-masing.
Agung segera kembali ke dalam kamarnya, ia segera meletakkan tiga pion yang akan menjaga satu sama lain. Sana seperti buah hitam, agung juga telah memindahkannya.
"Masih lama waktunya untuk bermain, tapi masih banyak hal yang harus di perbaiki," gumam Agung, segera mendekat ke arah foto foto yang telah ia sambungkan benang merah. "Maaf paman, itu semua salah mu, karena telah berani mencoba menyingkirkan keluarga dari adik kandung mu sendiri, sayangnya kau tidak berhasil sepenuhnya, dan menumbuhkan ranjau untuk dirimu sendiri."
Agung melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua tengah malam, agung segera membersihkan dirinya, besok ia harus kembali ke sekolah. Mereka akan melaksanakan ujian akhir sekolah, mereka tetap harus fokus untuk belajar.
Setelah selesai mandi, Agung segera merebahkan dirinya di tempat tidur, kali ini untuk mengamankan posisi mereka berenam, maka Agung akan membuat rencana belajar yang cukup efektif untuk mereka.
.........
Pagi telah menyingsing, Agung terbangun dan segera membersihkan dirinya. Laki laki itu telah siap dengan seragamnya yang pastinya Anggi yang mempersiapkan seluruhnya, dirinya hanya perlu mengenakannya. Agung turun ke arah dapur, dan seperti biasa menemukan Anggi yang tengah mempersiapkan sarapan untuk mereka.
"Morning," Agung mendekat dan mengecup puncak kepala Anggi, seperti rutinitas seorang suami kepada istrinya.
"Morning," ujar Anggi segera menuangkan air putih ke dalam gelas milik Agung.
"Wah sepertinya ini enak," ujar Agung tersenyum senang. Sarapan mereka telah terupdate sedikit, kini bukan selai lagi yang ada di atasnya, melainkan telur mata sapi, keju dan sayuran. Dengan sedikit saos dan mayonaise.
"Masih pagi banget malas masak," ujar Anggi tersenyum ke arah Anggi.
"Ini aja sudah cukup kok, sudah memenuhi sarapan empat sehat lima yang tidak sempurna," ujar Agung mengunyah sarapannya.
"Tidak sempurna?" Anggi mengerutkan keningnya.
"Iya, karena yang sempurna itu hanya kamu," ujar Agung sedikit menggombal kepada Anggi.
"Terus? Apa yang benar?" Agung mengerutkan keningnya bingung.
"Kebenaran itu hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, Allahuakbar..." Anggi mengepalkan tangannya ke atas seolah berorasi.
"Allahuakbar..." Agung terkekeh dan ikut berorientasi seperti Anggi. "Cocok sebagai seorang orator lama lama kamu Nggi."
"Jangan nanti di sorot, Tagline nya 'pendemo cantik nan imut dengan orasinya yang amat mantap,' kan heboh jadinya orang orang," ujar Anggi terkekeh. "Aku tak akan menjadi milik Agung seorang karena memiliki banyak fans di sana sini."
"Ya ya ya, ayo berangkat," ujar Agung segera menggandeng tangan Anggi.
"Gung pulang makan mie ayam aja ya," ujar Anggi bergelayut manja di tangan Agung.
"Hm, nanti ya, kita di tempat biasanya," ujar Agung mengusap lembut kepala Anggi.
Agung mempersiapkan motor mereka, sementara Anggi membuka gerbang rumah, setelah Agung keluar Anggi segera menutupnya dan kembali mengunci gerbang tersebut. Agung menekan sebuah tombol sebagai pengaman tambahan.
Setelah itu Anggi segera menaiki motor Agung, dan segera menekan pedal gasnya meninggalkan rumah mereka. Sesampainya di sekolah, mereka segera masuk ke dalam kelas. Semua orang berlaku seperti biasanya, selayaknya siswa SMA biasa.
"Agung, Anggi tugas kalian mana?" Angkasa berteriak dari bangkunya, tampaknya anak itu tak mengerjakan tugasnya lagi.
Agung menghela nafasnya, sungguh bagian ini yang menyebabkan. Namun beginilah realitas kehidupan anak SMA, pekerjaan rumah di kerjakan saat di sekolah. Agung segera melemparkan bukunya ke arah Angkasa, dan di sambut santai dengan Angkasa, yang segera membuka buku tersebut dan mulai menyalin pekerjaan rumah tersebut.
Tampak Purwono dan Malik yang ikut menyalin pekerjaan rumah tersebut. Anggi menggeleng melihat tingkah mereka, cukup sulit untuk berubah, terlebih tentang pekerjaan rumah. Anggi mengeluarkan bukunya, untuk belajar tentang pelajaran pagi ini, sementara Agung juga melakukan hal yang sama. Mereka masih membutuhkan status sebagai siswa beasiswa, demi melindungi identitas mereka.
...........
Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.
Caranya mudah kok.
Follow
Like
Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.
jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...
Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.
"JFI : BAGI YANG IKUT GIVEAWAY, JANGAN CUMAN BERI DUKUNGAN DARI VOTE DAN JUGA HADIAH YA, SOALNYA KOMENTAR JUGA DIMINTA, JADI TOLONG KOMENTAR YA. APA KEK, MISAL; OTHOR CANTIK GITU WKWKWK, APA AJA DEH YANG ENTING KOMENTAR YA, MAU MASUKAN KRITIKAN ATAU APA LAH YANG MEMBANGUN YA...
Terimakasih...