The controller

The controller
persiapan



Gerbang pintu baru saja di buka oleh seorang satpam, memang kebiasaan rumah mewah tersebut, baru akan membuka gerbang ketika tuan besarnya akan keluar. Sementara para asisten rumah tangga mereka melewati pintu samping.


Sejak semalam seorang wanita cantik terbaring lemas di depan gerbang mewah tersebut, mobil yang lalu lalang jelas tak memperdulikan wanita itu. Hidup mereka terlalu sibuk dan waktu mereka terlalu berharga hanya untuk menolong wanita tersebut. Pada dasarnya mereka memang tidak peduli, dengan berlandaskan bukan urusan mereka, maka semua selesai.


"Astaga..."


Satpam tersebut berteriak terkejut melihat seorang wanita yang tampak lemas. Pemilik rumah tersebut keluar dari dalam mobil untuk melihat kejadian tersebut.


"Nadia..."


Laki laki itu terkejut ketika melihat Nadia terbaring lemas di depan rumahnya.


"Cepat tutup pagarnya, masukkan mobilku, panggil dokter segera," ujar laki laki itu segera membawa Nadia ke dalam gendongannya. Satpam segera mengunci pagar besar tersebut.


Seseorang dari luar tersenyum kemudian menghubungi seseorang. "Semua sesuai rencana."


Sementara di rumah Agung, laki laki itu tampak tersenyum segera mendekati Anggi yang tengah mempersiapkan makanan. Yang baru saja datang dari kurir pesanan mereka.


"Anggi ayo latihan, mari persiapkan diri untuk selanjutnya," ujar Agung membantu Anggi untuk menyiapkan makan mereka.


"Ok siap," ujar Anggi semangat. "Ayo makan..."


Setelah mereka makan, Agung dan Anggi segera ke lantai tiga, tempat mereka latihan. Anggi mulai melakukan pemanasan, sementara Agung menelfon pak Wijaya untuk menanyakan pelatih yang akan membantu mereka latihan.


"Bagaimana pak? Bisa orangnya datang hari ini?" Agung melihat Anggi memulai latihan seperti biasanya. Anggi memang yang pernah menjadi atlet silat namun di lengserkan oleh seseorang yang lebih memiliki relasi, kini akan kembali menunjukkan kehebatannya. Namun bukan di jalur atlet, melainkan di jalur pembalasan dendam.


"Bisa hari ini, lalu apa lagi yang kamu mau?"


"Saya mau kami berlatih menembak," ujar Agung tersenyum.


"Ada lagi?"


"Saya ingin mencari tahu tentang seseorang..." Agung tersenyum ketika mengatakannya.


"Gung," Anggi memanggil Agung dari arah belakang.


"Iya..." Agung segera meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ayo sini kita latihan dulu," ujar Anggi melakukan ancang ancang.


"Ok," ujar Agung tersenyum.


Agung segera menyerang Anggi terlebih dahulu, dan di balas oleh Anggi. Mereka lebih tampak seperti berkelahi dari pada berteman. Agung menendang Anggi, namun Anggi berhasil menghindarinya dengan melompat ke arah belakang. Anggi kemudian melakukan serangan balik dengan melakukan serangan jarak dekat, secara langsung.


Agung tersenyum, ternyata Anggi masih mampu melakukan serangan serangan mematikan meski banyak celahnya. Agung akan membantu wanita yang tengah melawannya itu dengan baik.


Agung melihat kecerobohan dari Anggi, segera memiting Anggi dan membanting wanita itu. Anggi terbanting di atas matras dan memejamkan matanya. Nafasnya tersengal sengal, Anggi mengakui bahwa dirinya memang sedikit lebih ceroboh, ia akan berlatih lagi, itu janjinya.


"Lanjut nanti lagi, kita istirahat dulu," ujar Agung mengusap lembut kepala Anggi, dan menggiring wanita itu menuju tempat duduknya.


Ponsel Agung berbunyi, membuat agung segera mengangkatnya. Agung tersenyum seketika.


"Tunggu di sini, pelatih kita sudah datang," ujar Agung tersenyum ke arah Anggi. Laki laki itu berdiri meninggalkan Anggi yang tengah beristirahat.


"Kalau lama ga latihan gini deh," ujar Anggi menggelengkan kepalanya. Anggi segera meminum air mineral yang ada di hadapannya.


Tak lama kemudian Anggi datang bersama dengan seorang laki laki yang terlihat cukup ramah. Laki laki itu adalah Rean, seorang mata mata yang kini terancam akan di lengserkan atas ajuannya untuk membuka kembali kasus hilangnya orang orang, yang ia duga bersangkut paut dengan pemangku kekuasaan di kota mereka.


"Nggi ini kak Rean," ujar Agung memperkenalkan Rean kepada Anggi.


"Rean," ujar Rean tersenyum kepada Anggi.


"Anggi," balas Anggi.


"Kalian baru selesai latihan?" Rean memandang ke arah Anggi dan Agung bergantian.


"Latihan biasa aja sih kak," ujar Anggi tersenyum sungkan.


"Jadi mau mulai sekarang?" Rean memandang ke arah Anggi dan Agung.


"Boleh kak," ujar Agung tersenyum.


Mereka memulai latihannya dengan melakukan beberapa teknik teknik baru yang di ajarkan oleh Rean.


Give away time. Untuk teman teman yang ingin menghasilkan pulsa sebanyak 20K untuk 2 orang, yuk segera ikutan giveaway.


Caranya mudah kok.



Follow


Like


Komentar apa saja, mu kritik, saran, atau apa aja deh.


jangan lupa kasih hadiahnya berupa mawar secangkir kopi atau votenya ya...



Abaikan othor, sesungguhnya othor tidak ikut di dalamnya, hanya saja menyemangati diri sendiri dengan memberikan banyak dukungan untuk diri sendiri.


Terimakasih...