The Abyssal Dungeon

The Abyssal Dungeon
Chapter 9



Ethan dan timnya telah berjalan selama berjam-jam menuju lembah hitam yang sangat berbahaya untuk mencari sumber air legendaris yang konon dapat menyembuhkan segala penyakit. Mereka mempersiapkan diri dengan senjata masing-masing.


Mereka memasuki lembah yang penuh dengan rintangan dan bahaya, dan terdengar suara-suara aneh yang berasal dari arah depan mereka. Tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba berguncang dan kemudian muncul makhluk-makhluk yang sangat ganas dan menyerang mereka.


“Siap-siap, kita akan bertarung,” kata Ethan kepada timnya.


“Sudah siap,” jawab timnya dengan mantap.


Mereka berdiri siap sedia untuk menghadapi makhluk-makhluk yang menyerang mereka. Makhluk-makhluk tersebut tampaknya terdiri dari berbagai jenis seperti harimau berbulu hitam, ular berbisa, dan beberapa binatang liar lainnya. Semua makhluk itu memiliki gigi tajam dan cakar yang sangat kuat.


Ethan segera memimpin serangan dengan pedangnya. Dia berlari menuju makhluk terdekat dan menebasnya dengan pedangnya. Ada tiga makhluk lainnya yang menyerang tim Ethan secara bersamaan, sehingga Alex segera melompat maju dan menyerang mereka dengan tombaknya. Dua makhluk berhasil dihindari oleh Alex, namun satu lagi berhasil menghindari serangan tombak Alex dan melompat ke arah Maria.


Maria menghindar dengan lincah dan mengambil pisau kecilnya dari pinggangnya. Dia melompat dan menusuk pisau itu ke arah makhluk yang menyerangnya. Pisau tersebut menancap tepat di kepala makhluk tersebut, membuatnya mati seketika.


Di sisi lain, Hanzel mulai bergerak dan melawan beberapa makhluk dengan gerakan bela dirinya yang lincah. Ia berhasil menghindari beberapa serangan makhluk dan kemudian mengambil beberapa serangan balik yang cukup efektif. Di sekitar Gwyneth, makhluk-makhluk itu terus menyerang dan dia memutar kedua pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa.


Mereka berjuang mati-matian dan menunjukkan keahlian bertarung yang luar biasa, namun jumlah makhluk yang menyerang mereka semakin banyak dan semakin kuat. Beberapa di antaranya memang sulit dihadapi, sehingga tim Ethan mulai bergerak ke belakang dan mengatur strategi baru.


“Kita harus menemukan tempat yang lebih tinggi dan membuat benteng sementara,” kata Ethan kepada timnya.


“Tapi di mana kita bisa menemukan tempat seperti itu?” tanya Gwyneth.


“Kita harus mencarinya, karena tidak ada pilihan lain,” jawab Ethan.


Mereka mulai berlari ke arah sebuah bukit kecil yang terlihat lebih tinggi dari tanah di sekitarnya, mereka berlari menuju bukit kecil tersebut sambil terus melawan serangan makhluk-makhluk liar yang terus mengejar mereka. Namun, karena keahlian bertarung mereka yang tinggi, mereka berhasil melarikan diri dari kejaran makhluk-makhluk itu dan sampai di bukit tersebut.


“Ini tempat yang sempurna,” kata Hanzel.


“Ya, ini tempat yang cukup tinggi untuk membuat benteng sementara,” kata Ethan.


Mereka kemudian mulai mengumpulkan batu dan kayu untuk membuat benteng sementara. Mereka bekerja dengan cepat dan hati-hati karena mereka tahu bahwa makhluk-makhluk itu akan terus mengejar mereka.


Setelah selesai membuat benteng sementara, mereka mulai bersiap-siap untuk menghadapi serangan selanjutnya. Mereka merenungkan strategi yang terbaik untuk mengalahkan makhluk-makhluk yang ganas itu.


“Kita harus membuat jebakan,” kata Alex.


“Ya, itu ide yang bagus,” jawab Ethan.


Mereka mulai membuat beberapa jebakan di sekitar benteng mereka. Beberapa jebakan itu terdiri dari lubang-lubang yang terisi dengan kayu tajam, sedangkan yang lainnya berupa jerat yang terbuat dari tali dan ranting kayu.


Setelah selesai membuat jebakan, mereka mulai menunggu serangan makhluk-makhluk itu. Tidak lama kemudian, suara-suara aneh terdengar dari kejauhan dan beberapa makhluk liar itu mulai mendekati benteng mereka.


Mereka menunggu dengan sabar dan kemudian, saat makhluk-makhluk liar itu sampai di dekat benteng mereka, Ethan dan timnya segera melancarkan serangan. Ethan dan Gwyneth berlari ke depan dan menyerang makhluk-makhluk itu dengan pedang mereka, sementara Alex dan Maria berdiri di belakang untuk memberikan dukungan dari jarak jauh.


Saat itu terjadi, makhluk-makhluk itu terperangkap dalam jebakan-jebakan yang telah dibuat oleh tim Ethan. Beberapa makhluk tertusuk kayu tajam, sedangkan yang lainnya terperangkap dalam jerat yang telah disiapkan.


Namun, tiba-tiba mereka dihadapkan oleh makhluk-makhluk yang lebih ganas dari yang mereka hadapi sebelumnya. Makhluk-makhluk itu menyerang tim Ethan dengan kejam, melemparkan batu besar dan mengeluarkan suara menakutkan yang membuat tim itu menjadi ketakutan.


Tim Ethan segera mempersiapkan diri untuk bertarung. Ethan menarik pedangnya dan Hanzel mengeluarkan gerakan bela diri yang luar biasa, sementara Gwyneth mengayunkan dua pedangnya. Alex menggunakan tombaknya untuk menyerang dari jarak jauh, dan Maria mengayunkan pisau tajamnya ke arah makhluk-makhluk itu.


Pertarungan sengit pun terjadi di antara mereka. Makhluk-makhluk itu sangat ganas dan agresif, dan mereka terus menyerang tanpa henti. Namun, tim Ethan mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan serangan mereka. Mereka bertarung dengan gigih dan akhirnya berhasil mengalahkan makhluk-makhluk itu satu per satu.


Setelah pertarungan itu berakhir, tim Ethan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke lokasi sumber air. Mereka berjalan melalui area terbuka yang cukup luas, melewati bukit-bukit dan lembah-lembah yang curam. Namun, mereka tiba-tiba berhenti ketika mereka melihat sebuah sungai yang sangat besar dan luas, dan sebuah gua besar yang terlihat sangat angker dan misterius di seberang sungai.


“Kita harus menyeberangi sungai itu dan masuk ke dalam gua itu untuk menemukan sumber air,” kata Ethan.


“Tapi itu sangat berbahaya,” jawab Hanzel. “Sungai itu sangat deras dan gua itu sangat gelap.”


“Kita tidak punya pilihan,” kata Gwyneth. “Kita harus menemukan sumber air itu secepat mungkin.”


Tim Ethan kemudian mencari jalan untuk menyeberangi sungai yang deras itu. Mereka akhirnya menemukan jalan yang relatif aman untuk menyeberangi sungai itu, namun mereka harus berhati-hati karena jalan itu licin dan sangat berbahaya.


Setelah berhasil menyeberangi sungai itu, mereka masuk ke dalam gua itu. Mereka berjalan melintasi lorong-lorong yang gelap dan sempit, dan terdengar suara-suara aneh yang membuat mereka merasa takut. Namun, mereka tetap bergerak maju dan akhirnya sampai di sebuah ruangan besar di dalam gua itu.


“Siapa kalian yang berani masuk ke tempat ini?” tanya naga itu dengan suara yang bergemuruh.


Ketika tim Ethan menjelaskan tujuan mereka, naga itu tertawa terbahak-bahak.


“Kalian berpikir kalian bisa mengambil air itu begitu saja?” kata naga itu. “Aku Saphire pelindung sumber air ini, kalian harus melewati tantangan terakhirku terlebih dahulu. Jika kalian berhasil melewati tantangan itu, kalian akan diberikan izin untuk mengambil air itu.”


Tim Ethan setuju untuk mengikuti tantangan itu. Naga itu membawa mereka ke sebuah arena yang luas, tempat mereka akan bertarung satu lawan satu melawan makhluk-makhluk ganas.


“Tantangan terakhirku adalah pertarungan melawan makhluk-makhluk ini,” kata Shapire sambil menunjuk ke arah makhluk-makhluk yang berserakan di sekeliling arena.


Ethan dan timnya menatap ke arah makhluk-makhluk itu, dan mereka melihat bahwa setiap makhluk itu memiliki kekuatan dan keterampilan bertarung yang sangat mematikan. Ada harimau raksasa yang memiliki gigi tajam dan cakar yang kuat, singa berbulu tebal yang kuat dan lincah, harpy cantik dengan sayap yang kuat dan paruh tajam, naga kecil yang sangat berbahaya dengan api yang mematikan, dan kuda liar yang sangat cepat dan lincah.


“Kalian harus bertarung satu lawan satu melawan makhluk-makhluk ini,” kata Shapire. “Kalian harus memenangkan setiap pertarungan, jika kalian ingin mendapatkan izin untuk mengambil air itu.”


Tim Ethan merasa gugup dan cemas, namun mereka tahu bahwa mereka harus bertarung dengan hati yang penuh tekad jika mereka ingin menyembuhkan Sarah.


Pertarungan dimulai dengan Ethan yang bertarung melawan seekor harimau raksasa. Harimau itu melompat ke arah Ethan dengan cakar-cakarnya yang tajam, namun Ethan berhasil menghindar dan menebas pedangnya ke arah leher harimau itu. Harimau itu mengelak dengan cekatan dan mencoba menyerang Ethan lagi, namun Ethan dengan cepat melompat ke samping dan menghindari serangan tersebut. Ethan kemudian melompat ke arah harimau itu dan menebas pedangnya dengan cepat ke arah kepala harimau itu. Harimau itu jatuh ke tanah dengan gemetar, dan Ethan berhasil memenangkan pertarungan pertamanya.


Sementara itu, Hanzel bertarung melawan singa berbulu tebal yang sangat kuat dan lincah. Singa itu melompat ke arah Hanzel dengan kaki depannya yang kuat, namun Hanzel berhasil menghindar dan memukul singa itu dengan tendangan yang kuat. Singa itu jatuh ke tanah dengan keras, namun cepat bangkit dan melompat ke arah Hanzel lagi. Hanzel dengan cepat merespons dan memukul singa itu dengan tendangan yang lebih kuat, dan kali ini singa itu tidak bangkit lagi.


“Kalian hebat sekali,” kata Shapire sambil mengamati pertarungan tersebut.


Gwyneth bertarung melawan harpy cantik yang memiliki sayap yang kuat dan paruh yang tajam. Harpy itu terbang di udara dan mencoba menyerang Gwyneth dengan sayapnya yang kuat, namun Gwyneth dengan cepat melompat dan menyerang dengan dua pedangnya. Harpy itu mencoba menghindari serangan Gwyneth dengan terbang ke atas, namun Gwyneth dengan lincah melompat dan memukul harpy itu dengan pedangnya. Harpy itu jatuh ke tanah dengan keras, dan Gwyneth berhasil memenangkan pertarungannya.


Sementara itu, Alex bertarung melawan naga kecil yang sangat berbahaya dengan api yang mematikan. Naga itu menyerang Alex dengan api dari mulutnya, namun Alex berhasil menghindar dan menyerang naga itu dengan tombaknya. Naga itu mencoba menyerang Alex lagi dengan api, namun Alex dengan cepat berlindung dan memukul naga itu dengan tombaknya. Naga itu jatuh ke tanah dengan keras, dan Alex berhasil memenangkan pertarungan keempat.


Maria bertarung melawan kuda liar yang sangat cepat dan lincah. Kuda itu mencoba menyerang Maria dengan tanduknya yang tajam, namun Maria berhasil menghindar dan menyerang dengan pisau kecilnya. Kuda itu mencoba melarikan diri, namun Maria dengan cepat mengejarnya dan berhasil memukulnya dengan pisau kecilnya. Kuda itu jatuh ke tanah dengan keras, dan Maria berhasil memenangkan pertarungan terakhir.


“Kalian berhasil memenangkan semua pertarungan,” kata Shapire sambil tersenyum bangga. “Kalian adalah tim yang sangat hebat.”


“Apakah kami mendapatkan izin untuk mengambil air itu sekarang?” tanya Ethan.


“Tentu saja,” jawab Shapire. “Kalian telah membuktikan diri sebagai pejuang yang tangguh dan layak untuk mendapatkan air itu.”


Shapire membawa mereka ke sebuah gua yang tersembunyi di belakang gunung, dan di dalam gua tersebut terdapat sebuah mata air yang sangat jernih. Tim Ethan memenuhi botol-botol mereka dengan air itu.


Namun, tiba-tiba mereka mendengar suara ribut-ribut dari arah yang berbeda. Mereka berlari menuju suara tersebut dan terkejut melihat David, teman satu desa mereka, sedang berdiri di depan Shapire dengan tombaknya yang siap untuk menyerang.


“David, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ethan dengan suara gugup.


“Kalian tidak akan mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi terima kasih sudah membuat misiku menjadi lancar untuk sampai disini,” jawab David sambil tersenyum jahat. “Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku.”


David kemudian meluncurkan serangan ke arah Shapire dengan tombaknya yang besar. Shapire menghindari serangan itu dengan lincah dan mulai membalas serangan. Pertarungan antara Shapire dan David berlangsung dengan cepat dan sengit. Kedua pejuang itu saling menyerang dan menghindari serangan satu sama lain dengan lincah.


Sementara itu, Tim Ethan memutuskan untuk membantu Shapire dan melawan David. Mereka mengeluarkan senjata mereka dan bersiap untuk bertarung.


“Kalian tidak akan bisa menghentikanku!” teriak David sambil menyerang Tim Ethan dengan tombaknya. Tim Ethan berhasil menghindar dari serangan David, dan mereka mulai membalas serangan dengan senjata mereka.


Pertarungan semakin sengit, dan David semakin ganas dalam menyerang sampai tombak David menembus jantung Saphire. Tiba-tiba sebuah batu berwarna biru muda bersinar keluar dari tubuh naga suci Shapire. David dengan cepat mengambil batu itu dan berlari menjauh sebelum Tim Ethan bisa menghalanginya.


“Dia berhasil mengambil batu itu,” kata Shapire dengan suara lemah. “Itu adalah batu yang sangat berharga, dan seharusnya hanya digunakan untuk kebaikan, kalian harus mengambilnya sebelum terlambat.”


Tubuh Saphire bercahaya dan menghilang.


“Sial! Kita kalah lagi,” ucap Ethan marah.


***


Jangan lupa like, komen dan votenya ya semua!!! Terima kasih.❤️