The Abyssal Dungeon

The Abyssal Dungeon
Chapter 30



Ethan dan timnya berlari dengan cepat melalui hutan yang lebat. Suara langkah mereka terdengar berirama dan kencang, menghancurkan dedaunan dan ranting-ranting di bawah kaki mereka.


"Kain pasti sudah tahu kita mengejarnya," kata Ethan dengan napas tersengal-sengal. "Dia tidak akan mudah menyerah."


"Kita tidak akan menyerah juga," sahut Sarah, sambil melempar panah ke belakang mereka.


Maria dan Gwyneth berlari di samping mereka, masing-masing membawa senjata mereka yang siap digunakan. David dan Hanzel berada di belakang mereka, memastikan tidak ada yang menyerang dari arah yang lain.


"Aku berharap kita bisa menangkap Kain sebelum dia berhasil kabur," kata Hanzel, dengan nafasnya yang cepat.


"Aku rasa kita perlu mengubah strategi," kata David, sambil menurunkan tombaknya yang besar. "Kita tidak bisa terus mengejar mereka seperti ini."


"Maksudmu?" tanya Ethan.


"Kita harus menemukan cara untuk membagi pasukan mereka dan mengejar mereka secara terpisah," jelas David. "Itu akan memudahkan kita untuk menangkap Kain dan merebut batu bercahaya itu.”


"Bagus," sahut Maria. "Tapi bagaimana caranya?"


"Kita harus memutar arah dan menyerang dari dua sisi," jawab Gwyneth. "Itu akan membuat mereka bingung dan terkepung."


Ethan mengangguk setuju. "Baiklah, mari kita lakukan itu. David dan Hanzel, kalian membawa pasukan dari sebelah kanan. Sarah, Maria, dan Gwyneth, kalian mengejar dari sebelah kiri. Aku dan Gregor akan tetap di tengah dan memimpin serangan."


Setelah berdiskusi sebentar, kelompok pahlawan melakukan tindakan yang direncanakan. Mereka memutar arah dan mengejar kelompok tentara bayaran dari dua sisi yang berbeda. Serangan mereka terkoordinasi dan efektif, membuat kelompok tentara bayaran terkepung dan bingung.


"Kalian tidak bisa lari selamanya!" teriak Ethan, sambil mengejar Kain yang berlari di depan mereka. "Serahkan dirimu dan barang curianmu!"


Kain hanya tertawa dan terus berlari. "Kalian pikir kalian bisa mengalahkan aku? Pikirkan lagi, pahlawan kecil. Aku sudah mengalahkan kalian sekali, dan aku bisa melakukannya lagi."


"Tidak kali ini," kata Sarah, sambil melempar panah ke arah Kain. Panah itu mengenai pohon di dekat Kain dan membuatnya terhenti sejenak.


"Kamu hampir mengenaiku, Sarah," kata Kain, sambil berlari lebih cepat. "Tapi itu tidak cukup untuk menangkapku."


Kelompok pahlawan terus mengejar Kain dan kelompoknya, melompati bebatuan dan menghindari rintangan di sepanjang jalan. Mereka tidak menyerah dan terus mengejar hingga mereka akhirnya mencapai tebing yang curam.


Kain berhenti di tepi tebing dan menoleh ke belakang, tersenyum sinis. "Kalian pikir kalian bisa mengejar aku sampai sini? Kalian salah besar."


"Kami akan menangkapmu, Kain," kata Ethan, dengan tegas.


Kain hanya menggelengkan kepala. "Kalian tidak bisa menangkapku, tapi aku bisa membunuh kalian." Dia kemudian mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk melawan.


Kain dengan lincah menghindari serangan-serangan yang dilancarkan oleh kelompok pahlawan. Dia menggerakkan pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa dan menghasilkan suara gemeretak setiap kali dia menyerang. Ethan dan kelompoknya memperhatikan gerakan-gerakan Kain dengan cermat, mencoba untuk menemukan celah di antara pertahanannya yang kuat.


Ethan memimpin serangan dengan penuh semangat, melancarkan serangan-serangan yang cepat dan tajam dengan pedangnya. Sarah dan Gwyneth menembakkan panah dengan kecepatan tinggi, berusaha untuk mengenai sasaran dengan tepat. Maria melemparkan pisau dengan cermat dan kecepatan yang luar biasa, membuat Kain terus bergerak untuk menghindarinya. David dan Hanzel menyerang dengan tombak dan gerakan ilmu bela diri mereka yang cepat, membuat Kain harus bergerak cepat untuk menghindari serangan mereka.


Pertarungan itu semakin intens, dengan serangan-serangan yang terus dilancarkan dari kedua belah pihak. Ada banyak suara pedang yang bertabrakan dan teriakan yang memenuhi udara. Kelompok pahlawan saling berkomunikasi dengan cepat dan efektif, mengatur strategi dan menyerang dengan kekuatan penuh. Kain dan kelompoknya juga berusaha untuk menyerang dengan kecepatan dan kecerdikan, mencoba untuk menemukan celah di antara pertahanan kelompok pahlawan.


"Tidak ada yang bisa mengalahkanku!” teriak Kain, sambil menyerang lebih cepat.


"Kamu salah," kata Hanzel, dengan tajam. "Kami tidak akan menyerah dan kami pasti akan mengalahkanmu."


Kain terkejut dengan kekuatan Hanzel dan tersandung ke belakang. Kelompok pahlawan segera memanfaatkan kesempatan itu dan menyerang Kain dari semua sisi.


"Kamu kalah, Kain," kata Ethan, dengan tegas. "Serahkan dirimu dan barang curianmu sekarang."


Kain tersenyum dan melemparkan sesuatu ke arah kelompok pahlawan. Ada ledakan keras dan kelompok pahlawan terhuyung-huyung karena terkena ledakan itu.


"Meninggalkan dengan cara yang mengejutkan, ya?" kata Kain, dengan sinis.


Kelompok pahlawan akhirnya sadar bahwa Kain telah mengalihkan perhatian mereka dengan ledakan itu dan berhasil kabur.


"Kita harus mengejar dia lagi," kata Sarah, sambil memegang luka di lengannya.


"Mereka sudah terlalu jauh," kata David, dengan nafas yang cepat. "Kita tidak bisa mengejar mereka lagi."


Setelah Kain berhasil kabur, kelompok pahlawan merasa kecewa dan frustrasi. Mereka merasa telah kehilangan kesempatan untuk menangkap pemimpin kelompok tentara bayaran yang telah mengkhianati mereka. Namun, mereka masih memiliki satu barang curian yang berhasil mereka ambil dari kelompok Kain, sebuah peta yang tampaknya menunjukkan lokasi markas musuh mereka.


"Sepertinya Kain membiarkan kita mengambil peta ini dengan sengaja," kata Gwyneth, sambil memeriksa peta. "Ini mungkin cara dia untuk memancing kita masuk ke dalam jebakan."


"Tapi kita tidak punya pilihan lain," kata Ethan, dengan tegas. "Kita harus mengetahui keberadaan musuh kita dan mengalahkan mereka untuk selamanya."


Mereka segera memutuskan untuk mengikuti petunjuk di peta dan menuju ke lokasi markas musuh mereka, mereka akhirnya tiba di dekat markas musuh mereka. Mereka bersembunyi di semak-semak dan memeriksa keadaan di sekitarnya. Mereka melihat beberapa pasukan tentara bayaran berjaga di pintu gerbang dan gerakan-gerakan lain di dalam markas.


"Bagaimana cara kita masuk?" tanya Maria, dengan khawatir.


"Ini terlihat tidak mudah," kata Ethan, sambil merenungkan situasi. "Tapi aku punya rencana."


Ethan kemudian memberikan instruksi kepada masing-masing anggota tim dan mereka mulai bekerja sama untuk mempersiapkan rencana serangan. Sarah dan Gwyneth akan mengambil posisi di atas pohon dan melemparkan panah dari atas, sedangkan Maria dan David akan menggunakan pisau dan tombak mereka untuk menyerang musuh dari samping. Hanzel akan menjadi penjaga di belakang, sementara Gregor akan menggunakan kekuatan titannya untuk menghancurkan tembok.


"Kita hanya punya satu kesempatan," kata Ethan, sambil menatap anggota timnya dengan serius. "Kita harus bekerja sama dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada."


Kelompok pahlawan kemudian bergerak maju dengan cepat, menerobos masuk ke dalam markas musuh dengan serangan yang cepat dan kuat. Sarah dan Gwyneth berhasil mengambil banyak musuh dengan panah mereka, sedangkan Maria dan David menghancurkan banyak pasukan dengan pisau dan tombak mereka. Hanzel menghentikan serangan dari belakang, sedangkan Gregor menghancurkan tembok dengan kekuatan titannya.


Tetapi, ketika kelompok pahlawan berhasil masuk ke dalam markas, mereka mendapati diri mereka terjebak dalam jebakan. Mereka disambut oleh banyak pasukan tentara bayaran yang siap untuk melawan mereka.


"Tidak mudah, bukan?” kata Kain, dengan sinis, sambil muncul di hadapan mereka.