The Abyssal Dungeon

The Abyssal Dungeon
Chapter 42



Maria menggigit bibirnya, "Aku tidak suka ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengintai di balik kabut."


Gregor setuju, "Ini memang terasa aneh. Kita harus berhati-hati dan tetap bersama-sama."


Mereka memutuskan untuk berjalan lebih hati-hati, karena mereka merasa suasana semakin gelap dan hening. Suara hewan-hewan malam yang biasanya mengisi hutan pun meredup, memberikan kesan bahwa ada sesuatu yang tidak terlihat yang mengawasi mereka.


Ketika mereka melangkah dengan hati-hati, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki yang berat di tengah kabut. Semuanya secara refleks berhenti dan menatap ke arah suara itu. Ketegangan mengisi udara saat mereka mencoba mengidentifikasi sumber suara tersebut. Kabut semakin tebal, sehingga mereka hanya dapat melihat bayangan samar di kejauhan.


Ketika kabut mulai berkurang sedikit demi sedikit, sosok-sosok mengerikan mulai muncul dari balik kabut. Monster-monster besar dengan tubuh yang menyeramkan, gigi tajam, dan mata merah menyala melangkah maju mendekati mereka dengan gerakan yang ganas. Ada tiga monster yang terlihat mengancam, mengirimkan getaran ketakutan ke dalam hati mereka.


Ethan berseru, "Segera, berlari!"


Mereka mengumpulkan kekuatan terakhir mereka dan berlari secepat mungkin, menyusuri jalanan yang gelap dan dipenuhi oleh kabut. Monster-monster itu mengeluarkan suara mengerikan yang membuat detak jantung mereka semakin cepat dan mengisi pikiran mereka dengan rasa takut yang sangat besar. Meskipun ketakutan menggelayuti hati mereka, mereka tidak berhenti berlari.


Mereka terus berlari tanpa henti, melampaui rintangan dan menghindari serangan monster-monster tersebut. Kaki mereka terasa berat dan napas mereka tersengal-sengal, tetapi mereka tidak boleh menyerah.


Setelah berlari sejauh yang mereka bisa, mereka akhirnya keluar dari daerah yang diliputi kabut dan melihat cahaya kota di kejauhan. Mereka menyadari bahwa mereka telah mencapai Light City.


Dengan hati yang berdebar-debar, mereka terus berlari menuju gerbang kota, dengan monster-monster itu tetap mengejar mereka. Warga kota terkejut melihat kelompok itu datang dengan keadaan yang panik dan dikejar oleh monster. Mereka segera disambut dan diberikan perlindungan oleh para penjaga kota.


Ketika mereka berhenti di depan gerbang, Ethan menoleh ke arah Isabella dan berkata dengan suara terengah-engah, "Kita berhasil, Putri Isabella. Kita telah sampai di Light City."


Isabella menatap mereka semua dengan rasa syukur dan haru di matanya. "Terima kasih, semuanya. Aku tidak akan pernah melupakan bantuan kalian. Sekarang, aku merasa aman."



Ethan berjalan dengan hati berat melintasi lorong-lorong istana menuju ruangan tempat Raja Light City berada. Dia tahu bahwa dia harus menghadap Raja dan memberikan penjelasan yang jujur ​​mengenai kegagalan mereka dalam misi mendapatkan Moon Stone yang sangat penting.


Ketika dia tiba di ruangan Raja, pintu terbuka di depannya dan dia memasuki ruangan yang megah itu. Raja duduk di singgasana, dengan tatapan yang tajam dan penuh harapan.


Dengan penuh kerendahan hati, Ethan melangkah maju. "Dengan segala hormat, Raja," katanya dengan suara bergetar. "Saya ingin meminta maaf karena tim saya tidak berhasil mendapatkan Moon Stone seperti yang diharapkan."


Raja menatapnya dengan penuh kekecewaan namun memberikan kesempatan pada Ethan untuk menjelaskan lebih lanjut. "Beri tahu saya apa yang terjadi, Ethan. Mengapa kalian tidak dapat mendapatkan Moon Stone itu?”


"Saat kami berusaha melarikan diri, musuh kami mengambil keuntungan dari kekacauan itu dan merebut Moon Stone dari tangan kami," ujar Ethan dengan penuh penyesalan. "Kami berjuang dengan segala kekuatan kami, tetapi kami tidak dapat menghentikan mereka. Saya meminta maaf karena kegagalan ini."


Raja menatap Ethan dengan tatapan yang bercampur antara kecewa dan pengertian. "Ethan, saya mengerti bahwa kalian telah berjuang keras dalam misi ini. Kalian telah menyelamatkan Isabella putriku dan membawanya ke sini dengan selamat. Meskipun Moon Stone tidak berhasil kita dapatkan, keselamatan kalian dan putriku memiliki nilai yang jauh lebih besar."


Ethan merasakan sedikit lega mendengar kata-kata pengertian Raja, tetapi rasa tanggung jawabnya tetap ada. "Namun, Raja, saya merasa bertanggung jawab atas kegagalan ini. Saya berjanji bahwa kami akan melakukan apapun untuk memperoleh kembali Moon Stone dan melindungi dunia ini.”


Raja mengangguk dengan serius. "Ethan, aku tahu betapa besar dedikasi dan tekadmu dalam melindungi dunia ini. Aku percaya padamu dan timmu. Segera, kita akan merencanakan langkah selanjutnya untuk menghadapi musuh kita dan mendapatkan kembali Moon Stone yang hilang. Dunia ini bergantung padamu dan timmu.”


Dia berlutut di depan Raja dan dengan tulus berkata, "Terima kasih atas pengertian dan kepercayaanmu, Raja. Saya berjanji bahwa kami tidak akan mengecewakanmu dan orang-orang di dunia ini lagi. Kami akan melindungi dunia ini dan mendapatkan kembali Moon Stone."


Raja mengangguk dengan bangga. "Bangkitlah, Ethan. Kalian adalah harapan terakhir kerajaan ini. Aku tahu bahwa kalian memiliki keberanian dan tekad yang diperlukan untuk mengatasi rintangan ini. Bersiaplah, dan kembalikan Moon Stone ke Light City."



Ethan duduk sendirian di tepi sungai yang mengalir melalui Kerajaan Light City. Di tangannya, ia memegang batu roh naga api yang memancarkan cahaya merah menyala. Matahari terbenam menyinari langit dengan nuansa oranye dan merah, menciptakan suasana yang tenang dan memikat. Ethan menatap ke dalam batu roh naga api dengan tatapan penuh ketakjuban, tapi juga kekhawatiran yang terpancar dari wajahnya.


"Ethan, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya seorang wanita dengan lembut. Itu adalah Gwyneth, teman sekaligus orang yang memberikan batu roh naga api kepadanya.


Ethan mengalihkan pandangannya dari batu roh naga api dan melihat Gwyneth duduk di sebelahnya. "Gwyneth, aku khawatir dengan kekuatan ini," kata Ethan sambil menunjuk ke batu roh naga api di tangannya. "Aku tidak dapat mengendalikannya dengan baik. Setiap kali aku merasa emosi memuncak, api ini berkobar dan membuat segalanya hancur di sekitarnya."


Gwyneth menatap Ethan dengan penuh empati. "Ethan, kekuatanmu adalah anugerah yang luar biasa. Tapi, memang benar bahwa kamu harus belajar untuk mengendalikannya dengan bijaksana. Jangan biarkan ketakutanmu menguasaimu."


Ethan menggelengkan kepala. "Tapi bagaimana aku bisa mengendalikan sesuatu yang begitu kuat? Aku merasa seperti api ini memiliki kehendak sendiri, seperti sesuatu yang melebihi pemahamanku."


Gwyneth meletakkan tangannya di atas tangan Ethan dengan penuh kehangatan. "Kekuatanmu adalah bagian dari siapa kamu, Ethan. Kamu harus menerima dan memahaminya sepenuh hati. Kekuatan ini adalah refleksi dari jiwa dan emosi mu. Jika kamu belajar mengendalikannya, kamu bisa memiliki kekuatan yang sangat luar biasa.”


Ethan memandang Gwyneth dengan penuh harapan bahwa Gwyneth memiliki jawabab atas pertanyaannya ini. “Bagaimana aku bisa belajar mengendalikan kekuatan ini?"


Gwyneth tersenyum dan berkata, "Aku akan membantumu. Kita akan mencari naga api yang berada di ujung barat Abyssal Dungeon ini. Dari naga api, kamu akan belajar mengerti kekuatan ini dan menemukan keseimbangan di dalam dirimu."