
"Hanya beberapa hari?" Hanzel bertanya terkejut. "Itu sangat singkat untuk melakukan misi yang besar ini."
Ethan mengangguk serius. "Kita harus bergerak cepat. Kita tidak bisa menunggu terlalu lama lagi atau kita akan kehilangan kesempatan ini."
Sarah bertanya, "Apa rencana kita untuk menemukan Isabella?"
Ethan menjawab, "Kita akan menyusup ke dalam Kuil Cahaya dan mencari Isabella. Kita akan mengecoh mereka dan mencari celah untuk masuk."
Maria menambahkan, "Tetapi, kita harus hati-hati dan waspada. Dart bukanlah musuh yang bisa dianggap remeh. Dia pasti telah memperkuat keamanan disana dan mengantisipasi kemungkinan penyusupan."
David berkata, "Kita perlu memikirkan cara untuk melewati keamanan mereka tanpa terdeteksi."
Gwyneth menambahkan, "Kita juga perlu memastikan bahwa kita tidak akan mengalami kesulitan ketika mencari Isabella dan membawanya keluar dari Kuil Cahaya.”
Ethan berkata, "Kita akan memerlukan peralatan khusus untuk tugas ini. Aku akan mengatur semuanya dan memastikan bahwa kita punya segala yang kita butuhkan."
Tim itu mengangguk setuju, Ethan menambahkan, "Kita harus bergerak cepat. Setiap detik sangat berharga. Aku harap kalian siap untuk tugas ini."
Tim itu mengangguk dengan tekad, dan siap untuk menjalankan rencana mereka dengan hati-hati dan teliti. Mereka tidak akan membuang waktu lagi dan akan bergerak secepat mungkin.
Waktu semakin dekat dan bulan purnama semakin mendekat. Tim Ethan tahu bahwa mereka tidak boleh gagal dalam tugas mereka, karena jika mereka gagal, maka kekuatan Moon Stone akan jatuh ke tangan Dart dan menyebabkan kekacauan di seluruh dunia.
Ethan dan timnya merencanakan setiap langkah dengan hati-hati saat mereka mendekati Kuil Cahaya. Mereka mengevaluasi kekuatan dan kelemahan mereka, mempersiapkan peralatan yang diperlukan, dan membangun strategi untuk menyusup tanpa terdeteksi.
Malam semakin larut, dan angin malam berhembus sepoi-sepoi melintasi pepohonan di sekitar Ethan dan timnya. Dalam gelapnya hutan yang lebat, sinar rembulan menerobos celah daun-daun, menciptakan bayangan-bayangan yang misterius di sekeliling mereka.
Dalam kesunyian hutan yang gelap, Ethan memberikan instruksi kepada timnya. Suaranya terdengar tenang namun penuh dengan otoritas. Ia memaparkan rencana mereka dengan jelas, menjelaskan setiap langkah yang harus diambil. Timnya mendengarkan dengan seksama, menyerap setiap kata yang diucapkannya.
"Misi kita adalah mencapai Kuil Cahaya yang tersembunyi di dalam hutan ini," ucap Ethan dengan tegas. "Kita harus tetap waspada terhadap setiap kemungkinan bahaya. Hutan ini penuh dengan perangkap dan mahluk-mahluk yang ganas. Mari kita berjalan perlahan dan bertindak dengan hati-hati."
Setiap anggota tim menganggukkan kepala mereka sebagai tanda persetujuan. Mereka memahami pentingnya koordinasi dan kerjasama dalam misi ini. Ethan melanjutkan, "Sarah, kita membutuhkan kemampuanmu dalam mengamati dan melacak musuh-musuh kita. Jaga jarak dan berikan sinyal jika ada bahaya mendekat."
Sarah mengangguk dengan mantap, memeriksa anak panahnya sekali lagi. Ia siap untuk meluncurkan panah dengan tepat ke arah musuh-musuh yang tidak terlihat. Maria mendekat ke samping Ethan dan berkata dengan suara lembut, "Aku akan menjaga belakang kita. Siap untuk melumpuhkan musuh jika mereka berani menyerang dari arah tersebut."
Ethan kemudian berpaling ke arah Hanzel dan Gwyneth. "Kalian berdua adalah pasukan penyerang yang tak tertandingi. Hanzel, gunakan ilmu bela dirimu untuk menghindari dan menyerang musuh dengan cepat. Gwyneth, gunakan kelincahanmu dengan pedang untuk memotong musuh kita menjadi tak bernyawa.”
Hanzel dan Gwyneth saling berpandangan, menyampaikan rasa saling percaya dan kesiapan mereka. Terakhir, Ethan berbalik ke arah Gregor. "Gregor, kekuatanmu yang luar biasa akan menjadi penentu kemenangan kita. Jadilah penjaga yang tak tergoyahkan bagi tim ini."
Gregor mengangguk dengan mantap, menunjukkan bahwa ia siap untuk menggunakan kekuatannya untuk melindungi timnya. Dalam kesunyian hutan, mereka semua mengambil nafas dalam-dalam, merasakan ketegangan dan keberanian yang mengisi udara.
Dengan persiapan yang matang dan semangat yang membara, tim petualang itu melangkah maju, melanjutkan perjalanan mereka menuju Kuil Cahaya yang tersembunyi di dalam hutan gelap.
Setelah perjalanan yang melelahkan, tim Ethan akhirnya tiba di perbatasan Kuil Cahaya. Mereka berhenti sejenak di balik semak-semak yang lebat untuk menyusun rencana serangan mendadak yang tak terduga oleh musuh. Ethan memerintahkan semua anggota tim untuk menggunakan teknik penyamaran yang mereka kuasai, memastikan bahwa mereka tidak terdeteksi sebelum menyerang.
Saat mereka merencanakan strategi, Ethan mengamati dengan cermat keadaan sekitar. Ia memperhatikan gerakan-gerakan penjaga yang berjaga di sekitar perbatasan, mencari celah untuk melancarkan serangan cepat yang efektif. Sarah melengkapi informasi dengan melacak posisi penjaga menggunakan keterampilannya dalam mengamati lingkungan.
Setelah merencanakan dengan hati-hati, tim Ethan meluncurkan serangan mereka. Dengan langkah yang ringan, mereka menyelinap ke dalam kegelapan, mendekati penjaga-penjaga yang berjaga. Dalam sekejap, Ethan muncul dari bayangan dan dengan lincahnya, pedangnya melayang melintasi udara, menghunus tepat di tenggorokan penjaga pertama yang tak menyadari kehadiran mereka. Tubuh penjaga itu rebah dengan sunyi, seolah-olah tak pernah ada.
Tak berselang lama, Sarah mengambil peran pentingnya. Dalam sekejap, panah-panahnya meluncur dengan tepat sasaran, menghunuskan ke jantung penjaga kedua dan ketiga yang berusaha memperingatkan kawan mereka. Mereka terkulai lemah, tak berdaya menghadapi serangan mendadak dari dalam kegelapan.
Maria, dengan ketajamannya menggunakan pisau-pisau mematikannya, muncul dari bayangan. Dalam gerakan yang terampil dan terkoordinasi, ia memotong penjaga-penjaga berikutnya dengan cepat dan efisien. Darah bercucuran dan tubuh-tubuh penjaga itu terkapar tanpa suara, tak bisa lagi mengirimkan bantuan atau peringatan kepada rekan-rekan mereka.
Sementara itu, David melangkah maju dengan tombaknya. Ia menyerang dengan kekuatan yang mengagumkan, mendorong penjaga-penjaga lainnya dengan gencar dan mematahkan pertahanan mereka. Tombaknya menusuk dengan ganas, mengirimkan rasa gentar kepada musuh-musuh mereka yang tersisa.
Hanzel, dengan keahlian bela dirinya yang tak tertandingi, menggunakan gerakan-gerakan yang lincah untuk menghindari serangan balik musuh dan secara bertahap melumpuhkan mereka satu per satu. Serangan-serangannya datang begitu cepat dan presisi, membuat musuh-musuhnya terkejut dan tidak berdaya.
Gwyneth, dengan kegesitannya dalam menggunakan dua pedang, berputar-putar di antara penjaga-penjaga yang tersisa. Pedang-pedangnya berkelebat di udara, memotong dengan kecepatan yang menakjubkan. Tiap gerakannya membawa kematian bagi musuh-musuhnya, seolah dia menari di tengah-tengah medan perang.
Dan di tengah-tengah kekacauan, Gregor muncul sebagai kekuatan tak tergoyahkan. Ia menggunakan kekuatan titan-nya untuk menghancurkan apa pun yang menghalangi mereka. Pukulan-pukulan kerasnya mengirimkan musuh-musuh terbang jauh, menumbangkan mereka seolah mereka adalah anak-anak yang lemah.
Serangan mendadak yang dilakukan oleh tim Ethan berlangsung dengan cepat dan efisien. Penjaga-penjaga yang tadinya berdiri tegak kini terkulai tak berdaya, tak lagi menjadi ancaman bagi tim tersebut. Mereka berhasil mengambil kendali atas perbatasan Kuil Cahaya dengan kecepatan yang mengejutkan dan keahlian yang luar biasa.
Tim Ethan melihat satu sama lain, melihat kerjasama mereka berhasil dengan sempurna. Namun, ketika mereka memasuki Kuil Cahaya dengan hati-hati, mereka menyadari bahwa waktu benar-benar berjalan melawan mereka. Suara gemuruh ritual yang mendekati mulai terdengar dari suatu tempat di dalam Kuil Cahaya. Bulan purnama semakin dekat, dan Dart siap untuk mengambil Moon Stone dari tubuh Isabella.