The Abyssal Dungeon

The Abyssal Dungeon
Chapter 18



Ethan dan timnya berdiri di depan pintu gerbang masuk istana penyihir jahat. Mereka telah mengalahkan penjaga pintu gerbang sehingga berhasil sampai ke pintu gerbang masuk istana.


Ethan dengan pedangnya, menatap ke dalam pintu gerbang. "Ayo, kita masuk dan ambil kembali Roh Naga yang telah dicuri," kata Ethan. Kelompok itu mengangguk dan memasuki gerbang.


Mereka memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan jebakan. Mereka harus berhati-hati karena jebakan bisa meledak kapan saja. Sarah, seorang pahlawan yang ahli dalam memanah, mendekati dinding dan melihat ada beberapa jebakan yang terpasang. "Kalian berdua," kata Sarah kepada Maria dan Alex, "Kalian akan mengambil jebakan-jebakan itu. Sementara itu, Ethan, Hanzel, dan saya akan melindungi kalian dari serangan musuh."


Maria dan Alex melangkah ke dinding dan mulai melepas jebakan-jebakan yang ada di sana. Namun, tiba-tiba dari sudut ruangan muncul seekor monster raksasa dengan kulit yang keras dan tajam.


Gwyneth, pahlawan yang terkenal dengan dua pedangnya, mengambil posisi depan. "Aku akan menangani monster ini. Kalian berdua, cepat selesaikan pekerjaan kalian," kata Gwyneth. Ethan, Hanzel, dan Sarah melindungi Maria dan Alex dari serangan musuh.


Gwyneth menggenggam pedangnya dengan erat, berdiri tegak dan siap untuk menyerang monster itu. Dia mengamati gerakan monster itu dengan cermat, mencari celah untuk menyerang. Ketika dia melihat kesempatan yang tepat, Gwyneth melompat maju dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke arah tubuh monster itu.


Namun, serangan pedangnya tidak berhasil menembus kulit monster yang sangat kuat. Gwyneth menyadari bahwa dia harus mencari cara lain untuk mengalahkan monster itu. Dia berpikir cepat dan mulai mengubah strateginya.


Gwyneth mulai menyerang monster itu dengan cepat dan terus menerus, menggunakan gerakan yang lincah dan sulit diprediksi. Dia bergerak maju dan mundur, menyerang monster itu dari berbagai sudut dan menghindari serangan monster itu. Dengan menggunakan strategi ini, Gwyneth berhasil membuat monster itu kebingungan dan tidak mampu mengelak dari serangannya.


Monster itu mengamuk dan menyerang Gwyneth dengan kuat. Namun, Gwyneth berhasil menghindari serangan itu dan menyerang monster itu dari sisi yang lemah. Dengan satu serangan pedang, monster itu terbunuh dan jatuh ke tanah.


Maria dan Alex selesai melepas jebakan-jebakan dan bergabung dengan kelompok itu. Mereka berjalan ke arah pintu yang terbuka lebar dan memasuki ruangan besar yang dipenuhi dengan pengikut penyihir jahat.


"Kita harus berhati-hati," kata Ethan kepada kelompok itu, "Mereka semua akan menyerang kita." Mereka berjalan maju dan menyerang musuh mereka dengan senjata yang mereka bawa.


Sarah, yang berada di kejauhan, mulai menembakkan panahnya dengan akurasi yang tinggi ke arah musuh. Sementara itu, Maria dan Alex, yang berada di dekat musuh, menyerang dengan senjata mereka. Maria memegang pisau tajam dan memotong musuh dengan gerakan cepat dan akurat. Alex menggunakan tombaknya untuk menusuk musuh dengan kekuatan yang luar biasa.


Di sisi lain, Hanzel, yang merupakan ahli bela diri, bergerak dengan gesit dan lincah, melompat dan menghindari serangan musuh dengan mudah. Dia kemudian menggunakan teknik bela dirinya untuk melumpuhkan musuh dengan cepat. Di lain waktu, Gwyneth terus menyerang musuh dengan dua pedangnya yang diputar dengan lincah. Dia menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa, membuat musuh tak berdaya.


Namun, musuh yang mereka hadapi semakin kuat dan taktik yang mereka gunakan tidak lagi efektif. Merka menghadapi monster berkepala banyak yang memiliki lengan panjang dan bisa menyerang dari kejauhan. Sarah yang biasa memanah menjadi tidak efektif dalam pertarungan ini karena jangkauan panahnya tidak cukup untuk mencapai monster tersebut. Maria dan Alex mencoba untuk mendekati monster, tetapi serangan mereka tidak terlalu efektif karena jangkauannya terlalu pendek. Hanzel mencoba untuk mendekati monster dengan teknik bela dirinya, tetapi juga sulit karena monster tersebut memiliki lengan yang sangat panjang.


Di saat itu juga mereka menghadapi monster berbentuk laba-laba, situasinya menjadi lebih sulit lagi. Monster tersebut memiliki jaring-jaring yang kuat dan bisa mengikat mereka dengan mudah. Sarah mencoba untuk memanah dari kejauhan, tetapi sulit karena jaring-jaring tersebut menghalangi pandangannya. Maria dan Alex mencoba untuk memotong jaring-jaring tersebut, tetapi mereka tidak cukup kuat untuk melakukannya.


Hanzel mencoba untuk menghindari jaring-jaring tersebut dengan teknik bela dirinya yang lincah, tetapi tetap saja sulit untuk menghindari jaring-jaring yang menyebar luas. Gwyneth, yang terus menyerang dengan pedangnya, merasa kesulitan karena ia tidak bisa bergerak dengan leluasa karena jaring-jaring tersebut.


Ethan berdiri di depan kelompok itu dan mengayunkan pedangnya dengan cepat. "Jangan berhenti menyerang!" serunya. "Kita bisa mengalahkan mereka!"


Mereka mencoba untuk menarik perhatian monster berkepala banyak agar memfokuskan serangannya pada mereka, sementara Sarah memanfaatkan kesempatan ini untuk menembakkan panah ke arah monster tersebut. Maria dan Alex bekerja sama untuk memotong jaring-jaring monster laba-laba, sementara Hanzel dan Gwyneth mencoba untuk mengganggu monster tersebut dengan serangan-serangan mereka.


Akhirnya, strategi mereka berhasil, dan mereka berhasil mengalahkan kedua monster tersebut. Setelah berhasil, kelompok pahlawan melanjutkan perjalanan mereka.


Kelompok pahlawan itu berjalan dengan hati-hati melalui lorong-lorong gelap istana penyihir jahat. Mereka tahu bahwa jebakan-jebakan berbahaya dan monster-monster yang menakutkan akan menghadang mereka di setiap sudut.


"Mari kita lebih waspada," kata Ethan dengan serius. "Ini akan menjadi pertempuran yang sulit."


Sarah mengangguk dan menyiapkan busurnya. Maria memeriksa pisau-pisau yang ia bawa dan Alex memegang tombaknya dengan erat. Hanzel berkonsentrasi pada ilmu bela dirinya dan Gwyneth mengangkat kedua pedangnya.


Saat mereka berjalan melewati lorong gelap, tiba-tiba monster berbentuk laba-laba yang besar muncul di hadapan mereka. Monster itu melompat ke arah kelompok itu dan mencoba menggulung mereka dengan jaringnya yang kuat.


Sarah menembakkan panah ke arah monster itu, tetapi panahnya tidak mampu menembus kulit monster. Maria mencoba menyerang monster itu dengan pisau, tetapi monster itu menghindar dengan cepat. Ethan maju dan mengayunkan pedangnya ke arah monster itu, tetapi pedangnya tidak mampu menembus kulit monster itu.


Monster itu menyerang kelompok itu dengan kecepatan yang luar biasa. Hanzel menghindar dan menyerang monster itu dengan ilmu bela dirinya, tetapi monster itu mampu menghindar dengan mudah. Gwyneth maju dan menyerang monster itu dengan kedua pedangnya, tetapi pedangnya terpental dari kulit monster itu.


Monster itu mengeluarkan suara yang menakutkan dan terus menyerang kelompok itu. Kelompok itu terdesak dan terus mundur. Mereka tahu bahwa mereka harus berjuang dengan lebih keras jika ingin mengalahkan monster itu.


"Mari kita bekerja sama!" seru Ethan. "Kita bisa mengalahkannya!"


Kelompok itu saling melindungi satu sama lain dan berusaha memanfaatkan keahlian masing-masing untuk mengalahkan monster itu. Sarah menembakkan panah ke arah monster itu sementara Alex menyerang dengan tombaknya. Maria melompat ke arah monster itu dan menyerang dengan pisau-pisau yang ia bawa.


Ethan berdiri di depan kelompok itu dan mengayunkan pedangnya dengan cepat. "Jangan berhenti menyerang!" serunya. "Kita bisa mengalahkan monster ini!"


Hanzel bergabung dan menyerang monster itu dengan ilmu bela dirinya. Gwyneth maju dan menyerang monster itu dengan kedua pedangnya. Monster itu terus menyerang, tetapi kelompok itu tidak menyerah.


Setelah pertempuran yang panjang dan sengit, kelompok itu akhirnya berhasil mengalahkan monster itu. Mereka bernapas lega dan menatap satu sama lain dengan penuh kebanggaan.


"Kita berhasil," kata Maria dengan senyum lebar.


"Kita memang berhasil," kata Sarah. "Tetapi kita harus tetap waspada. Masih banyak bahaya di sini."


Tiba-tiba, kelompok itu melihat sekelompok pengikut penyihir jahat yang menghalangi jalan mereka. Pengikut itu membawa senjata dan siap untuk melawan kelompok pahlawan.


"Pertempuran lagi," kata Alex dengan nafas berat.


"Kita harus cepat mengalahkan mereka," kata Hanzel.


"Mari kita berjuang!" seru Gwyneth.


Kelompok itu bergerak maju dan menyerang pengikut-pengikut itu dengan serangan gabungan. Ethan menggunakan pedangnya memotong senjata dan perlengkapan pengikut penyihir jahat dengan mudah. Maria menyerang dengan pisau-pisau kecil dan tajam, menghindari serangan balik dari pengikut penyihir jahat.


Sarah menembakkan panah-panahnya ke arah pengikut-pengikut itu, tetapi mereka mampu menghindar. Alex menyerang dengan tombaknya, membuat pengikut penyihir jahat mundur dan berusaha menghindari serangannya. Hanzel menggunakan ilmu bela dirinya untuk menghindari serangan musuh dan menyerang balik dengan serangan yang kuat.


Gwyneth maju dengan kedua pedangnya, menyerang dan memotong senjata musuh dengan mudah. Pertempuran terus berlanjut, dan kelompok itu terus berjuang. Mereka bertahan dan saling melindungi satu sama lain dengan keahlian dan keberanian yang luar biasa.


Pertempuran itu berlangsung lama, tetapi akhirnya kelompok itu berhasil mengalahkan pengikut-pengikut penyihir jahat itu. Mereka melihat bahwa ada sebuah pintu besar yang terbuka di depan mereka, dan mereka tahu bahwa Roh Naga pasti berada di dalam ruangan itu.


"Mari kita masuk," kata Ethan dengan serius. "Kita harus mengambil kembali Roh Naga sebelum terlambat."


Kelompok itu masuk ke dalam pintu besar itu dan menemukan diri mereka di ruangan yang luas. Di tengah ruangan itu, mereka melihat tiga batu bercahaya besar yang berada di atas tiga altar yang terpisah, masing-masing memiliki gambar naga yang berbeda di atasnya.


"Kita harus memutuskan energi sihir yang memancarkan dari altar untuk membebaskan roh naga dalam batu," kata Hanzel.


"Mari kita bekerja sama dan bekerja cepat," kata Gwyneth.


Kelompok itu bekerja sama dan mulai memeriksa altar. Mereka menemukan sejumlah simbol dan gambar yang terukir di atas permukaan altar, yang menandakan bahwa altar itu adalah bagian dari sebuah upacara sihir yang kuat.


"Mungkin kita bisa mencoba memutuskan energi sihir ini dengan menggunakan ilmu bela diri dan senjata kita," ujar Sarah.


Ethan, Maria, dan Alex setuju dengan gagasan itu, dan mereka mulai menyerang altar dengan keras, menggunakan berbagai macam senjata dan teknik bela diri yang mereka miliki.


Saat mereka menyerang altar, batu roh naga di atasnya mulai bergetar, dan semakin terang. Namun, serangan mereka tidak cukup kuat untuk memutuskan energi sihir yang memancar dari altar itu.


"Hanzel, apakah kamu bisa menemukan jalan untuk memutuskan energi sihir ini?" Tanya Ethan.


Hanzel mengamati altar dengan hati-hati dan mencoba memahami simbol-simbol yang terukir di atasnya. Setelah beberapa saat, dia tersenyum dan berkata, "Aku tahu cara untuk memutuskan energi sihir ini. Kita bertiga aku, Alex dan Maria harus berdiri di masing-masing altar.”


Alex dan Maria menganggukkan kepala mereka. Alex, Maria dan Hanzel berdiri pada masing-masing altar, mereka menyentuh simbol-simbol pada masing-masing altar.


Ketika mereka menyentuhnya, semua simbol-simbol itu menyala, dan energi sihir yang memancar dari altar itu berhenti.


Saat energi sihir itu terputus, batu roh naga di atas altar mulai terpisah dari altar dan bercahaya lebih terang.


"Kita berhasil!" ucap Maria, dengan suara gembira.


Kelompok itu melihat bahwa roh naga dalam batu mulai muncul, dan keluar dari batu dengan perlahan-lahan. Roh naga itu memiliki warna yang sama dengan gambar naga yang terukir di atas altar.


Setelah beberapa saat, ketiga batu roh naga telah bebas dari energi sihir yang mengikatnya. Tiga roh naga itu kembali kepada miliknya masing-masing.


"Sekarang ayo kita keluar dari sini," kata Alex.


Kelompok itu bersiap untuk meninggalkan istana penyihir jahat. Tetapi saat mereka berjalan keluar dari ruangan itu, penyihir jahat itu muncul di hadapan mereka.


"Apa yang kalian pikirkan, mengambil Roh Naga itu dariku?" seru penyihir jahat itu.


Penyihir jahat itu tersenyum licik, "Kalian pikir kalian bisa membawanya pergi dengan mudah? Tidak jika aku bisa menghentikan kalian!" tiba-tiba, dia mengangkat tangannya dan melepaskan serangan sihirnya.


Kelompok pahlawan itu langsung bergerak cepat, menyebar ke berbagai arah untuk menghindari serangan sihir penyihir jahat. Ethan menyerang dengan pedangnya, tetapi serangannya dihindari dengan mudah oleh penyihir jahat itu.


***


Jangan lupa komen, like dan votenya semua!!! Terima kasih. ❤️❤️❤️