
"Dart?" tanya Ethan, sambil menatap ayahnya yang telah lama hilang.
"Iya, itu aku," jawab Dart, sambil tersenyum sinis. "Aku datang untuk mengambil batu bercahaya itu."
"Ethan, kau harus menghentikan ayahmu," kata David, sambil menatap Ethan dengan tatapan tajam.
Ethan terdiam, sambil menatap ayahnya yang telah lama hilang. Dia tahu bahwa ayahnya adalah musuh mereka sekarang, tetapi dia juga merasa sulit untuk melawan ayahnya sendiri.
Namun, Dart tidak memberi waktu bagi Ethan untuk berpikir terlalu lama. Dia langsung menyerang Ethan dengan kecepatan yang luar biasa. Ethan segera mengeluarkan pedangnya dan berusaha bertahan dari serangan ayahnya.
Ethan menangkis serangan ayahnya dengan pedangnya. Keduanya saling menghujamkan pandangan, dan meskipun rasa sedih dan kebingungan masih menyelimuti dirinya, Ethan tetap fokus pada pertarungan yang dihadapinya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mulai menyerang ayahnya dengan keahliannya yang tak kalah hebat.
Dart membalas serangan dengan keluarnya api dari telapak tangannya. Ethan bergeser ke samping untuk menghindari serangan api tersebut, sementara Dart terus menyerang dengan api yang lebih kuat dan lebih cepat. Ethan merasa tertekan oleh serangan ayahnya yang mematikan, tetapi dia tidak menyerah.
Sementara itu, tim Ethan masih berjuang dengan gigih melawan pasukan monster milik Dart. Pasukan monster itu sangatlah ganas dan menakutkan, dengan bentuk tubuh yang aneh dan kekuatan fisik yang luar biasa. Mereka memiliki kulit yang keras dan tajam seperti duri, dan gigi yang tajam seperti pisau. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan untuk bergerak dengan cepat dan mengeluarkan serangan yang mematikan.
Teriakan dan suara pedang yang bertabrakan terdengar di udara saat mereka saling menyerang.
David melompat maju dengan tombaknya dan menebaskan tombaknya ke arah monster musuh yang berdiri di depannya. Monster itu melompat ke samping dengan cepat untuk menghindari serangan David, tetapi David berputar dengan kecepatan yang luar biasa dan menancapkan tombaknya di perut monster itu.
Sarah berlari ke sekitar medan perang dan mencari posisi yang tepat. Dia menaikkan panahnya dan membidik ke arah pasukan monstet Dart yang terlihat di kejauhan. Setelah mengambil nafas dalam-dalam, dia melepaskan panahnya. Panah itu menembus angin dan mengenai sasaran dengan akurasi yang tinggi.
Maria menghindari serangan pasukan monster dengan lincahnya. Dia bergerak dengan cepat dari sisi ke sisi dan menghindari setiap serangan monster. Ketika ada kesempatan, dia melompat maju dan menebaskan pisaunya ke arah pasukan musuh. Monster itu tidak bisa menghindar dan jatuh ke tanah dengan suara keras.
Hanzel maju dengan pukulan yang mematikan. Setiap kali dia menebaskan tinjunya, pasukan musuh terlempar ke udara. Dia menyerang dengan pukulan bertubi-tubi, membuat musuh kewalahan dan kehilangan keseimbangan.
Gwyneth menyerang dengan dua pedangnya yang berkilauan. Dia mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang menakutkan, dan setiap kali pedangnya bertabrakan dengan senjata milik musuh, cahaya yang terang memancar. Monster-monster itu terpaksa menghindari serangannya yang mematikan.
Gregor terus menjadi semakin kuat dengan kekuatan titannya yang besar. Dia melangkah maju dengan penuh percaya diri, menginjak-injak tanah dengan langkah-langkah yang mengguncangkan bumi. Dia menyerang dengan kekuatan penuh, dan pasukan mosnter terpental ke udara ketika terkena serangan Gregor.
Tim Ethan terus berjuang dengan gigih melawan pasukan Dart yang kuat. Teriakan mereka bergema di medan perang, dan suara pedang dan tinju yang bertabrakan terdengar di udara. Dalam pertempuran yang sengit ini, mereka berusaha keras untuk mempertahankan diri dari serangan pasukan Dart yang ganas.
Sementara itu, pertarungan antara Ethan dan ayahnya semakin sengit. Keduanya saling bertukar serangan, namun tidak ada yang berhasil mengalahkan lawannya. Dart terus mengeluarkan serangan api, dan Ethan terus menghindar dan menyerang dengan pedangnya. Keduanya sama-sama tangguh, dan pertarungan mereka terus berlanjut.
"Mengapa kau melakukan ini, ayah?" tanya Ethan, sambil menatap ayahnya dengan tajam.
"Kau tahu mengapa," jawab Dart, sambil tersenyum sinis. “Batu bercahaya itu akan memberiku kekuatan yang dibutuhkan untuk menguasai dunia ini. Aku akan menjadi mahluk yang paling kuat dan dihormati di seluruh dunia."
Ethan merasa sedih dan kecewa. Dia tidak pernah berpikir bahwa ayahnya akan menjadi orang yang begitu ambisius dan rakus kekuasaan. Namun, dia tidak bisa membiarkan ayahnya merampas batu bercahaya tersebut.
Dart mengabaikan perkataan Ethan dan mencoba merebut batu bercahaya lagi.
"Sudah cukup, ayah," kata Ethan, sambil mengangkat pedangnya ke arah Dart. "Kau tidak bisa terus melakukan ini. Biarkan kami membawa batu bercahaya itu ke tempat yang aman."
Ethan menggenggam erat pedangnya dan menatap ayahnya dengan hati-hati. Dia tahu betul bahwa pertarungan ini tidak bisa dihindari.
"Maafkan aku, ayah," kata Ethan dengan suara sedih. "Aku harus menyimpan batu ini untuk menyelamatkan dunia."
Dart menghentakkan kakinya ke tanah, menimbulkan api yang membesar di sekitar dirinya. "Ethan. Kau akan membayar dengan darahmu."
Pertarungan dimulai dengan cepat. Ethan melompat maju dengan pedangnya dan menyerang Dart dengan ganas. Namun, Dart mampu menghindari setiap serangan dengan mudah dan menghindar dari serangan pedang Ethan. Dia kemudian mengangkat tangannya ke atas, melepaskan gelombang api yang membara ke arah Ethan.
Ethan dengan cepat menghindari serangan itu dan membalas dengan serangan pedang yang lebih kuat lagi. Namun, Dart masih terus menghindari setiap serangan dan melepaskan api yang lebih dahsyat lagi.
"Percuma saja, anakku," kata Dart dengan dingin. "Kekuatanku lebih besar dari pedangmu."
Ethan merasa semakin tertekan. Dia menyadari bahwa dia tidak akan bisa mengalahkan ayahnya hanya dengan pedangnya. Dia harus mencari cara lain.
Dia mengumpulkan kekuatan dalam dirinya dan melepaskan semburan energi yang memukul Dart dengan hebat. Dart terhuyung mundur beberapa langkah, tetapi cepat memulihkan diri dan melepaskan api yang membara lagi.
"Mungkin kau berpikir kau kuat, Ethan," kata Dart, "tetapi kau belum melihat kekuatan sebenarnya dari api."
Dia kemudian mengumpulkan kekuatan dalam dirinya dan melepaskan api yang melingkupi seluruh hutan. Ethan terjebak di dalamnya dan merasa kekuatannya mulai memudar.
Tetapi dia tidak menyerah. Dia mengumpulkan kekuatan yang tersisa dan melepaskan semburan energi yang memukul Dart dengan hebat. Dart terjatuh ke tanah, terengah-engah, tetapi kemudian berdiri kembali dengan kekuatan yang lebih besar lagi.
"Kau benar-benar berbakat, anakku," kata Dart. "Sayangnya, kau tidak cukup kuat untuk mengalahkanku."
Ethan teringat kembali pada kekuatan roh naga apinya. Dengan keberanian yang tersisa, dia mengumpulkan kekuatan dalam dirinya dan memanggil roh naga apinya.
"Demi keadilan dan kebenaran, aku memanggil roh naga apiku," kata Ethan dengan tegas. "Bantulah aku mengalahkan ayahku!"
Dart terkejut melihat roh naga apinya muncul di hadapannya, tetapi dia tidak terpengaruh. Dia mengeluarkan api yang lebih besar lagi dan melepaskan gelombang api yang membara ke arah Ethan dan roh naga apinya.
Namun, Ethan dan roh naga apinya berhasil menghindari serangan tersebut dan menyerang Dart dengan kekuatan yang lebih dahsyat lagi. Serangan mereka berhasil mengenai target, membuat Dart terpental ke belakang.