The Abyssal Dungeon

The Abyssal Dungeon
Chapter 44



“Aku punya ide! Aku akan menyerang dari belakang sementara kamu mengalihkan perhatiannya!" Ucap Gwyneth.


Gwyneth dengan cepat bergerak ke belakang monster itu dan mulai menebas pedangnya. Meskipun serangannya terarah dengan sempurna, monster itu hanya merasa kesakitan sedikit. Gwyneth berteriak pada Ethan. “Ethan, kita harus bekerja sama! Serang dari segala arah sekaligus!"


Ethan mengangguk dan berlari mendekati monster itu dengan kecepatan penuh. Dia menebaskan pedangnya dengan kekuatan yang luar biasa, mengarahkan serangan ke kepala monster itu. Monster itu berusaha menghindar, tetapi Ethan dan Gwyneth terus mengejarnya.


“Gwyneth, serang sekarang!" Seru Ethan.


Ethan dan Gwyneth bergerak dengan presisi yang sempurna. Mereka saling melengkapi, menutupi kelemahan satu sama lain. Ethan menggunakan pedangnya untuk menyerang monster dari dekat, memotong-motong kulit bersisiknya dengan gerakan yang kuat dan tajam. Setiap hantaman pedangnya melontarkan percikan darah hijau dari tubuh monster itu.


Sementara itu, Gwyneth dengan lincah melancarkan serangan-serangan berulang dengan kedua pedangnya. Gerakannya yang cepat dan akurat menghasilkan luka-luka di bagian yang vital pada tubuh monster tersebut. Serangan-serangannya yang berulang memaksa monster itu mengeluarkan jeritan-jeritan kesakitan yang mengerikan.


Namun, monster itu tidak menyerah begitu saja. Dengan tenaga terakhir yang dimiliki, ia melontarkan serangan balasan. Cakar-cakarnya yang tajam melayang ke arah Ethan dan Gwyneth, memaksa mereka melompat dan menghindar dengan cepat. Setiap kali cakar monster itu meleset, serangan balasan mereka semakin intens.


Pertempuran di atas kapal menjadi semakin sengit. Darah mengotori geladak, dan desingan pedang dan jeritan monster menyatu dengan deru ombak dan angin laut yang membahana. Meskipun luka-luka menghiasi tubuh mereka, Ethan dan Gwyneth tidak menunjukkan tanda kelelahan atau ketakutan. Mereka terus melawan dengan tekad yang kuat, menempa serangan demi serangan.


Akhirnya, dengan serangan pamungkas yang terkoordinasi, Ethan dan Gwyneth menggabungkan kekuatan mereka dalam satu serangan yang menghancurkan. Pedang Ethan menusuk tepat ke jantung monster itu, sementara Gwyneth membelah kepalanya dengan kecepatan kilat. Monster itu jatuh ke laut dengan erangan terakhirnya, menyebabkan gelombang besar yang bergelora di sekitarnya.


Ethan dan Gwyneth berdiri di tengah geladak yang kacau, bernapas dalam-dalam sambil memandangi hasil kemenangan mereka. Wajah mereka tercermin kelelahan dan kepuasan.


“Kita melakukannya, Ethan! Kita mengalahkannya!" Ucap Gwyneth senang.


“Kita saling bekerja sama, Gwyneth. Kekuatan kita bersatu, tidak ada yang bisa menghentikan kita." Ucap Ethan.


Mereka berpegangan tangan sejenak, merayakan kemenangan mereka.



Setelah beberapa hari perjalanan, kapal mereka melaju perlahan menuju gua raksasa yang terletak di sebelah barat Abyssal Dungeon. Tiba di dekat gua tersebut, mereka dapat melihatnya dengan jelas. Langit-langit gua itu membentang luas di atas, memberikan kesan kegelapan yang mengintimidasi. Terlihat seperti mulut raksasa yang terbuka, menganga menanti mangsanya.


Gua itu terbungkus dalam bayangan yang pekat, hampir seolah menyerap cahaya yang berani memasukinya. Sebuah hawa angker dan kejutan menakutkan menebar di udara. Terdengar bisikan-bisikan gelap yang bergema dari dalam gua, menciptakan suasana yang membuat bulu kuduk merinding.


Pada dinding-dinding gua yang kasar terdapat goresan-goresan besar, memberikan kesan bekas pertempuran yang hebat. Darah kering menodai batu-batu dan memancarkan aroma yang menusuk hidung. Ranting-ranting kerangka monster yang mati tergeletak di sekitar, memberikan bukti kekejaman yang ada di tempat ini.


Dalam kegelapan yang menyelimuti gua, sinar remang-remang memancar dari berbagai titik. Kilatan-kilatan cahaya ungu dan hijau bergantian, menciptakan bayangan mengerikan yang bergerak di setiap sudut. Suara-suara gemuruh dan desiran angin yang tidak terlihat menambahkan kesan aneh dan menakutkan.


Lantai gua terdiri dari batu-batu yang berserakan dan berlumut. Beberapa titik mengeluarkan asap hitam yang pekat, menandakan adanya energi jahat yang terperangkap dalam gua itu. Kekuatan magis yang kuat terasa mengalir di sekelilingnya, seakan memberi tahu para pengunjung betapa mengerikan tempat ini sebenarnya.


“Kita sudah sampai, Gwyneth. Inilah saatnya kita menemui naga api dan meminta bantuannya." Ucap Ethan.


Dengan hati-hati dan pedang mereka yang sudah siap, Ethan dan Gwyneth memasuki gua yang kelam. Cahaya remang-remang dari obor yang mereka bawa menjadi satu-satunya sumber penerangan di sekitar mereka. Langkah-langkah mereka menghasilkan suara lantai batu yang pecah dan bergemuruh, memotong keheningan mencekam.


Lorong-lorong gua itu berliku-liku dan penuh dengan tikungan tajam, menambahkan kebingungan dan kesulitan dalam navigasi mereka. Mereka berjalan pelan, selalu waspada terhadap kemungkinan serangan tiba-tiba dari monster yang mengintai.


Tiba-tiba, dari sudut yang gelap, segerombolan monster berserk muncul. Mereka adalah makhluk-makhluk yang menjijikkan, memiliki tubuh yang tertutup lendir hitam dan taring yang tajam. Mata mereka memancarkan sinar merah yang berkilat, menandakan kehausan mereka akan darah segar.


Ethan dan Gwyneth secara instan bergerak dalam serangkaian gerakan yang terkoordinasi. Mereka meluncur maju dengan pedang mereka yang berkilauan, memotong dan menusuk monster-monster itu dengan kecepatan yang luar biasa. Desingan pedang dan jeritan monster bersama-sama menciptakan medan pertempuran yang berisik.


Monster-monster itu balas menyerang dengan keganasan mereka sendiri. Mereka melompat-lompat dengan lincah, mencoba menggigit dan mencakar para pahlawan itu. Ethan dan Gwyneth bergantian menghindari serangan dengan gerakan yang cepat, mempertahankan keunggulan mereka dalam pertempuran.


“Jaga belakangmu, Gwyneth! Monster-monster ini cerdik, mereka mencoba menyerang dari sisi yang lemah." Ucap Ethan.


Gwyneth yang sedang bertarung pun berkata. “Siap, Ethan! Jangan khawatir, aku akan waspada!”


“Kita harus melawan dengan hati-hati dan cepat. Jangan biarkan mereka mendominasi kita." Ucap Ethan.


“Tepat sekali! Mari kita jaga jarak dan manfaatkan gerakan kita yang lincah untuk menghindari serangan mereka." Ucap Gwyneth.


Monster-monster ganas terus menyerang dengan serangkaian gerakan yang kejam. Ethan dan Gwyneth, tanpa mengenal lelah, meluncur maju dan mundur dengan lincah, menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh monster-monster tersebut. Pedang mereka bergerak dengan kecepatan kilat, menyisakan jejak cahaya di udara.


Ethan mengayunkan pedangnya dengan pukulan yang kuat, memotong tubuh monster dengan presisi yang mematikan. Setiap gerakan pedangnya menghasilkan suara terbelahnya daging dan tulang yang menggetarkan gua itu. Dia melompat tinggi ke udara, kemudian mendarat dengan pukulan telak yang membuat monster itu terguling tak berdaya.


Sementara itu, Gwyneth menggandakan kecepatan serangannya. Dia berputar-putar di sekitar monster-monster tersebut dengan keahlian yang memukau, menggunakan kedua pedangnya dengan kelincahan yang luar biasa. Gerakannya yang cepat dan akurat memotong dan menusuk monster-monster itu dari berbagai sudut. Darah monster memercik ke segala arah, menciptakan tarian yang mengerikan di sekitar mereka.


Monster-monster itu semakin kesal dan mengeluarkan erangan marah. Mereka merangsek maju dengan lebih banyak lagi, berusaha mengatasi kekuatan dan kecepatan para pahlawan itu. Mereka mencoba melumpuhkan Ethan dan Gwyneth dengan serangan-serangan yang liar dan ganas.


Namun, para pahlawan tersebut tidak menyerah. Dengan refleks yang tajam, mereka menghindari setiap serangan yang datang, seolah-olah membaca pikiran monster-monster itu. Mereka bergerak dengan keahlian dan koordinasi yang tak tergoyahkan, saling melindungi dan mengisi kekosongan satu sama lain.


Pertempuran itu semakin memanas saat kekuatan Ethan dan Gwyneth semakin berkobar. Mereka melayang-layang di udara, melancarkan serangan dari segala arah, dan memotong monster-monster itu menjadi potongan-potongan kecil. Darah monster melimpah dan menutupi permukaan gua, menciptakan pemandangan yang mengerikan.


Setelah pertempuran yang panjang dan melelahkan, monster-monster itu akhirnya tumbang satu per satu. Gua itu dipenuhi dengan bangkai monster yang mati, menyisakan aroma busuk yang mencekam. Ethan dan Gwyneth terengah-engah, terlihat lelah tetapi puas dengan kemenangan mereka.