The Abyssal Dungeon

The Abyssal Dungeon
Chapter 13



Ethan dan timnya segera keluar dari laboratorium penyihir jahat. Mereka semua berlari memasuki hutan gelap.


Namun, tiba-tiba mereka dihadang oleh sekelompok monster yang dipimpin oleh pengikut penyihir jahat. Para monster itu terlihat sangat menakutkan, dengan kulit hitam yang bersisik, taring tajam, dan mata merah menyala yang menunjukkan kemarahan mereka.


"Tidak mudah melintasi hutan ini,” kata Ethan dengan nada serius, sambil menghunus pedangnya.


"Mari kita hancurkan mereka!" seru Sarah, sambil menarik busurnya.


Para monster itu segera menyerang kelompok pahlawan itu. Ethan menyerang dengan cepat, memotong monster dengan pedangnya. Sarah melepaskan panahnya yang tajam, sementara Maria melompat dan memotong monster di depannya dengan pisau yang ia pegang. Alex mengayunkan tombaknya dengan ganas, sementara Hanzel bergerak dengan lincah, menghindari serangan monster dan memberikan pukulan dengan kelincahannya.


Gwyneth mengayunkan kedua pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa. Dia menari di antara para monster, memotong mereka dengan cepat dan efektif. Monster-monster itu tidak memiliki kesempatan melawan kecepatan dan keahlian Gwyneth.


Namun, serangan para monster itu terus berlanjut. Kelompok pahlawan itu terpaksa mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk bertahan hidup. Mereka berjuang mati-matian, memotong dan menyerang monster dengan berbagai cara.


Tetapi serangan para monster itu semakin hebat. Para monster itu terus menerus menyerang, dan para pahlawan itu mulai merasa lelah, mereka sudah banyak menguras energi mereka untuk hari ini, mereka bahkan tidak dapat lagi menggunakan kekuatan roh naga mereka karena kehabisan energi. Namun, mereka tetap bertahan, tidak ingin menyerah pada penyihir jahat.


"Kita harus bergerak lebih cepat!" seru Hanzel, sambil melompat dan memberikan pukulan cepat ke monster yang ada di hadapannya.


"Iya, aku setuju!" ucap Maria, sambil melepaskan pisau tersembunyinya dan memotong monster dengan kecepatan tinggi.


"Mari kita lakukan ini!" teriak Gwyneth, sambil mengayunkan kedua pedangnya dengan sangat cepat


Kelompok pahlawan itu semakin bersemangat setelah mendengar seruan dari teman-temannya. Mereka kembali bergerak maju dengan semangat yang tinggi, berusaha menyerang para monster dengan lebih cepat dan efektif. Pertempuran menjadi semakin sengit, dengan suara pedang, tombak, dan panah yang terus berdentingan.


Ethan terus mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap kali ia memotong monster, pedangnya mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan. Sarah tetap menjaga jarak dan melepaskan panah dengan akurasi yang tinggi, mengincar titik lemah para monster. Maria terus mengelabui para monster dengan gerakan yang licin, sementara Alex mengayunkan tombaknya dengan tenaga penuh.


Hanzel memperlihatkan keahlian bela dirinya yang tinggi dengan gerakan yang cepat dan akurat. Dia menghindari serangan monster dengan mudah, sambil memberikan pukulan yang tepat pada saat yang tepat. Gwyneth terus mengayunkan kedua pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa. Dia memotong dan melukai para monster dengan gerakan yang indah dan efektif.


Pertempuran berlangsung selama beberapa jam, dan kelompok pahlawan itu mulai merasa lelah. Mereka terus berjuang mati-matian, tidak ingin menyerah pada para monster yang menyerang mereka. Namun, kelompok monster itu tidak berkurang jumlahnya, dan serangan mereka semakin kuat.


"Tidak bisa terus begini!" seru Sarah, sambil melepaskan panahnya dengan cepat.


"Aku setuju, kita harus melarikan diri dari sini!" ucap Ethan, sambil memotong monster dengan pedangnya.


"Tapi kita tidak bisa melepaskan diri kita dari serangan mereka!” seru Maria, sambil menghindari serangan monster dengan licin.


"Mari kita cari cara untuk mengalahkan mereka semua sekaligus!" ucap Alex, sambil mengayunkan tombaknya dengan tenaga penuh.


"Tidak bisa, mereka terlalu banyak!" seru Hanzel, sambil memberikan pukulan cepat ke monster yang ada di hadapannya.


"Mungkin ada cara lain untuk mengalahkan mereka semua sekaligus," ucap Gwyneth, sambil mengayunkan kedua pedangnya dengan sangat cepat.


"Maksudmu?" tanya Sarah, sambil mengincar para monster yang masih menyerang mereka.


"Aku memiliki ide, tetapi kita harus bekerja sama untuk melakukannya," jawab Gwyneth, sambil memotong monster yang ada di depannya dengan sangat efektif.


Lalu, Gwyneth menjelaskan ide yang ia punya pada kelompok pahlawan itu. Semua anggota kelompok tersebut merasa bahwa ide Gwyneth sangat brilian, dan mereka setuju untuk melakukannya.


Kelompok pahlawan itu bergerak dengan cepat dan mulai melakukan strategi yang telah mereka sepakati. Mereka bergerak maju dengan kecepatan yang luar biasa, sambil menempatkan diri mereka di posisi yang tepat untuk mengeksekusi strategi mereka. Para monster itu menyadari bahwa kelompok pahlawan itu bergerak dengan cara yang aneh, tetapi mereka tidak dapat menghentikan mereka.


Hanzel berdiri di tengah-tengah kelompok monster itu, menunggu serangan mereka. Ketika para monster itu mendekat, Hanzel melakukan gerakan yang cepat dan menghindari serangan mereka dengan mudah. Ketika para monster itu terjebak dalam serangkaian gerakan yang rumit, Hanzel melakukan tendangan yang tepat dan melepaskan gelombang energi yang mematikan.


Sementara itu, Ethan, Sarah, Maria, dan Alex menyerang para monster itu dari samping. Ethan menggunakan pedangnya untuk memotong monster yang mendekat, sementara Sarah melepaskan panah dengan akurasi yang tinggi, dan Maria mengelabui para monster dengan gerakan yang licin. Alex memukul para monster dengan tombaknya, menghancurkan mereka satu per satu.


Gwyneth, di sisi lain, bergerak dengan cepat dan lincah. Dia mengayunkan kedua pedangnya dengan kecepatan yang luar biasa, memotong para monster dengan gerakan yang indah dan efektif. Dalam waktu singkat, para monster itu berhasil dikalahkan.


"Kita berhasil!" seru Hanzel, sambil menghela napas panjang.


"Sekarang, mari kita lanjutkan perjalanan menuju istana penyihir jahat," ucap Ethan, sambil menatap kelompok pahlawan itu dengan semangat yang tinggi.


Kelompok pahlawan itu melanjutkan perjalanan mereka dengan semangat yang tinggi, melewati hutan yang sunyi dan padang rumput yang luas. Mereka akhirnya tiba di pintu gerbang istana penyihir jahat, di mana mereka disambut oleh para pengawal yang sangat kuat dan tangguh.


Para pengawal itu tampaknya telah mengetahui kedatangan mereka dan siap untuk menghadapi mereka dengan senjata mereka yang mematikan.


"Mereka terlalu kuat untuk kita," ucap Alex, sambil memandang para pengawal dengan ketakutan.


"Jangan menyerah begitu saja," seru Ethan, sambil mengangkat pedangnya. "Kita harus mencoba."


Kelompok pahlawan itu menyerang para pengawal itu dengan cepat dan efektif. Ethan menggunakan pedangnya untuk memotong para pengawal itu, sementara Sarah melepaskan panah dengan akurasi yang tinggi. Maria mengelabui para pengawal itu dengan gerakan yang licin, dan Alex memukul mereka dengan tombaknya.


Namun, para pengawal itu ternyata lebih kuat dari yang mereka bayangkan. Hanzel mencoba menghindari serangan para pengawal itu, tetapi salah satu dari mereka berhasil mengejarnya dan mengenainya dengan pedangnya. Hanzel jatuh ke tanah, terluka parah.


"Kita tidak bisa melawan mereka," ucap Gwyneth, sambil melihat sekeliling. "Kita harus mencari tempat berlindung."


"Ada sebuah gua tersembunyi di dekat sini," ucap Maria, sambil menunjuk ke arah sebuah bukit di kejauhan. "Kita bisa bersembunyi di sana."


Kelompok pahlawan itu berlari menuju ke gua tersembunyi itu sambil dikejar oleh para pengawal yang terus mengejar mereka. Mereka berhasil masuk ke dalam gua itu, tetapi para pengawal itu masih mengejar mereka.


"Mereka terus mengejar kita," ucap Sarah, sambil mempersiapkan panahnya.


"Kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan," ucap Ethan, sambil menatap para pengawal dengan tekad yang kuat.


Kelompok pahlawan itu menyerang para pengawal itu dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Mereka bertempur dengan gigih dan tak kenal lelah. Namun, para pengawal itu tetap lebih kuat dari mereka.


Saat itu, Hanzel dan Alex terluka parah dan tidak dapat bertarung lagi. Mereka bersembunyi di sudut gua, mencoba untuk menyembuhkan luka mereka.


"Kita tidak bisa melawan mereka seperti ini, kita harus masuk lebih dalam ke gua ini u tuk menyembunyikan diri,” ucap Hanzel, sambil memegang luka di perutnya.


“Baik, ayo kita pergi sekarang!” Ucap Ethan.


***


Jangan lupa like, komen dan votenya teman-teman. Terima kasih banyak semua! ❤️❤️❤️