
Ethan dan timnya berdiri di tepi hutan yang lebat setelah berhasil melarikan diri dari kuil cahaya. Napas mereka terengah-engah dan keringat mengalir di wajah mereka. Isabella, putri dari kerajaan Light City yang mereka selamatkan dari kuil tersebut, berdiri di tengah-tengah mereka, dengan tatapan penuh ketakutan.
Ethan mengusap peluhnya dan melihat sekeliling, memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda monster-monster penghuni kuil cahaya di sekitar mereka. Dia berbalik menghadap timnya. "Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Ethan dengan nada khawatir.
Sarah menjawab dengan cepat, "Ya, kami baik-baik saja. Tidak ada yang terluka parah." Dia menyeka luka ringan di lengannya dan melirik Isabella. "Bagaimana denganmu, Putri Isabella? Apakah kamu baik-baik saja? Kami di sini untuk melindungimu."
Isabella mengangguk, matanya masih penuh ketakutan. "Terima kasih, kalian semua. Aku... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tidak kalian yang datang menyelamatkanku." Suaranya gemetar saat dia berbicara.
Ethan menempatkan tangannya dengan lembut di pundak Isabella. "Kami akan menjagamu, Putri Isabella. Sekarang kita harus mencari tempat yang aman untuk beristirahat dan merencanakan langkah selanjutnya."
Mereka semua menyetujui saran Ethan dan mulai melangkah perlahan menuju dalam hutan. Bulan purnama terang menyinari jalannya mereka, memberi mereka sedikit penerangan di tengah kegelapan yang mengelilingi mereka.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat di bawah pohon besar yang rindang. Mereka duduk bersila di sekitar Isabella, yang masih tampak ketakutan namun mulai sedikit tenang.
David menatap Ethan dengan serius. "Apa yang akan kita lakukan sekarang, Ethan? Monster-monster di kuil itu pasti tidak akan berhenti mencari Putri Isabella. Mereka akan terus mengejar kita.”
Ethan menggaruk kepalanya, memikirkan langkah selanjutnya. "Kita harus mencari tempat perlindungan yang aman, di mana Putri Isabella bisa bersembunyi dan kita bisa mempertahankannya dari monster-monster itu. Setelah itu kita harus bergegas menuju ke Light City.”
Hanzel mengangkat tangannya, "Tapi bagaimana kita akan mencapai kota itu tanpa terlihat oleh monster-monster itu? Mereka tampaknya tahu ke mana kita pergi."
Maria memberi tahu mereka, "Aku punya ide. Mungkin kita bisa mencari jalan melalui terowongan bawah tanah. Monster-monster itu tidak akan dapat mengikuti kita di sana."
Gwyneth menambahkan, "Itu benar. Dan aku ingat ada terowongan tua di sebelah timur sini. Meskipun mungkin dalam kondisi yang buruk, itu bisa menjadi pilihan terbaik kita."
Ethan mengangguk setuju. "Baiklah, itu adalah rencana terbaik kita. Kita akan menuju terowongan itu dan mencoba mencapai kota. Tetapi kita harus bergerak cepat. Kita tidak boleh membuang waktu."
Mereka semua bangkit dari duduk dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Dengan hati berdebar-debar, kelompok tersebut memasuki terowongan bawah tanah yang gelap gulita. Langkah-langkah mereka bergema di dalam ruang sempit, menciptakan suara yang terdengar menggema. Mereka merasakan atmosfer yang berbeda di dalam terowongan, udara yang lembap dan kedinginan menyentuh kulit mereka.
Hanya cahaya kecil dari bulan purnama yang memberikan cahaya yang redup, tapi cukup untuk memberikan pandangan yang terbatas di sekitar mereka. Mereka berjalan beriringan, mengikuti jalur yang terbentuk di tanah. Terowongan itu mencekam dan sunyi, hanya suara langkah-langkah mereka yang terdengar di tengah keheningan. Ketegangan dan antisipasi tampak jelas di wajah mereka saat mereka terus berjalan ke dalam kegelapan yang tidak berujung.
Beberapa kali mereka harus melewati bagian yang sempit atau melewati reruntuhan yang menghalangi jalan mereka. Mereka berjuang untuk tetap tenang dan fokus, mengatasi ketakutan dan rasa terbatasnya ruang di sekitar mereka. Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dalam ke dalam terowongan yang misterius.
Akhirnya, setelah perjuangan yang panjang dan melelahkan, mereka melihat sinar cahaya samar-samar yang masuk melalui ujung terowongan. Harapan memancar di wajah mereka, dan langkah mereka menjadi semakin cepat. Dengan hati berdebar, mereka memasuki terowongan terakhir dan melintasi ambang batas antara kegelapan dan cahaya.
Cahaya bulan purnama yang terang menyambut mereka saat mereka keluar dari terowongan bawah tanah. Cahaya tersebut jatuh di balik puncak-puncak pohon, memberikan sorotan putih yang memancar di sekitar mereka. Udara segar dan semilir angin membelai wajah mereka, mengusir rasa lembab yang mereka rasakan di dalam terowongan. Dalam keadaan lelah dan penuh kelegaan, mereka memutuskan untuk berkemah di tepi sungai yang tenang. Api unggun yang hangat membakar kayu-kayu kering di tengah-tengah mereka, memberikan sedikit cahaya dan kehangatan di tengah kegelapan hutan yang lebat.
Mereka berkumpul di sekitar api unggun yang hangat, dikelilingi oleh kegelapan hutan yang lebat. Ethan duduk di antara mereka, memegang peta dan merencanakan rute perjalanan selanjutnya.
"Menurut peta ini, kita masih cukup jauh dari Light City," kata Ethan sambil menunjuk pada titik yang ditandai di peta. "Tapi kita harus terus maju. Putri Isabella, apakah kamu baik-baik saja?"
Isabella mengangguk dengan lembut, meski wajahnya masih mencerminkan kekhawatiran. "Aku baik-baik saja, Ethan. Aku merasa lebih aman bersama kalian. Terima kasih telah melindungiku."
Sarah tersenyum kepadanya. "Kami ada di sini untukmu, Putri Isabella. Kami tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu. Bersama-sama, kita akan sampai ke Light City."
Tim itu memasang tenda mereka dan bergotong-royong mempersiapkan makanan malam. Selama malam itu, tim itu bergantian berjaga dan beristirahat.
Saat malam itu, Ethan duduk di depan api unggun yang hangat, cahayanya menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di wajahnya. Namun, di dalam hatinya, kekhawatiran tentang kekuatannya yang tidak dapat dia kendalikan mulai mengganggu pikirannya. Dia memandang jauh ke dalam api unggun sambil bergumam pada dirinya sendiri.
“Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kekuatanku terus bertambah kuat, tetapi aku tidak dapat mengendalikannya sepenuhnya. Apa yang akan terjadi jika aku tidak mampu mengontrolnya? Aku takut melukai orang-orang terdekatku. Aku telah berlatih sekuat tenaga, mencoba menemukan cara untuk menguasai kekuatan ini. Namun, semakin lama, semakin terasa seperti aku tidak mampu melakukannya. Apakah aku gagal?” Batin Ethan.
Suara batinnya terdengar dalam keheningan malam, dan dia mencoba mencari jawaban di dalam dirinya sendiri.