
Dart mendekati mereka dengan langkah percaya diri, tersenyum dengan kepuasan di wajahnya. "Ini adalah akhir dari perjalananmu, Ethan. Moon Stone ini akan memberiku kekuatan yang tak terbendung."
Tiba-tiba, api mulai membara di sekitar Ethan. Ethan berdiri di tengah pusaran api yang membara, sementara sosok naga api yang mengerikan muncul di hadapannya. Mata Ethan yang menyala-nyala mencerminkan kekuatan yang baru ia sadari, dan dia merasakan semburan adrenalin yang melanda tubuhnya. Dia menyadari bahwa dia telah terhubung dengan roh naga api, dan saat ini kekuatan itu mengalir melalui dirinya.
Tanpa ragu, Ethan mengangkat tangannya ke atas, mengepalnya dengan erat. Sinar api meluncur dari telapak tangannya, membentuk bola-bola api yang mengambang di udara. Kekuatan api itu semakin kuat, semakin menggetarkan udara di sekitarnya.
Dengan pandangan terfokus, Ethan mengarahkan energi api ke arah Dart. Api-Api yang membara dan merah menyala meluncur menuju Dart dengan kecepatan kilat. Namun, kekuatan yang seharusnya dikendalikan oleh Ethan ini tiba-tiba menjadi tak terkendali.
Ketika bola-bola api itu mendekati Dart, mereka meledak dengan keras. Dentuman mengguncang tanah di sekitar mereka, menghancurkan bangunan-bangunan dan membangkitkan ledakan percikan api yang membara. Dart yang terkejut berusaha menghindar, tetapi serangan api itu sangat cepat dan memenuhi langit. Dart melompat ke samping, tetapi nyala api masih mengenainya, menimbulkan luka bakar di lengannya.
Ethan menyadari bahwa kekuatannya berlebihan, dan api yang tak terkendali mulai merusak sekitarnya. Kobaran api membakar rumput-rumput kering dan pohon-pohon di sekitarnya. Serpihan api terlempar ke udara, menciptakan ledakan-ledakan kecil yang menyala di langit.
Dart terkejut melihat kekuatan yang dipancarkan oleh Ethan. Dia merasakan ancaman yang besar dan mengerti bahwa dia harus berhati-hati. Dart melihat kesempatan untuk melarikan diri dengan Moon Stone yang dia miliki.
Dart melihat kesempatan emas di tengah kekacauan tersebut. Dalam keadaan terburu-buru, dia melihat kesempatan untuk melarikan diri dan mengambil Moon Stone yang berhasil direbutnya sebelumnya. Tanpa ragu, Dart memanfaatkan kekacauan dan kabur dari tempat itu.
Ethan, yang menyadari apa yang telah terjadi, berusaha mengendalikan api yang liar, tetapi semakin dia berusaha, semakin keras api itu menyala. Sarah, dengan keberanian yang tak tergoyahkan, berdiri di sisinya, mencoba memberikan dukungan dan ketenangan kepada Ethan.
"Ethan, fokuslah! Kau bisa mengendalikannya," seru Sarah dengan suara yang tegar. "Percayalah pada dirimu sendiri."
Ethan, dengan nafas terengah-engah, berusaha mengumpulkan kekuatan dan mengendalikan api yang melahap sekelilingnya. Dia memusatkan perhatiannya dan menemukan kedamaian di dalam dirinya. Dengan keberanian yang baru, Ethan mengarahkan energi api itu ke dalam dirinya sendiri, mengekang kekuatannya.
Lama kelamaan, api-api yang besar itu perlahan-lahan mereda, kembali menjadi api yang terkendali. Ethan, dengan kelelahan yang terpancar di wajahnya, tersadar akan apa yang telah terjadi. Dia menyadari bahwa sekarang ia tidak dapat mengendalikan kekuatannya.
Namun, ketika mereka melihat sekeliling, mereka menyadari bahwa Dart telah melarikan diri, membawa Moon Stone bersamanya.
"Sial!” seru Ethan dengan kekecewaan yang mendalam. "Kita kehilangan Moon Stone lagi."
Tiba-tiba saja pasukan monster menyerang mereka, dengan kekuatan tersisa ethan dan timnya berusaha melawan pasukan monster itu dan berusaha untuk keluar dari kuil cahaya.
Monster-monster itu terdiri dari makhluk-makhluk yang menakutkan, dengan kulit berduri, gigi tajam, dan mata yang menyala dengan api kegelapan. Mereka menggeram dan melolong, mengumandangkan ancaman nyata bagi Ethan dan timnya. Tapi tanpa ragu, Ethan melangkah maju dan mengeluarkan pedangnya yang berkilauan.
Sarah mengambil panah dari panahannya, melesatkannya dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Panah-panahnya menembus udara, mengenai monster-monster itu satu per satu, menyebabkan mereka meringis kesakitan. Maria berputar-putar dengan lincah, memanfaatkan pisau kecilnya dengan presisi yang mematikan, menusuk dan mengiris monster-monster itu.
David memegang tombaknya yang panjang, bergerak dengan kekuatan dan kecepatan yang mengejutkan. Tombaknya menusuk dengan kejam, meluncur ke arah musuh-musuhnya, menembus tubuh monster dan meninggalkan luka-luka parah di tubuh mereka. Hanzel menggerakkan tubuhnya dengan lincah, menggunakan ilmu bela diri yang tak tertandingi. Pukulannya cepat dan akurat, menghancurkan monster-monster itu dengan satu gerakan mematikan.
Gwyneth, dengan keahlian bertarung ganda, mengayunkan kedua pedangnya dengan cepat. Dia menari-nari di antara monster-monster itu, memotong mereka dengan gerakan yang cepat dan berbahaya. Setiap serangan yang dia lancarkan membawa maut, membuat monster-monster itu menjerit kesakitan saat darah mereka tumpah ke lantai kuil.
Gregor, dengan kekuatan Titan-nya, menghadapi monster-monster itu dengan tubuh yang besar dan perkasa. Dia melompat-lompat, menghancurkan monster-monster dengan tinjunya yang raksasa, menghempaskan mereka ke tembok-tembok kuil dengan kekuatan yang mengagumkan. Monster-monster itu tidak bisa menandingi kekuatannya, dan mereka berguguran satu per satu.
Namun, meskipun tim Ethan berjuang dengan penuh semangat, jumlah monster yang menyerang terus bertambah. Ethan menyadari bahwa mereka membutuhkan rencana yang lebih baik untuk melarikan diri.
Ethan dan timnya membentuk lingkaran di sekitar Isabella yang pingsan, melindunginya dari serangan monster-monster itu. Dengan sigap, mereka bergerak maju, melawan monster-monster itu dengan kemampuan dan tenaga mereka yang tersisa. Mereka saling melindungi satu sama lain, memastikan tidak ada celah bagi monster-monster itu untuk menyerang Isabella.
Serangan-serangan yang mereka lancarkan semakin efektif. Pedang Ethan berkelebat, panah Sarah terbang dengan kecepatan kilat, pisau Maria menyobek dengan ganas, tombak David menusuk dengan kejam, pukulan Hanzel menghancurkan, pedang Gwyneth memotong dengan presisi, dan kekuatan Titan Gregor menggemparkan.
Monster-monster itu mulai tersingkir satu per satu, tetapi mereka tak henti-hentinya datang. Waktu terus berjalan, dan ketegangan semakin meningkat. Namun, Ethan dan timnya tidak menyerah. Mereka bertahan dengan gigih, melawan dengan segenap kekuatan dan keterampilan yang mereka miliki.
Akhirnya, setelah pertarungan yang sengit, pasukan monster itu mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Monster-monster yang tersisa kewalahan dengan kekuatan dan keberanian Ethan dan timnya. Mereka merasa semakin terdesak, menyadari bahwa tak ada jalan lain selain melarikan diri.
Ethan mengambil kesempatan ini untuk memimpin timnya menuju pintu keluar kuil. Mereka berlari dengan kecepatan penuh, membawa Isabella yang pingsan di belakang mereka. Monster-monster itu berusaha mengejar, tetapi mereka kalah cepat.
Mereka melangkah dengan napas tersengal-sengal, Tim Ethan berlari keluar dari ruangan, melewati koridor-koridor gelap dengan kecepatan yang tinggi. Mereka melewati pasukan monster yang masih berusaha menghalangi mereka.