
Ethan dan timnya berlari keluar dari Benteng Nightshade, meninggalkan jauh di belakang mereka tempat yang penuh bahaya itu. Mereka merasa lega, tapi juga gelisah karena mereka tahu bahwa musuh mereka tidak akan diam saja setelah kemenangan mereka.
Saat mereka melintasi hutan, tiba-tiba suara-suara aneh terdengar di sekeliling mereka. Ada suara gemerisik, suara menyeret, dan suara suara aneh lainnya. Ethan memegang pedangnya dengan erat dan meminta timnya untuk bersiap-siap menghadapi ancaman apa pun yang mungkin muncul.
Tiba-tiba, sebuah pasukan penyihir jahat muncul dari balik pohon-pohon di sekeliling mereka. Para pasukan penyihir jahat itu memakai jubah hitam, memiliki tatapan mata yang gelap dan wajah yang menakutkan. Mereka terlihat akan siap menyerang.
"Mereka tidak membiarkan kita pergi begitu saja," ujar Sarah, sambil mengambil panah dari kotaknya.
"Mereka mungkin sudah mengawasi kita dari jauh. Kita harus berhati-hati," tambah Maria, mengambil pisau dari balik jubahnya.
Ethan dan timnya siap untuk bertarung dengan keras melawan pasukan penyihir itu. Mereka bergerak dengan cepat dan menghindari serangan yang dilemparkan ke arah mereka. Alex menggunakan tombaknya untuk melawan beberapa penyihir sambil Maria dan Sarah menyerang dari kejauhan dengan pisau dan panah mereka. Hanzel menggunakan ilmu bela dirinya untuk melumpuhkan sebagian besar penyihir.
Namun, pertempuran itu semakin sengit. Ada terlalu banyak penyihir, dan kekuatan mereka begitu kuat. Gwyneth, yang biasanya selalu tenang dan diam, terlihat terdesak dan mulai menyerang dengan pedangnya dengan ganas.
"Pertahanan yang kuat!" teriak Ethan, sambil menyerang penyihir lain.
Mereka terus bertarung dengan keras dan berjuang mati-matian melawan pasukan penyihir itu. Tetapi semakin lama, semakin jelas bahwa mereka akan kalah.
"Tidak akan ada akhirnya jika kita terus bertarung seperti ini!" kata Hanzel, bernapas cepat.
"Kita harus mencari jalan keluar!" ujar Sarah.
Ethan mengambil keputusan penting. "Sekarang!" Teriaknya, sambil memimpin timnya untuk lari.
Mereka melarikan diri secepat yang mereka bisa, sambil tetap menyerang penyihir di sekeliling mereka. Mereka berlari melewati pohon-pohon dan batu-batu besar, menghindari serangan musuh sebisa mungkin. Namun, penyihir itu terus mengejar dan menyerang mereka dari belakang.
Setelah berlari sejauh beberapa kilometer, Ethan dan timnya sampai di tepi sungai yang lebar dan dalam. Mereka melihat bahwa satu-satunya cara keluar adalah dengan menyeberangi sungai itu.
"Kita harus menyeberangi sungai ini!" ujar Gwyneth, sambil memegang pedangnya dengan kuat.
Namun, tiba-tiba, para penyihir itu mengeluarkan serangan terakhir mereka, melemparkan energi gelap dan mantra ke arah mereka. Ethan dan timnya berusaha menghindari serangan itu sebisa mungkin, tetapi beberapa dari mereka terkena serangan tersebut. Mereka merasa kelelahan dan hampir tidak mampu bergerak.
"Kita harus terus bergerak!" teriak Ethan, sambil mengayunkan pedangnya ke arah beberapa penyihir yang mendekat.
Mereka berlari menuju tepi sungai, sambil tetap berjuang dengan para penyihir yang mengejar mereka. Sarah menembakkan beberapa panah ke arah penyihir, sementara Alex menyerang mereka dengan tombaknya.
Tetapi semakin lama, semakin sulit untuk menahan serangan para penyihir itu. Mereka semakin dekat dengan tepi sungai, tetapi kekuatan mereka semakin melemah.
"Mari kita lompati sungai ini!" teriak Ethan, sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Tanpa ragu-ragu, mereka semua melompati sungai yang dalam itu. Mereka merasakan air dingin menyelimuti tubuh mereka, dan menerjang arus deras sungai tersebut.
Ketika mereka berhasil menyeberangi sungai, mereka merasa lega dan bersyukur. Mereka berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga dan bernapas dengan lega.
Namun, tiba-tiba mereka disergap oleh beberapa penyihir yang mengejar mereka. Para penyihir itu melompati sungai dan menyerang mereka dari belakang.
Ethan dan timnya kembali bertarung dengan hebat melawan para penyihir itu. Mereka saling menyerang dan menghindari serangan lawan dengan cepat. Kali ini, mereka lebih kuat dan lebih berhati-hati. Mereka bergerak dengan cepat dan presisi, menyerang para penyihir satu per satu.
"Kalian tidak akan menang!" teriak salah satu penyihir, dengan suaranya yang menakutkan.
"Kami tidak akan menyerah!" jawab Ethan, dengan suara yang tegas.
Pertempuran itu berlangsung dengan sengit, dan akhirnya, Ethan dan timnya berhasil mengalahkan semua penyihir itu. Mereka terengah-engah dan kelelahan, tetapi mereka merasa lega dan bersyukur karena berhasil melewati penghalang tersebut.
"Kita harus terus bergerak," kata Ethan, dengan suaranya yang lelah tetapi tegas.
Setelah melewati penghalang dari pasukan penyihir jahat, Ethan dan timnya terus bergerak menuju ke tempat yang lebih aman. Mereka berjalan di sepanjang sungai, melalui hutan yang lebat dan menuruni bukit yang curam. Namun, tiba-tiba mereka disergap oleh kelompok tentara bayaran lain.
"Kalian pikir kalian bisa lolos dari kami?" teriak seorang pemimpin tentara bayaran, sambil mengangkat pedangnya ke arah mereka.
Para tentara bayaran itu sangat berbeda dari musuh yang pertama kali mereka hadapi. Mereka lebih banyak, lebih berbahaya, dan lebih terorganisir. Ciri-ciri mereka terlihat jelas, mereka menggunakan armor yang tebal, helm yang menutupi wajah mereka dan senjata yang terlihat sangat tajam. Ada juga beberapa dari mereka yang menggunakan busur dan panah.
Pertempuran kembali terjadi, dan kali ini, lebih sulit dari sebelumnya. Kelompok tentara bayaran itu memiliki taktik yang lebih canggih dan jauh lebih banyak jumlahnya. Ethan dan timnya berjuang dengan gigih untuk bertahan hidup.
Sarah menembakkan beberapa panah ke arah tentara bayaran, sementara Alex menyerang mereka dengan tombaknya. Hanzel menggunakan ilmu bela dirinya untuk menyerang musuh dengan cepat dan menghindari serangan mereka. Maria meluncurkan pisau ke arah musuh dengan presisi yang luar biasa. Gwyneth menggunakan dua pedangnya untuk menyerang musuh dari dekat, memotong armor mereka dan menyerang bagian yang paling rentan.
"Pertahanan mereka terlalu kuat!" teriak Maria, sambil meluncurkan pisau ke arah musuh.
"Mereka menggunakan taktik yang berbeda!" tambah Hanzel, sambil melompati musuh dan menyerang mereka dari belakang.
Ethan dan timnya terus bertarung dengan hebat, tetapi semakin lama semakin sulit. Mereka merasa kelelahan dan terus-menerus diserang dari segala arah. Namun, mereka tidak menyerah. Mereka terus bertarung sampai titik darah penghabisan.
Namun, ketika pertarungan hampir berakhir, Sarah tiba-tiba terkena serangan dari salah satu tentara bayaran. Racun menyebar di tubuhnya dengan cepat, dan dia merasa lemah dan tak berdaya.
"SARAH!" teriak Ethan, sambil berusaha melindungi Sarah dari serangan musuh.
"Mereka menggunakan racun!" kata Alex, sambil membantu Sarah untuk bangkit.
"Mari kita bergerak secepat mungkin," ujar Maria, sambil menarik Sarah untuk bergerak.
Ethan dan timnya berlari secepat mungkin, tetapi mereka merasa sangat khawatir dengan Sarah. Mereka berusaha mencari tempat yang lebih aman untuk mengobati Sarah.
Setelah berlari sejauh beberapa kilometer, mereka menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di bawah tebing. Mereka memutuskan untuk memasuki gua tersebut dan mencari tempat untuk mengobati Sarah.
"Mari kita berhenti di sini untuk sementara waktu," kata Ethan, sambil menunjuk ke dalam gua.
"Mungkin ada air terjun di dalamnya," saran Maria, sambil melihat ke sekitar.
Mereka berjalan ke dalam gua, dan menemukan air terjun. Mereka segera membawa Sarah ke dekat air terjun, dan mulai mengobatinya. Hanzel mengambil beberapa tumbuhan obat di sekitar gua, dan membuat ramuan untuk membantu menghilangkan racun di tubuh Sarah.
"Aku merasa sangat lemas,” keluh Sarah, sambil terbaring di atas batu.
"Kita akan membawamu ke kota selanjutnya untuk mengobati lukamu,” ujar Ethan, sambil memegang tangan Sarah.
"Tidak, aku harus terus melawan musuh ini bersama kalian," balas Sarah, sambil mencoba untuk bangkit.
"Mereka sangat kuat, dan kita tidak bisa mengalahkan mereka sendirian," kata Alex, sambil memegang tombaknya.
"Mungkin kita perlu mencari bantuan," tambah Maria, sambil duduk di dekat Sarah.
"Mungkin, tapi kita tidak bisa meninggalkan Sarah seperti ini," ujar Ethan, sambil berpikir keras.
Ethan segera mengambil botol air putih dan merendam kain untuk membilas luka di tangan Sarah. Namun, rasa sakit Sarah semakin parah dan dia merintih kesakitan. "Sial, apa ini racun yang kuat," gumam Ethan.
Maria segera mengambil tas obatnya dan mulai mencari obat untuk membantu Sarah. "Ini, ambil ini," kata Maria sambil memberikan pil kepada Sarah, "Ini adalah obat penawar racun, ini harus segera diminum."
Sarah menggeliat kesakitan, tapi mencoba menelan obat itu dengan susah payah. "Rasanya pahit," keluh Sarah.
"Tenanglah, itu tanda bahwa obatnya bekerja," kata Hanzel sambil mencoba menenangkan Sarah. "Kamu akan merasa lebih baik dalam beberapa saat."
Namun, setelah beberapa menit, Sarah masih merintih kesakitan. "Sial, apa lagi yang bisa kita lakukan?" tanya Alex dengan penuh kekhawatiran.
Hanzel mulai merenung. “Kita harus membawa Sarah pergi dari tempat ini sekarang, sebelum terlambat.”
Ethan dan timnya menganggukan kepala mereka, Ethan mengangkat tubuh Sarah yang lemas dan segera bergerak diikuti okeh timnya yang lain. “Kami akan menyelamatkanmu, Sarah. Bertahanlah!”
…
Jangan lupa vote dan komen semuanya!!! Terima kasih. ❤️