
Ethan dan timnya siap untuk bertempur, tetapi mereka sadar bahwa mereka berada dalam situasi yang sulit. Pasukan tentara bayaran yang dipimpin oleh Kain adalah tentara yang sangat terlatih dan sangat berbahaya.
"Ethan, kita harus merencanakan sesuatu," kata Sarah, mencoba untuk tetap tenang.
"Ethan, aku bisa mencoba menggunakan ilmu bela diriku untuk menangani mereka," kata Hanzel.
"Kita perlu mencoba membuat mereka terbagi," kata Maria. "Jika kita bisa membuat mereka fokus pada beberapa orang saja, maka kita bisa menyerang mereka dari belakang."
Ethan mengangguk. "Kita harus melakukan apa pun yang perlu kita lakukan untuk bertahan hidup dan keluar dari sini dengan selamat," kata Ethan.
"Baiklah, mari kita mulai merencanakan," kata Gwyneth.
Ethan, Gwyneth, dan Hanzel membuat rencana sementara sementara Sarah, David, dan Maria siap untuk melawan.
Kain menatap mereka dengan senyum sinis. "Kalian terjebak di sini dengan kami, dan kalian tidak akan bisa keluar dari sini dengan selamat," katanya.
Ethan menarik pedangnya dan menatap Kain. "Kami akan melawan sampai titik darah penghabisan jika perlu," katanya.
Kain tertawa. "Kalian benar-benar yakin dengan kemampuan kalian? Saya pikir kalian semua hanyalah sekelompok pecundang yang mencoba meniru pahlawan," kata Kain.
Ethan meraih pedangnya dengan lebih erat lagi. "Kami bukanlah sekelompok pecundang, dan kami akan membuktikannya," kata Ethan.
Mereka melawan. Sarah, dengan cekatan mengambil panah dan busurnya membidikkan busur panahnya ke arah serangan musuh. Gwyneth mengikuti langkah Sarah, merapatkan kedua pedangnya dengan gesit.
Ketika pasukan musuh semakin dekat, David mengambil tombaknya dan memasang posisi siap tempur. Maria mempersiapkan diri dengan pisau belatinya, sedangkan Hanzel mengambil posisi dengan kedua tangannya siap bertarung. Gregor, yang berdiri paling belakang, memandang dengan mata melotot. Dia merasa tidak sabar untuk menunjukkan kekuatannya.
Serangan pertama datang dengan cepat. Pasukan musuh bergerak maju, mencoba menembus barisan pertahanan mereka. Sarah dan Gwyneth menghindari serangan mereka dengan mudah, bergerak dengan gesit dari sisi ke sisi untuk menghindari serangan musuh. Ethan, dengan pedangnya, berhasil membelah musuh pertamanya dengan cepat.
David maju, tombaknya menusuk dan mematikan dengan kecepatan cahaya. Maria bergabung dengannya, memotong pasukan musuh dengan pisau belatinya. Hanzel menghindari pukulan musuh dengan gerakan yang aneh, sebelum dengan mudah membalas serangan mereka.
Namun, pasukan musuh terus datang dan mereka mulai merasa kelelahan. Kain dan kelompoknya masih teguh berdiri, dan tampaknya mereka tidak akan mundur sedikit pun.
"Tidak bisa terus seperti ini," kata Ethan. "Kita harus mengubah taktik kita."
Sarah setuju. "Mereka terlalu banyak, kita tidak bisa bertarung secara langsung dengan mereka," katanya.
"Kita harus mencoba membuat mereka terbagi," kata Maria. "Kita perlu membuat mereka fokus pada beberapa orang saja, sehingga kita bisa menyerang dari belakang."
Ethan mengangguk. "Baiklah, mari kita coba," katanya.
Mereka membentuk formasi pertahanan, mempersiapkan diri untuk pertempuran. Hanzel dan David mengambil posisi di depan, sedangkan Sarah dan Gwyneth siap mengalihkan perhatian musuh dengan serangan panah dan pedang mereka.
Maria memanfaatkan kecepatannya untuk melewati barisan musuh dan masuk ke wilayah musuh. Dia menyerang pasukan bayaran dari belakang dengan pisau belatinya yang tajam. Gregor tetap berdiri di tengah-tengah, siap menahan serangan musuh yang datang dari segala arah.
Hanzel maju dengan gerakan yang cepat dan tajam, menggunakan teknik bela dirinya untuk menyerang musuh dengan kuat. David mengambil tombaknya dan mematikan musuh dengan kecepatan cahaya.
Sarah dan Gwyneth mengalihkan perhatian musuh dengan serangan panah dan pedang yang tepat sasaran. Sarah melesat maju dengan pisau kecilnya dan berhasil membunuh beberapa musuh yang terluka.
Gregor melihat musuh yang mendekat, dan dengan satu pukulan, dia menghancurkan pasukan musuh di depannya. Musuh mundur, terkejut dengan kekuatan titan yang dimiliki Gregor.
"Tuan Kain, mari kita menghabisi mereka sekarang," seru seorang tentara bayaran.
Kain mengangguk dan berkata, "Baiklah, saatnya kita mengakhiri permainan ini."
Tentara bayaran itu menyerang dengan sengit. Pasukan musuh semakin banyak, dan gerakan mereka semakin sulit untuk dihindari. Namun, kelompok pahlawan tidak menyerah. Mereka terus berjuang dan mencoba menemukan celah untuk meloloskan diri.
"Sudah cukup!" teriak Ethan, sambil mengayunkan pedangnya ke arah Kain.
Kain menangkis serangan Ethan dengan mudah. "Kalian memang hebat, tapi kalian belum cukup kuat untuk mengalahkan kami," kata Kain dengan senyum sinis.
Namun, serangan Ethan ternyata hanya merupakan tipuan. Sementara Kain sibuk menghadapi Ethan, Maria, Sarah, dan Gwyneth berhasil meloloskan diri dan mulai menyerang dari belakang. David dan Hanzel terus menghadapi pasukan musuh dengan sekuat tenaga.
Tiba-tiba, ada sebuah ledakan yang sangat kuat. Gregor menghancurkan sebuah bangunan besar dan membuat bumi bergetar. Ledakan itu membuat pasukan musuh goyah, dan kelompok pahlawan berhasil melarikan diri dari jebakan yang mereka hadapi.
Mereka berlari secepat yang mereka bisa. Pasukan musuh mengejar mereka dengan cepat. Kelompok pahlawan tahu bahwa mereka tidak akan bisa melarikan diri selamanya. Mereka harus menghentikan pasukan musuh sebelum terlambat.
Mereka mencapai sebuah sungai yang sangat besar. Di sebelah sungai, ada sebuah jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai. Mereka berlari ke jembatan dan memutuskan untuk menghadapi musuh di sana.
Pasukan musuh tiba dan menyerang dengan sengit. Namun, kali ini, kelompok pahlawan telah menyiapkan sebuah perangkap yang sangat cerdik. Mereka menghancurkan bagian dari jembatan sehingga hanya beberapa meter saja yang tersisa. Pasukan musuh terjebak dan jembatan pun ambruk, mengirim pasukan musuh ke dalam sungai yang deras.
Kelompok pahlawan belum berhasil melarikan diri. Kain dan kelompok tentara bayarannya yang masih tersisa terus mengejar Ethan dan timnya.
"Mari kita selesaikan ini," kata Ethan, secara tiba-tiba melesat cepat dan mengayunkan pedangnya ke arah Kain.
Kain mencoba untuk menghindari serangan itu, tetapi akhirnya, pedang Ethan berhasil menancap di dadanya.
Kain jatuh ke tanah dan kelompok pahlawan lainnya berhasil mengalahkan sisa kelompok tentara bayaran lainnya. Mereka mengepung Kain, sambil menatap matanya yang semakin pudar.
"Kalian memang hebat,” kata Kain dengan suara yang terengah-engah. "Tetapi, kalian belum tahu bahwa kemenangan ini hanyalah awal dari kekalahan kalian yang sebenarnya."
Ethan menatap Kain dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu?" tanya Ethan.
"Kalian mungkin telah mengalahkan pasukanku, tetapi kalian harus siap menghadapi seseorang yang telah membayarku dan juga pasukanku,” jawab Kain.
"Ethan, apa maksudnya?" tanya Gwyneth, sambil mengarahkan pandangannya ke arah Ethan.
Ethan memandang ke arah Kain. "Apa maksudmu?" tanya Ethan.
"Kalian akan segera tahu," kata Kain, sambil tersenyum sinis dan setelah itu tubuhnya tidak bergerak lagi dan tergeletak di tanah.
Setelah memastikan bahwa tidak ada lagi pasukan bayaran di sekitar, Ethan mengambil batu cahaya yang ada pada Kain.
"Apa yang akan terjadi dengan batu bercahaya ini?” tanya Sarah, sambil menatap ke arah Ethan.
"Batu bercahaya ini adalah kunci untuk menghentikan kekuatan jahat yang mengancam dunia atau bahkan sebaliknya,” jawab Ethan. “Kita tidak bisa membiarkan orang lain membawa batu ini pergi."
Namun, sebelum mereka dapat melakukan apa pun, mereka tiba-tiba diserang oleh pasukan baru yang dipimpin oleh seseorang yang sangat familiar yaitu ayah Ethan, Dart.