
Ethan dan timnya sedang melakukan perjalanan melintasi wilayah yang sangat berbahaya. Mereka bergerak dengan hati-hati, karena mereka tahu bahwa musuh mereka mungkin saja telah memasang perangkap di sepanjang jalan.
Setelah beberapa hari berjalan, kelompok itu memasuki sebuah lembah yang sangat indah, dengan air terjun yang menjulang tinggi dan pepohonan hijau yang rimbun. Namun, di dekat air terjun, mereka melihat seorang pria tua yang sedang duduk di bawah pohon besar.
"Pergi dari sini, anak-anak," kata pria itu dengan suara parau. "Ini adalah daerah berbahaya, dan kalian tidak akan selamat di sini."
"Tidak, kami harus terus melanjutkan perjalanan," jawab Ethan dengan tegas. "Kami punya misi yang harus diselesaikan."
"Percuma kalian pergi ke sana," kata pria tua itu sambil menggelengkan kepala. "Musuh kalian sudah menunggu di sana. Mereka sudah memasang banyak perangkap dan jebakan di sepanjang jalan. Kalian akan terperangkap dan tidak akan selamat."
"Kami tahu risikonya," kata Gwyneth dengan penuh semangat. "Tapi kami tidak akan mundur hanya karena ada bahaya. Kami akan terus maju sampai misi ini selesai."
Pria tua itu hanya menggelengkan kepala, namun ketika kelompok pahlawan itu mulai bergerak pergi, dia memberikan satu nasihat terakhir.
"Jangan pernah mengabaikan peringatan," katanya. "Kalian akan membayar mahal jika melakukannya."
Kelompok tersebut melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati setelah mengetahui bahwa daerah ini mungkin tidak aman. Mereka berjalan dengan mata tertuju ke tanah, memeriksa setiap langkah yang mereka ambil. Di sekitar mereka, hanya terdengar suara daun kering yang ditekan di bawah langkah kaki mereka.
Tiba-tiba, Hanzel merasakan keanehan di tanah yang ia injak. Dengan cepat, ia memberikan peringatan kepada yang lainnya. Mereka berhenti dan memeriksa tanah dengan seksama. Mereka menemukan sebuah lubang besar yang digali di tengah jalan dengan sangat rapi.
Lubang tersebut terlihat seperti perangkap yang sengaja digali untuk menghentikan orang-orang yang lewat. Ketika mereka memeriksa lebih dekat, mereka menemukan bahwa lubang tersebut ditutupi dengan daun-daun kering dan ranting-ranting pohon yang telah disusun dengan sangat hati-hati untuk menutupi lubang tersebut.
"Tidak masalah," kata Hanzel dengan percaya diri. "Aku bisa melewatinya dengan mudah."
Hanzel melompat ke udara dan melakukan gerakan yang rumit, melompat dan berguling di udara sebelum mendarat dengan mulus di seberang lubang.
"Keren sekali," kata David dengan mengagumi. "Tapi kita harus tetap waspada. Siapa tahu ada lagi yang menanti di depan."
Kelompok itu melanjutkan perjalanan mereka dengan hati-hati, menghindari setiap perangkap dan jebakan yang mereka temukan. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak perangkap dan jebakan yang mereka temukan. Beberapa di antaranya sangat sulit untuk dihindari.
Mereka menemukan jebakan berbentuk duri yang tersembunyi di balik semak-semak. Mereka perlu melintasi semak-semak tersebut dengan sangat hati-hati dan memeriksa setiap langkah mereka sebelum bergerak lebih jauh. Satu kesalahan saja bisa membuat mereka terjebak dalam duri-duri yang tajam dan menyakitkan.
Kemudian, mereka menemukan sebuah perangkap berisi air yang mendidih. Mereka merasa terkejut dan takut ketika melihat perangkap tersebut. Mereka tahu bahwa jika mereka terjebak di dalamnya, mereka akan mengalami luka bakar yang serius. Namun, mereka tetap tenang dan berusaha mencari jalan keluar. Setelah mengamati dengan seksama, mereka menemukan beberapa batu besar yang bisa mereka gunakan untuk membuat jembatan dan melewati perangkap tersebut.
Tidak hanya itu, kelompok itu juga menemukan jebakan berbentuk belatung yang sangat menjijikkan. Mereka merasa mual dan takut ketika melihat jebakan tersebut. Namun, mereka tahu bahwa mereka harus melawannya untuk bisa melewati lembah tersebut. Mereka menggunakan alat yang mereka bawa untuk mengatasi jebakan tersebut dan akhirnya berhasil melewatinya.
Mereka terus berjuang maju, melewati setiap perangkap dan jebakan yang mereka temukan. Mereka terus memeriksa sekitarnya dengan hati-hati dan bekerja sama untuk mencari cara terbaik untuk melewati setiap rintangan. Setelah beberapa jam berjalan, mereka berhasil sampai di sisi lain dari lembah yang berbahaya itu.
Tapi ketika mereka berjalan lebih jauh, suasana perjalanan mereka terasa semakin sunyi ketika mereka mendekati sebuah bukit yang nampak sepi dan gelap. Mereka berjalan dengan hati-hati dan siaga, memperhatikan sekeliling mereka dengan cermat. Namun, ketika mereka mencapai puncak bukit, mereka melihat sebuah benteng besar yang menjulang tinggi di depan mereka. Benteng itu dibangun dengan kokoh, dikelilingi oleh tembok tinggi yang terlihat sangat kuat. Di atas tembok, terdapat prajurit yang siap bertugas, menatap tajam ke arah mereka.
Mereka menyadari bahwa mereka telah memasuki wilayah musuh. Pasukan musuh yang menjaga benteng itu terdiri dari prajurit dan penyihir yang sangat kuat, mereka siap untuk melawan siapa saja yang mencoba masuk ke dalam benteng tersebut. Saat itu, mereka merasa sangat terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak memiliki senjata atau perlengkapan apapun untuk menghadapi musuh yang sedang mengintai mereka.
"Kita harus menemukan cara untuk masuk ke dalam benteng itu," kata Ethan dengan serius.
"Tapi bagaimana kita bisa melakukannya?" tanya Sarah, memandangi dinding tinggi yang menjulang di depan mereka.
"Kita akan melakukannya bersama-sama," jawab Hanzel, meletakkan tangannya di atas bahu Sarah dengan lembut. "Aku akan menyerang beberapa penjaga dan kemudian David akan memanjat dinding dengan bantuan Gwyneth. Kita akan menembus benteng bersama-sama."
"Kita tidak bisa mundur sekarang," kata Ethan dengan tegas. "Kita harus maju dan berjuang sampai akhir."
Ethan berdiri di garis depan dengan pedangnya yang panjang. Ia menyerang musuh dengan gerakan yang cepat dan tepat, memotong tubuh musuh dengan mudah. Sarah berada di belakang Ethan dan menembakkan panah ke arah musuh. Setiap panah yang ia tembakkan selalu tepat sasaran, sehingga membuat para musuh merasa takut dan tak berdaya.
David memegang tombak panjang dan menembus perisai musuh dengan mudah. Ia mengayunkan tombaknya dengan cepat dan presisi, melukai musuh dengan sangat parah. Maria bergerak dengan cepat dan menghindari setiap serangan musuh dengan kelincahannya yang luar biasa. Ia memegang pisau kecil di tangannya dan melukai musuh dengan serangan yang tajam dan cepat.
Hanzel menangkis setiap serangan musuh dengan kekuatannya yang luar biasa. Ia menghindari setiap serangan dan melawan balik dengan tendangan dan pukulan yang mematikan. Gwyneth memegang dua pedang yang tajam dan menggerakkan tubuhnya dengan cepat dan tepat. Ia memotong setiap musuh yang berani mendekat dengan cepat dan tepat.
Gregor menghancurkan musuh dengan kekuatannya yang luar biasa, memukul tanah dan menimbulkan gempa besar yang menghancurkan segalanya di sekitarnya. Setiap kali ia mengayunkan tangannya, musuh-musuhnya terlempar ke udara dengan kekuatan yang dahsyat.
"Kita berhasil," kata Ethan, tersenyum dengan bahagia.
Namun, tiba-tiba saja mereka melihat monster besar yang menakutkan. Monster ini lebih besar dari yang pernah mereka lihat, tingginya setidaknya lima meter, dengan kulit yang berwarna coklat kehitaman dan penuh dengan sisik. Matanya yang besar dan berwarna merah terlihat sangat menakutkan, terutama ketika berkilau dalam cahaya matahari. Rambut monster itu panjang dan berwarna merah, dan giginya yang tajam berkilau di dalam mulut yang besar.
Monster itu juga memiliki cakar yang tajam dan panjang, yang memungkinkannya untuk dengan mudah merobek apa saja yang menghalanginya. Sayapnya yang besar dan kuat memungkinkannya untuk terbang dengan cepat, dan ekornya yang panjang terlihat sangat kuat dan berbahaya. Suara monster itu menggema di seluruh hutan, dan membuat tanah berguncang ketika ia berjalan.
Kelompok pahlawan itu menyadari bahwa mereka sedang menghadapi monster yang lebih kuat dan lebih berbahaya dari yang pernah mereka hadapi sebelumnya.
"Kita belum pernah menghadapi monster seperti ini sebelumnya,” kata Sarah dengan ngeri. "Dia sangat kuat dan kejam, dan kita mungkin tidak mampu mengalahkan mereka."
"Kita tidak boleh menyerah," kata Ethan dengan tegas. "Kita harus terus maju dan berjuang sampai akhir."
Kelompok pahlawan itu menghadapi monster besar itu dengan gigih. Ethan bertarung dengan monster itu dari dekat. Dia menghindari serangan cakar monster dengan tangkas dan menghujamkan pedangnya dengan kekuatan penuh ke tubuh monster. Sarah berusaha menyerang monster dari jarak jauh. Dia mengeluarkan panah-panahnya dengan presisi yang luar biasa, membidik mata monster untuk mengalihkan perhatiannya dari teman-temannya.
David berlari ke arah monster dan mendorong tombaknya ke dada monster. Maria melompat ke belakang monster dan menusuknya dengan pisau yang tajam ke arah jantung monster. Hanzel menggunakan gerakan yang cepat dan tangkas untuk menghindari serangan monster dan menyerang dengan pukulan yang kuat. Gwyneth berlari ke sisi monster dan menggunakan kedua pedangnya untuk memotong sayap monster dan membuatnya kesulitan terbang.
Namun, monster itu ternyata lebih kuat dari yang mereka kira. Meskipun mereka telah melukai monster itu, ia terus maju dengan kekuatannya yang luar biasa. Gregor, yang memiliki kekuatan Titan, mencoba menyerang monster dengan tinjunya yang besar dan kuat. Namun, monster itu hanya tertawa dan melemparkan Gregor dengan mudah ke belakang.
Kelompok itu mulai merasa putus asa ketika mereka menyadari bahwa monster itu tidak akan mudah dikalahkan.
"Kita tidak bisa melawannya secara langsung," katanya. "Kita harus mencari cara untuk melemahkannya dan kemudian menyerang dengan cepat.”
Tiba-tiba saja ada sebuah panah yang ditembakkan ke mata monster itu membuat monster itu menggeram kesakitan.
Beberapa bayangan dengan cepat muncul dari balik semak-semak dan menyerang monster itu, bayangan-bayangan itu melompat dan menendang monster dengan tenaga yang sangat kuat membuat monster itu terjatuh.
Secara tiba-tiba sebuah batu besar jatuh ke arah kepala monster itu membuat kepala monster itu pecah dan dipenuhi darah segar.
Ethan dan timnya langsung bersiap untuk bertarung, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Tenang, kami hanya ingin membantu kalian.”
***
Komen, like dan votenya semua dan juga selamat hari raya idul fitri ya buat yang ngerayain, mohon maaf lahir dan batin.