The Abyssal Dungeon

The Abyssal Dungeon
Chapter 38



Setelah melalui perjalanan yang melelahkan dan pertarungan yang sengit, mereka mendekati pintu terakhir yang akan membawa mereka menuju suara ritual yang semakin kuat. Namun, saat mereka berusaha membuka pintu tersebut, mereka dihadang oleh Raksasa Baja, monster berukuran raksasa yang terbuat dari baja yang kuat. Monster ini memiliki tubuh yang besar dan kokoh, serta kekuatan yang luar biasa.


Raksasa Baja melangkah maju dengan langkah-langkah beratnya, mengguncang tanah di sekitarnya. Setiap pukulannya mampu menghancurkan benda di sekitarnya dengan mudah. Serangan monster tersebut terasa seperti gempa bumi, menggetarkan bumi di sekitar mereka.


"Menghadapi monster ini akan menjadi pertarungan terberat kita," kata Gregor, dengan suara tegas dan penuh keberanian. "Kita harus menemukan cara untuk menghancurkannya!"


Gregor, dengan kekuatan titan yang dimilikinya, melompat dengan lincah ke depan, mengalihkan perhatian Raksasa Baja yang mengamuk. Monster raksasa itu melontarkan serangan dengan tangannya yang besar, mencoba menghancurkan Gregor. Namun, Gregor dengan kecepatan dan kekuatan titan-nya berhasil menghindari serangan itu.


Dalam gerakan yang gesit, Gregor memukul monster dengan tinju titan yang dahsyat. Serangannya menggetarkan tubuh baja monster tersebut, membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah. Raksasa Baja mengeluarkan raungan marah, menunjukkan betapa kesakitan yang ia rasakan.


Sementara itu, David memanfaatkan tombaknya yang kokoh untuk menyerang titik lemah pada persendian Raksasa Baja. Dengan gerakan yang terampil, ia meluncur maju, mengarahkan tombaknya tepat ke sasaran. Tombaknya menembus lapisan baja monster itu dan menimbulkan kerusakan yang signifikan.


Namun, mereka menyadari bahwa senjata-senjata biasa sulit menembus kekuatan baja yang kuat dari Raksasa Baja. Ethan, yang memegang pedangnya dengan mantap, menyadari bahwa mereka memerlukan kekuatan yang lebih besar. Ia melangkah maju dan bergabung dengan Gregor, mengayunkan pedangnya dengan keahlian yang luar biasa. Pedang Ethan menebas dengan gaya yang mempesona, tetapi baja monster itu hanya tergores sedikit.


Ethan, mencoba menganalisis kelemahan Raksasa Baja. "Kita harus mencari celah pada tubuhnya yang terbuat dari baja. Itu mungkin satu-satunya cara untuk melawannya."


Hanzel, Gwyneth, dan Maria segera bergabung dalam upaya mencari cara untuk mengalahkan monster yang sulit ditaklukkan itu.


Ethan, yang tetap berdiri teguh dengan pedangnya, menyadari bahwa mereka perlu mengakhiri pertarungan ini dengan cepat. Dengan mata yang berbinar penuh tekad, ia melangkah maju dan mengumpulkan kekuatan dalam pedangnya.


Sementara itu, Gregor mencoba mengambil peran yang lebih aktif dalam pertempuran ini. Ia melontarkan dirinya dengan kecepatan tinggi, melompat dan mendarat di dekat Raksasa Baja. Dengan gerakan yang lincah, ia mengayunkan tinjunya dengan kekuatan penuh, menghantam monster itu dengan pukulan yang memilukan.


Tindakan ini memberikan kesempatan bagi David untuk beraksi. Dengan tombaknya yang kokoh, ia menyerang titik lemah pada tubuh monster yang terbuka akibat serangan-serangan sebelumnya. Tombaknya menusuk dengan keras, merobek dan menghancurkan lebih banyak bagian lapisan baja Raksasa Baja.


Ketika monster itu mencoba melawan, Sarah dengan cepat memanfaatkan keahliannya dalam memanah. Panah-panahnya melesat dengan kecepatan kilat, menghujani tubuh monster baja dengan serangan mematikan. Beberapa panah menembus sasaran, menimbulkan luka yang dalam dan memperparah keadaan Raksasa Baja.


Hanzel, dengan ilmu bela dirinya yang tinggi, mengambil peran penting dalam menghadapi monster ini. Dengan gerakan yang cepat dan lincah, ia mengelilingi Raksasa Baja, menghindari serangan-serangannya yang dahsyat. Dalam serangan balik yang terampil, Hanzel berusaha melumpuhkan monster dengan serangkaian pukulan dan tendangan yang cepat dan akurat.


Gwyneth, dengan kedua pedangnya yang berputar-putar dengan cepat, meluncur maju dengan kegrasian yang mempesona. Ia memotong dan menusuk tubuh Raksasa Baja dengan gerakan yang tajam dan presisi. Setiap serangannya menimbulkan goresan dan luka pada tubuh baja monster tersebut.


Semakin terdesak, monster itu mengeluarkan raungan kemarahan terakhirnya. Mengumpulkan kekuatan terakhirnya, ia melancarkan serangan terakhirnya pada tim yang berani ini. Namun, tim tersebut tidak membiarkan diri mereka terpukul mundur. Dengan upaya terakhir, mereka menghindari serangan dan melawan balik dengan kekuatan dan tekad yang sama.


Dalam serangan gabungan yang memukau, mereka melancarkan serangan akhir pada titik yang paling lemah pada tubuh monster itu. Pedang, tombak, panah, pisau, pukulan, dan tendangan bergulung bersamaan, menghujani Raksasa Baja dengan serangan yang tidak bisa ditahan lagi. Tubuh monster itu gemetar, lapisan baja retak dan hancur, hingga akhirnya Raksasa Baja jatuh ke tanah.


"Hore! Kita berhasil mengalahkannya!" seru Maria dengan riang.


"Sekarang kita dapat melanjutkan menuju ritual terakhir," kata Ethan dengan suara penuh keyakinan.


Mereka melihat satu sama lain dengan rasa percaya diri yang tinggi.


"Kita telah melewati banyak hal bersama. Bersama-sama, kita akan mengalahkan Dart dan menyelamatkan Isabell,” kata Hanzel, sambil memandang keempat temannya dengan mata penuh semangat.


Dengan semangat yang menggebu-gebu, mereka membuka pintu terakhir dan memasuki ruangan tempat ritual berlangsung.


Saat mereka mencapai ruangan terakhir, mereka melihat Isabella terikat dan dikelilingi oleh beberapa penyihir pengikut Dart yang mengenakan jubah hitam. Di tengah mereka, Dart mengenakan pakaian khusus dan memegang sebuah mangkuk persembahan untuk Moon Stone.


"Tidak ada waktu lagi!" ujar Ethan dengan tekad. "Kita harus bertindak sekarang juga!"


Dengan keputusan yang cepat, Ethan dan timnya bersiap meluncurkan serangan mereka secara bersamaan. Mereka memahami bahwa waktu menjadi faktor kunci, dan mereka harus bertindak cepat untuk membebaskan Isabella dan menghadapi Dart.


Ethan dan David berdiri tegak, siap untuk melawan penyihir jahat yang mengelilingi mereka. Ethan memegang pedangnya yang tajam, kilat menyala di ujungnya, siap untuk memotong semua musuh di depannya. Sementara itu, David menegakkan tombaknya yang kokoh, ujungnya bersinar dengan sinar biru yang memancarkan kekuatan yang luar biasa.


Dengan tatapan tajam, mereka melompat maju menyerang penyihir-penyihir jahat itu. Serangan penyihir jahat datang dari segala penjuru, melemparkan mantra gelap. Namun, dengan kecepatan dan ketepatan gerakan yang membingungkan, Ethan dan David dengan cekatan menghindari serangan-serangan mematikan tersebut.


Ethan mengayunkan pedangnya dengan gerakan yang lincah dan cepat. Setiap tebasan membawa hujan percikan api yang menyala-nyala, membelah udara dan menghancurkan setiap musuh yang berani mendekatinya. Dia menghindari bola api yang dilontarkan oleh salah satu penyihir jahat dengan melompat ke samping, kemudian dengan kecepatan kilat, dia berputar di udara dan mendaratkan pukulan yang menghempaskan penyihir jahat itu ke dinding.


Sementara itu, David menggunakan tombaknya dengan keahlian yang memukau. Dia menyerang dengan pukulan yang keras dan berayun, melawan setiap serangan yang datang ke arahnya. Tombaknya melintasi udara dengan gesekan yang tajam, menghantam musuh-musuhnya dan mengirim mereka terpental ke sisi lain ruangan. Ketangguhan dan kekuatan David membuat para penyihir jahat ragu-ragu dan ketakutan.